post image
RMOL World View bertajuk "Menjawab Tantangan Aviasi Pasca Pandemi Covid-19" pada 1 Maret 2021/Repro
KOMENTAR

Munculnya varian baru virus corona di sejumlah negara dan belum adanya pedoman penggunaan vaksin secara global telah memperumit pemulihan industri penerbangan yang babak belur dilanda pandemi.

Bahkan para ahli pun belum bisa memprediksi atau memperkirakan kapan dunia penerbangan akan kembali ke situasi normal.

Begiru yang disampaikan oleh Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI), Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dalam RMOL World View bertajuk "Menjawab Tantangan Aviasi Pasca Pandemi Covid-19" pada Senin (1/3).

Jika menyimpulkan kajian-kajian yang dilakukan oleh Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA), Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada umumnya organisasi internasional sepakat bahwa dunia penerbangan baru bisa menemukan 'formatnya kembali' dalam kurun waktu minimal 3 hingga 5 tahun.

"Belum normal, baru akan menemukan posisinya yang tepat untuk melangkah, the new starting line," ujar Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) periode 2002-2005 ini.

Hingga saat ini, kata Chappy, WHO belum merilis pedoman penggunaan vaksin yang dianggap sebagai jaminan keamanan untuk bepergian. Meski sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pesawat dapat mengakibatkan penularan virus.

Selain itu, kemunculan varian baru virus corona juga menjadi tantangan besar yang harus dihadapi. Lantaran beberapa negara mulai menerapkan kembali lockdown untuk menghentikan menyebaran varian baru tersebut

"Lockdown adalah mematikan international networking dalam konteks perhubungan. Begitu ada satu atau dua negara yang melakukan lockdown, dampaknya sangat besar," jelas Chappy.

Dunia penerbangan sendiri, lanjut Chappy telah terlanjur menjadi satu jejaring yang menyatu. Di dalam sistem transportasi udara global juga termasuk jejaring penerbangan domestik Indonesia.

llockdown adalah memeatikan internasional networking dalam konteks perhubungan. begitu ada satu atau dua negara yang melakukan lockdown, dampaknya sangat besar.

"Jadi kalau kita lockdown, dampaknya sangat besar pada jejaring penerbangan internasional... (Masa depan dunia penerbangan) masih sangat bergantung pada vaksin dan varian dari pandemi ini dapat diatasi atau tidak," pungkasnya.

Close X

Sumbang 50 Buku, Chappy Hakim Dorong Literasi Kedirgantaraan Di STHM

Sebelumnya

SDM Hingga Teknologi Jadi Kunci Membangkitkan Industri Penerbangan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews