post image
KOMENTAR

Pada akhirnya, “Peradaban Bukan Civilization” adalah buku yang penting — bukan karena ia menawarkan jawaban final, melainkan karena ia memaksa kita berhenti sejenak dari euforia sistem dan bertanya ulang tentang manusia. Kelemahannya justru terletak pada ambisinya sendiri: ketika kritik terhadap absolutisme modern dijawab dengan absolutisme baru.

Barangkali peradaban yang beradab bukanlah peradaban yang menemukan prinsip paling absolut, melainkan peradaban yang paling sadar akan keterbatasannya sendiri. Di sanalah adab menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai puncak, melainkan sebagai penjaga agar manusia tidak tergelincir oleh keyakinannya sendiri.


USANITA Perkuat Sinergi Malaysia-Indonesia di Turkiye

Sebelumnya

Amerika Bergolak dan Penuh Demonstran, Matinya Seorang Penyair Wanita, Dituduh Sebagai Teroris Domestik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Budaya