Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) akhirnya merilis laporan akhir yang mengungkap penyebab di balik insiden Dutch roll yang dialami oleh pesawat Boeing 737-8 MAX milik Southwest Airlines. Peristiwa yang sempat menghebohkan industri penerbangan ini ternyata berakar dari kerusakan struktural akibat terjangan badai hebat berminggu-minggu sebelumnya.
Insiden utama tersebut terjadi pada 25 Mei 2024, ketika Penerbangan Southwest 746 yang melayani rute dari Phoenix menuju Oakland tiba-tiba mengalami goyangan ekstrem di udara. Pesawat yang mengangkut 175 penumpang dan 6 kru itu mendadak bergoyang dari sisi ke sisi atau yang dikenal sebagai Dutch roll pada ketinggian jelajah 34.000 kaki.
Meskipun pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Oakland tanpa ada korban luka, investigasi mendalam langsung diluncurkan untuk mencari tahu penyebab anomali kemudi tersebut. Berdasarkan data penerbangan, kemudi pesawat sempat berosilasi secara tidak normal, membuat pilot merasakan langsung pergerakan pedal kemudi di kokpit.
Hasil investigasi NTSB menyimpulkan bahwa akar permasalahan bermula pada malam tanggal 16 Mei 2024. Saat itu, pesawat dengan registrasi N8825Q tersebut sedang parkir di area terbuka (remote stand) di Bandara Internasional New Orleans ketika badai petir dahsyat melanda kawasan tersebut.
Stasiun cuaca setempat mencatat embusan angin kencang mencapai 73 knot atau sekitar 84 mph (135 km/jam) di tengah status peringatan tornado. Karena sistem kemudi Boeing 737 tidak dilengkapi dengan kunci pengaman angin (gust lock) pada unit tenaga cadangannya, angin ekstrem tersebut menghantam dan memicu kerusakan internal pada struktur ekor pesawat.
Tekanan angin yang luar biasa kuat itu dilaporkan meretakkan bagian rusuk (ribs) penyangga unit Standby Rudder Power Control Unit (PCU) di bagian stabilizer vertikal. NTSB menggolongkan kerusakan struktural ini sebagai kerusakan substansial yang luput dari perhatian awal karena ketiadaan protokol pelaporan otomatis.
Pihak maskapai dituding melewatkan kesempatan emas untuk mendeteksi kerusakan tersebut sebelum berubah menjadi ancaman keselamatan. Pasalnya, setelah hantaman badai di New Orleans, pesawat tersebut sempat dioperasikan dalam 38 penerbangan berikutnya tanpa ada laporan masalah kendali kemudi dari para pilot.
Peluang kedua yang terlewat terjadi pada tanggal 23 Mei 2024 saat pesawat menjalani pemeriksaan rutin terjadwal (A Core Check) di Houston. Dalam pengujian sistem hidrolik cadangan tersebut, teknisi menandatangani bahwa tes telah lulus, padahal rekaman video keamanan hangar menunjukkan pergerakan kemudi yang tidak normal dan tidak dipantau secara langsung dari dekat.
Puncak dari rangkaian kelalaian ini terjadi pada penerbangan ke-44 pasca-badai di atas wilayah California, di mana gejala Dutch roll akhirnya muncul secara nyata. NTSB mengkritik celah dalam manual pemeliharaan Boeing yang sebelumnya tidak memberikan batasan kecepatan angin minimum yang jelas untuk mewajibkan inspeksi pasca-badai.
Sebagai tindak lanjut dari temuan ini, regulator dan pabrikan kini memperketat aturan keselamatan penerbangan, termasuk penerapan ambang batas inspeksi angin kencang yang lebih ketat. Southwest Airlines juga didorong untuk memperbarui sistem peringatan internal agar setiap armada yang terpapar cuaca ekstrim langsung mendapatkan pemeriksaan khusus sebelum diizinkan terbang kembali.



KOMENTAR ANDA