Pergerakan pasar keuangan tidak selalu berjalan seirama dengan kondisi di sektor riil. Fenomena yang kerap disebut sebagai de-coupling atau perpisahan jalan antara main street (sektor riil) dan Wall Street (pasar keuangan) ini kembali mencuat di tengah dinamika ekonomi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh peneliti InFast Bestari, Gede Sandra, kepada para wartawan di Jakarta, Senin (2/11/2026). Ia menanggapi gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari Senin yang sempat terdorong turun sebesar 1 persen pada pembukaan hingga menyentuh level di bawah 5.000, sebelum akhirnya berbalik menguat (rebound) dan bertengger di level 5.067 pada pukul 10.30 WIB.
Gede menjelaskan, ketidaksinkronan antara pasar saham dan sektor riil dapat dilihat dari data ekonomi jangka panjang. Berdasarkan olahan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode 2018 hingga 2026, terjadi pergeseran struktur sosial-ekonomi masyarakat. Jumlah kelas atas turun dari 1,1 juta jiwa menjadi 1,05 juta jiwa (susut 500 ribu jiwa), kelas menengah merosot tajam dari 59,5 juta jiwa menjadi 42 juta jiwa (anjlok 17 juta jiwa), sementara masyarakat rentan miskin justru melonjak dari 53,3 juta jiwa menjadi 74,8 juta jiwa (naik 21,5 juta jiwa).
"Pada periode yang sama dengan kejatuhan kelas-kelas ekonomi di masyarakat tersebut, secara tren malah terjadi peningkatan di pasar saham. Nilai IHSG dari titik terendah di 5.756 pada 12 Oktober 2018 sampai ke titik tertinggi 8.936 pada 9 Januari 2026, atau naik 55 persen," ungkap Gede.
Kendati pasar saham bergejolak, sektor riil diproyeksikan tetap menunjukkan ketahanan yang ekspansif. Gede memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 akan berada di kisaran 5,4 persen, meningkat dibanding capaian kuartal III-2025 yang berada di level 5,04 persen.
Optimisme tersebut terutama didorong oleh ekspansi kredit perbankan nasional yang tercatat melesat hingga 13,26 persen pada September 2026. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 7,7 persen.
Secara lebih rinci, lonjakan paling mencolok terlihat pada kredit investasi yang melompat dari 15,1 persen pada kuartal III-2025 menjadi 23 persen pada kuartal III tahun ini. Selain itu, kredit modal kerja juga mengalami kenaikan tajam dari 3,3 persen menjadi 11,8 persen dalam periode yang sama.
Selain sektor perbankan, momentum pertumbuhan juga ditopang oleh kinerja sektor manufaktur yang solid. Hal ini tercermin dari Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index / PMI) manufaktur Indonesia pada September dan Oktober 2026 yang masing-masing berada di level 52,4 dan 54,0 poin, lebih ekspansif dibanding periode yang sama tahun lalu yang masing-masing tercatat sebesar 50,4 dan 51,2 poin.
Namun demikian, Gede mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen saja belum memadai untuk meredam tekanan terhadap kelas menengah. Menurutnya, hal inilah yang memicu kritik dari kelompok kelas menengah terhadap kinerja pemerintah, lantaran mereka merasa belum sepenuhnya menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang dinilai kurang cepat.
Untuk "menggemukkan" kembali kelas menengah, perekonomian nasional dinilai membutuhkan tingkat pertumbuhan minimal 6 persen. Berdasarkan catatan historis pascareformasi, pencapaian pertumbuhan di atas 6 persen—seperti yang terjadi pada tahun 2007, 2008, 2010, 2011, and 2012—mensyaratkan rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional berada di atas angka 20 persen.



KOMENTAR ANDA