post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) secara resmi memensiunkan salah satu pesawat tanker paling andal dan berkapasitas besar di armadanya, yakni McDonnell Douglas KC-10 Extender. Keputusan ini menandai akhir era bagi pesawat berbadan lebar bermesin tiga yang telah beroperasi selama 43 tahun sejak pertama kali bertugas pada tahun 1981.

Namun, langkah pensiun ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat militer dan aviasi. Banyak pihak mengkritik bahwa pengganti KC-10, yaitu Boeing KC-46 Pegasus, justru merupakan sebuah "penurunan kualitas" (downgrade) dari segi kapasitas murni dan kapabilitas strategis.

Selama masa baktinya, KC-10 Extender dikenal sebagai pengganda kekuatan (force multiplier) yang luar biasa. Berbasis dari pesawat komersial ikonik McDonnell Douglas DC-10, pesawat ini tidak hanya berfungsi sebagai pengisi bahan bakar di udara, tetapi juga memiliki kapasitas angkut strategis yang masif.

Dalam sejarah operasionalnya, KC-10 sering dijuluki sebagai "pesawat induk" (mothership). Pesawat ini mampu membawa seluruh skuadron jet tempur, lengkap dengan staf pemeliharaan dan suku cadangnya, melintasi samudera dalam satu perjalanan tunggal tanpa memerlukan bantuan eksternal.

Peran KC-10 terbukti sangat krusial dalam berbagai konflik besar, termasuk Perang Teluk, di mana pesawat ini mempercepat pembangunan kekuatan militer di Arab Saudi. Selain itu, pesawat ini juga mendukung misi NATO di Yugoslavia serta operasi militer di Timur Tengah seperti Enduring Freedom dan Iraqi Freedom.

Di sisi lain, penggantinya yaitu Boeing KC-46 Pegasus masih menghadapi jalan terjal akibat berbagai masalah teknis yang pelik. Problem pada sistem inti, boom pengisian bahan bakar, hingga teknologi kamera jarak jauh membuat program KC-46 mengalami penundaan serta pembengkakan biaya yang signifikan.

Akibat kendala-kendala tersebut, pemesanan KC-46 sempat dihentikan sementara, memaksa USAF untuk mempertahankan armada uzur Boeing KC-135 Stratotanker melebihi jadwal pensiun semula demi menjaga tingkat kesiapan tempur.

Kendati demikian, Boeing membela bahwa KC-46 Pegasus dirancang sebagai pusat data untuk medan perang masa depan. Pesawat ini dibekali kemampuan untuk mengirim dan menerima data tempur secara real-time, serta dilengkapi sensor panas dan teknologi penglihatan malam yang canggih.

Secara spesifikasi teknis, KC-10 sebenarnya jauh unggul dalam hal daya angkut bahan bakar dan kargo dibandingkan KC-46 maupun KC-135. KC-10 mampu membawa bahan bakar hingga 356.000 pon dan muatan kargo seberat 170.000 pon, angka yang jauh melampaui kapasitas maksimal yang ditawarkan oleh Pegasus.

Meskipun KC-46 diproyeksikan membawa teknologi modern yang lebih fleksibel untuk pertempuran masa kini, pensiunnya KC-10 tetap diratapi oleh banyak kalangan. Hilangnya sang raksasa tri-jet dianggap sebagai sebuah kehilangan besar terhadap kapabilitas logistik jarak jauh Angkatan Udara Amerika Serikat.


F-16 Milik AS Alami Kecelakaan di Jerman, Hancur Total Karena Benturan

Sebelumnya

TNI Fair 2026 Disambut Antusias Warga

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer