post image
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla, menyampaikan pandangan strategis negaranya dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 tahun 2026.
KOMENTAR

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla, menyampaikan pandangan strategis negaranya dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 tahun 2026. Di hadapan para pemimpin dunia dan delegasi yang hadir, ia menekankan bahwa kelompok negara-negara berkembang ini memiliki potensi besar untuk menjadi jangkar perdamaian global.

Menurut Rodríguez Parrilla, BRICS memegang kunci penting dalam mewujudkan keamanan yang inklusif bagi seluruh bangsa. Kelompok ini dinilai mampu mendorong pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial, serta kemajuan nyata bagi negara-negara di Kawasan Selatan Global atau Global South.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberadaan BRICS sangatlah indispensable atau tidak tergantikan. Peran kolektif ini krusial dalam proses membangun arsitektur internasional yang baru, yang jauh lebih adil, demokratis, dan menjunjung tinggi prinsip multilateralisme.

Fondasi dari tatanan internasional baru tersebut, menurut Menlu Kuba, haruslah berpijak pada prinsip kesetaraan berdaulat antar-negara. Selain itu, kepatuhan mutlak terhadap hukum internasional menjadi syarat mutlak yang tidak boleh ditawar dalam percaturan politik global masa kini.

Dalam pidatonya, Rodríguez Parrilla juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk secara tegas melawan apa yang ia sebut sebagai "filosofi pelucutan dan perampasan". Perlawanan ini dinilai mendesak agar dunia dapat menghentikan lingkaran setan "filosofi perang" yang terus mengganggu stabilitas era modern.

Ia mengingatkan kembali peringatan historis yang pernah disampaikan oleh Panglima Tertinggi Kuba, Fidel Castro Ruz, tepat 66 tahun yang lalu. Pesan tersebut dinilai masih sangat relevan dalam membaca dinamika geopolitik global hari ini yang sarat dengan ketegangan militer.

Kritik tajam turut diarahkan pada doktrin kebijakan luar negeri kontemporer yang mengusung konsep "perdamaian melalui kekuatan" (peace through strength). Bagi Havana, pendekatan semacam ini justru memicu eskalasi konflik dan memperparah ketidakpercayaan antar-negara.

Penerapan konsep kekuatan militer yang berlebihan tersebut, lanjut Rodríguez Parrilla, kini termanifestasikan dalam berbagai bentuk agresi nyata. Ia menyoroti bagaimana korolari imperialis yang agresif dan penuh kekerasan terus mengancam kedaulatan berbagai bangsa yang lemah.

Kehadiran Kuba dalam forum strategis ini sekaligus menegaskan komitmen diplomatik mereka untuk terus bersuara bersama negara-negara berkembang lainnya. Mereka berupaya menggalang solidaritas internasional guna membendung dominasi hegemonik yang merugikan kepentingan dunia ketiga.

Melalui momentum KTT BRICS 2026 ini, Kuba berharap aliansi ekonomi dan politik tersebut dapat memperkuat posisinya sebagai kekuatan penyeimbang. Dengan demikian, cita-cita luhur mengenai tatanan dunia yang damai, setil, dan berkeadilan dapat segera terwujud secara nyata.


Seperempat Abad 9/11, Transformasi Panjang Menjaga Langit Amerika

Sebelumnya

Prabowo di KTT BRICS: Bersatu Kita Teguh…

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia