Ketidakmampuan China dan Rusia, khususnya China akan mengirimkan sinyal yang tidak bagus bagi negara-negara yang selama ini menjadi “teman” dekat mereka.
Oleh: Andi Rahmat, Wakil Ketua Umum KADIN
MARKET Financial Solution (MFS) yang berbasis di Inggris mengalami krisis Insolvency akibat aktivitas kreditnya di Bangladesh. Beberapa lender besar, seperti Barclays, Apollo Atlas, Jefferies, TPG dan Avenue, turut terpapar resiko. Kejadian ini menambah deretan krisis insolvensi setelah sebelumnya dua perusahaan keuangan AS mengalami hal yang sama, yaitu First Brands Grouo dan Tricolor Holding.
Perusahaan yang beroperasi di sektor Private Credot Loans mengalami banyak tekanan besar setelah mereka terpapar oleh aktivitas lending mereka di sektor soft ware industri hrs mengalami Mark Down. Keadaan dipicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan Industri Software ditambah makin dinamisnya pertumbuhan dan ekspansi perusahaan-perusahaan AI.
Industri keuangan besar juga mengalami tekanan besar setelah laporan Citrini yang berjudul “The 2028 Global Intelligence Crisis” dirilis. Dalam reportnya, Citrini Research mengindikasikan akan adanya krisis ekonomi besar akibat perkembangan pesat AI yang akan berdampak pada pengurangan besar-besaran pekerja “dasi putih” (White Collar). Sektor-sektor seperti Perbankan, Akuntan, Profesi Hukum akan mengalami tekanan Berat.
Saham-saham perusahaan keuangan raksasa mengalami penurunan signifikan. Saham JP Morgan, Citi Bank, Bank Of America jatuh 4-4,9%. Sementara Saham Goldman Sachs merosot 7,5 %, Morgan Stanley 6 %, Wells Fargo 6%, Jefferies 9,3%, KKR 6%, Apollo 8,5%, Blackstone 4%. Penyebab kejatuhan saham ini selain disebabkan oleh prediksi impak perkembangan AI terhadap industri keuangan juga karena paparan distress loan yang dialami perusahaan Private Credit Loans.
Serangan AS terhadap Iran tidak hanya bertujuan untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir Iran, dan rudal jarak jauhnya. Tetapi juga bertujuan untuk mempercepat pergantian Rezim di Iran. Sejumlah analis mengungkapkan bahwa keputusan AS ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan Strategis AS untuk memotong mata rantai sumber energi murah China.
Setelah mengambil alih kontrol atas minyak Venezuela yang selama ini menjadi sumber pemasok besar bagi China, AS berkehendak pula untuk mempercepat penguasaan atas minyak Iran melalui pergantian rezim yang lebih ramah terhadap kepentingan strategis AS. Penguasaan de facto atas cadangan minyak Iran dan Venezuela ditambah dengan cadangan minyak AS sendiri akan menyebabkan AS akan menjadi kekuatan unilateral tersendiri terhadap cadangan minyak global, vis a vis dengan OPEC.
Kegagalan China dan Rusia, khususnya China dalam menjaga dan mengamankan dua negara “sekutu energi”nya ini akan menyebabkan posisi Inyernasional China menjadi melemah. Ketidakmampuan China dan Rusia, khususnya China akan mengirimkan sinyal yang tidak bagus bagi negara-negara yang selama ini menjadi “teman” dekat mereka, dan juga bagi negara-negara yang selama ini menjalankan strategi ambivalensi dalam menempatkan posisi di tengah kompetisi Blok China/Rusia dengan AS dan Sekutunya.
Kegagalan China ini diperkirakan akan membuka peluang bagi AS untuk menekan negara-negara lain, terutama negara-negara “Selatan-Selatan” untuk melupakan atau meninjau ulang hubungannya dengan Rusia dan China.
China dan Rusia belum menunjukkan reaksinya atas serangan AS dan Israel ke Iran. Bagaimana dua negara ini bereaksi akan mempengaruhi eskalasi lanjut dari konflik global. Selamat Berpuasa. Wallahualam.


KOMENTAR ANDA