Kalau demikian, tidak ada yang bisa menjamin Timteng akan baik-baik saja. Kendati rakyat sedang susah, sentimen anti-intervensi asing berurat akar di Iran.
Oleh: Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
SETELAH sebulan memblokade disertai serangan terhadap kapal-kapal Venezuela yang diklaim mengangkut narkoba ke AS, pada 3 Januari AS menyerang ibu kota Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari ranjang.
Presiden Donald Trump menyatakan AS akan mengelola Venezuela sampai pemerintahan baru terbentuk, yang sesuai dengan kepentingan AS. Kepentingan AS adalah minyak menyimpan cadangan terbesar di dunia. Hasil penjualan minyak akan dibagi dua: untuk Venezuela dan AS.
Tindakan Trump jelas melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela, serta melanggar UU AS tentang Perang yang butuh persetujuan Kongres. Trump juga mengancam akan merampas Greenland dari Denmark, menyerang Kolombia dan Meksiko. Ini wajah imperiliasme yang vulgar.
Beberapa hari sebelumnya, merespons demonstrasi di Iran akibat lilitan ekonomi, Trump mengancam akan menyerang rezim mullah itu bila aparatnya melakukan represi terhadap demonstran.
Pada 29 Desember, saat bertemu PM Israel, Benjamin Netanyahu di resor Mar-a-Lago di California, Trump menegaskan akan membiarkan Israel melanjutkan perang di Gaza bila Hamas menolak dilucuti sambil menolak tuduhan badan-badan PBB yang relevan bahwa Israel melakukan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ketegangan juga muncul di Asia-Pasifik menyusul AS memberi bantuan persenjataan senilai 11,1 miliar dollar AS, terbesar sepanjang sejarah, kepada pemerintah Taiwan di bawah Presiden Lai Ching-te yang pro-kemerdekaan. China bereaksi keras dengan mengerahkan seluruh matranya di sekitar Taiwan untuk mencegahnya memproklamirkan kemerdekaan.
Setelah AS menginvasi Venezuela, bukan tidak mungkin China melakukan hal serupa terhadap Taiwan. Alhasil, realisme politik Trump telah mengeskalasi krisis di Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, dan Asia-Pasifik. Juga memberi insenstif kepada Rusia terkait penyelesaian perang Ukraina.
Strategi AS
Peristiwa-peristiwa di atas, serta kebijakan tarif AS, tak bisa dilepaskan dari mimpi Trump menjadikan AS berjaya kembali. Pada 5 Desember 2025 Gedung Putih merilis dokumen Strategi Keamanan Nasional AS. Intinya, kebijakan luar negeri AS akan fokus pada pengamanan Benua Amerika sebagai lingkungan pengaruhnya sebagaimana Monroe Doctrine.
Tapi tetap berkomitmen melindungi Israel dan menciptakan stabilitas kawasan melalui Abraham Accord setelah rezim Iran dijatuhkan. Kebijakan AS juga berfokus menghadapi China di Asia-Pasifik.
Salah satunya, memperkuat pertahanan Taiwan. Dalam konteks ini pula kita memahami mengapa Trump mendukung Israel tanpa reserve dan mengakomodasi aspirasi keamanan Rusia dengan mengorbankan kepentingan keamanan Eropa dan teritori Ukraina.
AS hendak menjauhkan Rusia dari China. Bila tujuan menduduki Greenland adalah menguasai minyak dan tambang tanah jarang, persahabatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin akan memungkinkan kerja sama AS-Rusia di Arktik yang kaya SDA. Rusia tak punya teknologi dan SDM yang ditawarkan AS.
Di luar itu, dari sisi geopolitik, menduduki Greenland dan berbagi Arktik dengan Rusia akan menghambat peningkatan kerja sama Rusia-China dan lalu-lintas kapal-kapal China yang lalu-lalang di Samudera Atlantik dan Laut Arktik. Walakin, Putin tak hanya mengincar wilayah timur Ukraina, melainkan juga melengserkan Presiden Volodymyr Zelenskyy.
Ini terlihat dari pernyataannya bahwa Zelenskyy tak punya legitimasi karena masa jabatannya telah selesai dan menolak proposal perdamaian AS yang sudah disesuaikan dengan masukan Zelenskyy. Realisme politik Trump membawanya pada pengabaian terhadap tatanan internasional.
Berbeda dengan liberalisme politik dalam hubungan internasional yang menekankan kerja sama, institusi internasional, dan nilai-nilai bersama, realisme politik memandang dunia sebagai arena kompetitif dan konfliktual, di mana negara bertindak rasional demi kepentingan nasional dan kekuatan untuk survival dalam sistem yang anarkis.
Kaum realis berfokus pada keamanan dan kekuatan, skeptis terhadap kerja sama, dan mengedepankan prinsip self-help karena tidak ada yang bisa dipercaya sepenuhnya di panggung dunia. Maka dalam kompetisi dengan China, Trump menggunakan semua kekuatan AS – ekonomi, teknologi, politik, dan militer – untuk menekannya.
Tapi AS tak punya kekuatan cukup untuk membendung kompetitornya itu yang telah menguasai teknologi canggih serta kekuatan militer yang kompetitif. AS adalah imperlialis yang mulai uzur yang, sesuai dengan falsafah sejarah, tak akan bisa bertahan untuk selamanya.
Krisis Venezuela dan Taiwan
Tuduhan Trump bahwa Nicolas Maduro terlibat kartel narkoba ini tidak disertai bukti. Alasan sebenarnya adalah menjatuhkan rezim kiri, sekaligus menggembosi pengaruh China di sana. China, selain importir minyak Venezuela, juga sedang mengeksploitasi komoditas strategis di sana.
Permusuhan AS terhadap negara ini dimulai sejak 1990-an saat pemerintahan Hugo Chavez menasionalisasi industri minyak negaranya. Maduro melanjutkan kebijakan Chavez yang berhubungan erat dengan Iran dan China. Dengan Rusia malah Venezuela punya perjanjian pertahanan. Karena Putin tak bersuara soal ini, maka dugaan adanya kerja sama AS-Rusia terkonfirmasi.
Iran dan Venezuela dituduh AS mengekspor minyak mereka secara tersamar dengan melanggar sanksi AS. Bagaimanapun, aksi Trump berpotensi menciptakan krisis di Amerika Latin secara luas, yang terlihat dari reaksi negatif sebagian besar negara di kawasan.
China mengecam AS karena hilangnya pasokan minyak Venezuela membuat ketergantungannya pada minyak Timteng dan AS semakin besar. Ini akan mengungkit bargaining chip AS vis a vis China terkait tarif resiprokal dan komoditas tanah jarang China.


KOMENTAR ANDA