post image
KOMENTAR

Bandara Hamburg (Hamburg Airport / HAM) di Jerman utara memegang predikat istimewa sebagai bandara komersial tertua di dunia yang masih beroperasi secara berkelanjutan hingga saat ini. Didirikan sejak Januari 1911, kawasan ini telah melayani lalu lintas penerbangan komersial bahkan sebelum kapal Titanic tenggelam. Menariknya, sejarah awal bandara ini tidak dimulai dari tiket penerbangan pesawat bersayap, melainkan dari pengoperasian wahana balon udara raksasa atau Zeppelin.


Akar berdirinya bandara ini bermula pada Maret 1910 saat Count Ferdinand von Zeppelin memaparkan masa depan komersial pesawat udara kaku di hadapan publik Hamburg. Tertarik dengan potensi tersebut, sejumlah investor lokal mendirikan Hamburger Luftschiffhallen GmbH pada 10 Januari 1911 dan mengalokasikan lahan seluas 45 hektare di dekat desa Fuhlsbüttel untuk mendirikan hanggar besar. Fasilitas ini terhubung dengan DELAG, maskapai penerbangan komersial pertama di dunia yang menawarkan wisata udara menggunakan balon gas hidrogen.

Masa kejayaan Zeppelin di Hamburg berlangsung singkat karena kendala biaya, kecepatan, serta sifat gas hidrogen yang sangat mudah terbakar. Saat Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, militer Jerman mengambil alih lapangan Fuhlsbüttel, dan hanggar aslinya hancur sebelum perang berakhir pada 1918. Perjanjian Versailles yang membubarkan program pesawat kaku Jerman sempat membuat fungsi utama lapangan ini lenyap sebelum genap berusia satu dekade.

Kendati demikian, Fuhlsbüttel segera bangkit dan bertransformasi menjadi bandara pesawat terbang modern dengan dibukanya kembali penerbangan berjadwal pada 1919. Pada tahun 1920, maskapai Belanda KLM meresmikan rute internasional perdananya yang menghubungkan Rotterdam, Amsterdam, Hamburg, dan Kopenhagen. Meskipun pada tahun 1920 bandara ini hanya mencatat 241 penumpang, perkembangannya melesat hingga akhirnya membuka gedung terminal terpadu pertama pada tahun 1929.

Ketika Perang Dunia II meletus, Luftwaffe kembali mengambil alih Fuhlsbüttel untuk kepentingan pertahanan udara dan basis pesawat intai jarak jauh. Meski kota Hamburg hancur lebur akibat serangan bom Sekutu dalam Operation Gomorrah, pangkalan Fuhlsbüttel berhasil bertahan utuh berkat kamuflase jaring dan pepohonan buatan. Pasukan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) kemudian mengambil alih kendali bandara ini pada Mei 1945 setelah Jerman menyerah.

Di bawah administrasi Inggris (1945–1950), Bandara Hamburg memainkan peran krusial dalam operasi bersejarah Berlin Airlift (1948–1949). Landasan pacu yang awalnya dirancang untuk wisata balon udara beralih fungsi menjadi titik peluncuran pesawat kargo Sekutu—dikenal sebagai raisin bombers—yang membawa pasokan makanan dan batu bara ke Berlin Barat yang diblokade Uni Soviet.

Setelah kendali dikembalikan ke otoritas lokal pada tahun 1950, bandara ini memasuki era jet komersial yang pesat. Maskapai nasional Jerman, Lufthansa, memulai kembali operasi domestik dan rute transatlantik ke New York dari Hamburg pada 1955. Kedatangan armada jet Boeing 707 pada 1960 serta pendaratan perdana pesawat berbadan lebar Boeing 747 pada 1970 mendorong pengelola memperkuat apron dan memasang jembatan garbarata (passenger boarding bridge) pertama di bandara tersebut.

Untuk mengantisipasi lonjakan lalu lintas udara modern, pengelola menjalankan program revitalisasi besar bertajuk HAM21 dari tahun 2001 hingga 2009 dengan investasi mencapai 356 juta euro. Proyek ini membangun dua terminal penumpang modern, stasiun kereta bawah tanah (S-Bahn), serta struktur parkir bertingkat yang memungkinkan Bandara Hamburg melayani hingga 14 juta penumpang per tahun sekaligus siap menyambut pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380.

Secara teknis, lapangan terbang tertua di dunia yang masih beroperasi adalah College Park Airport di Maryland, Amerika Serikat (dibangun 1909). Namun, College Park saat ini berstatus bandara penerbangan umum (general aviation) dengan landasan pendek untuk pesawat latih ringan. Sementara itu, rival Eropa lainnya seperti Bandara Tempelhof di Berlin telah ditutup permanen pada 2008 dan Paris-Le Bourget beralih menjadi bandara jet bisnis, menjadikan Hamburg satu-satunya bandara tertua yang masih aktif melayani maskapai komersial reguler.

Kunci keberhasilan Bandara Hamburg mempertahankan gelar tertua di dunia terletak pada kemampuannya beradaptasi secara dinamis tanpa terjebak sebagai relik sejarah semata. Mulai dari hanggar Zeppelin, pangkalan militer, pangkalan logistik Berlin Airlift, hingga hub jet modern, bandara ini terus berinovasi termasuk melalui penyediaan infrastruktur bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel / SAF) demi menghadapi era penerbangan rendah karbon di masa depan.


Kisah Armada “PRU Spitfire”: Pesawat Intai Legendaris Perang Dunia II Berbalut Warna Unik

Sebelumnya

Insiden Buffalo yang Dikenang sebagai Tragedi Langit Golan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Histoire