Pada akhirnya, “Peradaban Bukan Civilization” adalah buku yang penting — bukan karena ia menawarkan jawaban final, melainkan karena ia memaksa kita berhenti sejenak dari euforia sistem dan bertanya ulang tentang manusia. Kelemahannya justru terletak pada ambisinya sendiri: ketika kritik terhadap absolutisme modern dijawab dengan absolutisme baru.
Barangkali peradaban yang beradab bukanlah peradaban yang menemukan prinsip paling absolut, melainkan peradaban yang paling sadar akan keterbatasannya sendiri. Di sanalah adab menemukan makna terdalamnya: bukan sebagai puncak, melainkan sebagai penjaga agar manusia tidak tergelincir oleh keyakinannya sendiri.


KOMENTAR ANDA