Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BUKU monumental karya Ian Morris, “Why the West Rules—For Now: The Patterns of History and What They Reveal About the Future”, menawarkan salah satu kerangka kerja paling ambisius dalam historiografi modern untuk memahami dinamika kekuasaan global. Alih-alih melihat sejarah sebagai rentetan peristiwa acak atau pertentangan budaya yang sempit, Morris membedah evolusi peradaban manusia melalui kacamata sains, geografi, dan sosiologi kuantitatif.
Pijakan analitis paling fundamental yang dibangun Morris adalah apa yang ia sebut sebagai Social Development Index (Indeks Pembangunan Sosial). Indeks ini dirancang secara sistematis untuk mengukur kapasitas sebuah peradaban dalam menguasai lingkungan fisik dan sosialnya guna mencapai tujuan-tujuan kolektif.
Terdapat empat pilar utama atau ukuran yang membentuk indeks pembangunan sosial tersebut, yaitu: perolehan energi per kapita (energy capture per capita), kemampuan organisasi sosial dan ukuran kota (organization), kapasitas teknologi informasi dan pencatatan (information technology), serta kecanggihan teknologi perang (war technology). Dengan menggunakan keempat indikator ini, Morris melacak naik turunnya peradaban Barat (Eropa dan Amerika Utara) dan Dunia Timur (khususnya kawasan Tiongkok dan sekitarnya) selama lebih dari 15.000 tahun terakhir.
Dalam kerangka perbandingan jangka panjang ini, Morris membagi perjalanan sejarah manusia ke dalam beberapa fase menarik. Selama ribuan tahun pada era kuno hingga abad pertengahan, pusat pembangunan sosial dunia sebenarnya dipegang oleh Dunia Timur (Kawasan Mesopotamia, lembah Sungai Nil, hingga Dinasti-dinasti di Tiongkok), bukan oleh Barat.
Sebagai contoh, pada masa Kekaisaran Romawi kuno dan beberapa dinasti besar Tiongkok, tingkat pembangunan sosial Dunia Timur sering kali unggul atau berada di atas Barat. Hal ini mematahkan mitos eurosentris bahwa Barat memiliki keunggulan biologis atau moral yang inheren sejak awal penciptaan peradaban manusia.
Lantas, apa yang membuat Barat akhirnya melesat mendominasi dunia? Jawabannya, menurut Morris, terletak pada interaksi unik antara biologi, sosiologi, dan geografi. Manusia di seluruh belahan bumi memiliki kapasitas biologis yang kurang lebih sama (The biological uniformity of humankind), namun geografi memberikan tantangan dan peluang yang berbeda-beda (Geography shapes human choices).
Faktor geografis memainkan peran determinan ketika "Lucky Latitudes" (lintang geografis yang menguntungkan) memberikan akses awal bagi masyarakat di Timur Dekat (Fertile Crescent) dan kemudian Eropa untuk mendomestikasi tanaman dan hewan liar. Ketika peradaban barat berpindah ke Atlantik, geografi Samudra Atlantik justru menjadi jembatan strategis bagi Eropa untuk menemukan Dunia Baru (Amerika), memperluas sumber daya, dan memicu akumulasi kapital yang masif.
Titik balik terbesar dalam sejarah terjadi pada abad ke-18 dengan meletusnya Revolusi Industri di Inggris. Penemuan mesin uap dan eksploitasi besar-besaran terhadap cadangan batu bara mengubah secara radikal kapasitas energi per kapita Barat. Sejak titik inilah jarak pembangunan sosial antara Barat dan Timur mulai merenggang secara drastis, mengantarkan era hegemoni mutlak Barat atas sistem global hingga hari ini.
Namun, kata kunci paling krusial dalam judul buku ini adalah frasa "For Now" (Untuk Saat Ini). Morris menegaskan bahwa keunggulan Barat bukanlah garis lurus yang akan terus naik tanpa batas. Sejarah membuktikan hukum besi "The Theorem of Access": ketika tingkat pembangunan sosial suatu peradaban semakin tinggi, peradaban tersebut juga harus menghadapi "paradoks pembangunan" (the paradox of development), di mana pencapaian besar justru menciptakan kerentanan baru seperti perubahan iklim, kelangkaan sumber daya, migrasi massal, dan potensi kehancuran nuklir.
Lebih dari itu, bangkitnya kembali kekuatan Asia—khususnya Tiongkok dan India—di era modern merupakan bentuk nyata dari hukum sejarah di mana wilayah periferi atau yang sempat tertinggal belajar mengadopsi teknologi dan institusi modern untuk mengejar ketertinggalan (the advantage of backwardness). Negara-negara berkembang tidak lagi sekadar meniru Barat, melainkan menciptakan pusat-pusat inovasi mandiri yang menantang dominasi finansial dan teknologi tradisional.
Dalam bab-bab penutupnya, Morris melihat proyeksi masa depan hingga tahun 2100 dengan menggunakan skenario berbasis sains. Ia memperingatkan bahwa umat manusia kini berada di ambang titik singgung (singularity) atau krisis eksistensial global. Jika perubahan iklim, ketimpangan ekstrem, dan konflik geopolitik gagal dikelola dengan bijak, peradaban global bisa mengalami keruntuhan spektakuler sebagaimana dialami oleh Kekaisaran Romawi atau dinasti-dinasti kuno di masa lampau.
Buku ini memberikan pelajaran mendalam bagi para perumus kebijakan strategis bahwa hegemoni global bersifat sementara dan sangat bergantung pada kemampuan adaptasi struktural. Di tengah transisi geopolitik menuju tatanan multipolar saat ini, analisis makro-historis Ian Morris menjadi panduan esensial untuk membaca arah angin peradaban dunia di masa depan.



KOMENTAR ANDA