post image
Foto: Disway
KOMENTAR

Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior


RAHASIA kekasih. Musim hujan yang datang lebih dini tidak hanya membuat banjir lebih besar. Juga membuat roda petani buah berputar ke bawah. Jambu air Madura yang terkenal itu pun kini sulit didapat. Kalau pun ada, rasanya tidak semanis dan sesegar biasanya.

Tapi durian Madura tetap enak. Durian Lerpak. Kecil-kecil tapi istimewa.

Lerpak adalah sebuah dusun di kecamatan Banjar (baca: benjeur), Bangkalan. Setelah Anda turun dari jembatan Suramadu teruslah berjalan lurus. Sampai mentok. Lalu belok kanan ke arah Sampang --jangan belok kiri, itu  ke arah Bangkalan.

Beberapa kilometer dari belokan itu sampailah Anda ke kota kecil: Tanah Merah. Setelah itu ada pertigaan. Anda belok kiri ke jalan kecil di pertigaan itu.

Itulah jalan yang diperbaiki oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Sampai pelosok Desa Lerpak, di atas bukit pedalaman Bangkalan.

Saat perbaikan jalan selesai tibalah masa kampanye Pilpres. Cawapres dari PDI-Perjuangan, tokoh Madura, Mahfud MD, ke pesantren Sirrul Cholil nun di ujung jalan itu. Padahal dengan memperbaiki jalan tersebut Khofifah ingin sekali merangkul Muqtafi Aschal --kiai muda di Sirrul Cholil.

Akhirnya Khofifah --pendukung Prabowo Subianto-- tidak jadi ke Sirrul Cholil. Juga tidak pernah ada peresmian jalan yang kini mulus itu.

Sayalah yang menikmatinya: bulan lalu. Alam pedesaan Madura, di kanan kiri jalan itu, sangat rindang. Mungkin karena musim basah. Pedesaan alami. Rumah-rumah di sela pepohonannya banyak yang bercorak modern --pakai pilar-pilar putih model mini Romawi di depannya.

Agak tiba-tiba saya minta Kang Sahidin meminggirkan mobil ke jalan sempit itu: banyak yang berjualan durian. Musim durian di Madura mendahului Sidikalang. Nafsu tidak bisa ditahan lagi. Durian pun dibelah. Lalu masuklah banyak butiran berduri itu ke mobil. Sepanjang jalan aroma durian melekat di Denza.

Di situlah memang pusat durian Madura. Kecil-kecil. Bundar-bundar. Warnanya biru-daun --menimbulkan curiga: seperti durian masih muda. Ternyata rasanya sudah musangking. Hanya dagingnya tipis.

Di pesantren Sirrul Cholil saya bertemu Muqtafi. Ia keturunan ulama besar Madura, Syaichona Cholil --dari jalur istri yang lain. Begitu terpencil Desa Lerpak. Ayah Muqtafi-lah yang mendirikan pondok pesantren di situ. Tingkatnya, awalnya, hanya madrasah diniyah --hanya belajar agama.

Waktu itu Muqtafi masih kecil. Nakal. Selalu membantah orang tua. Karena itu sang ayah menitipkan anak itu ke pondok pesantren di Pasuruan: Sidogiri.

Di sana Muqtafi tetap nakal. Tidak mau salat. Ia lebih suka nonton film. Dan jadi Boneknya Persebaya.

Tapi kiai di Sidogiri tidak mau menghukum atau menegur Muqtafi. Itu karena Muqtafi anak seorang kiai dan keturunan ulama besar.

Titik balik Muqtafi terjadi ketika salah satu kiai di Sidogiri, Mas Mohammad, memberinya kitab kecil ”Dalail”.

Muqtafi disuruh membacanya. Ia tertarik. Karena kecil. Ternyata menyukainya. Sangat menyukai. Mas Mohammad masih sepupu kiai utama Sidogiri, Cholil Nawawi.

Dalail adalah "buku wajib" di pesantren-pesantren NU. Isinya salawat untuk Nabi Muhammad. Penulisnya: ulama sufi terkemuka dari Maroko: Imam Jazuli. Lengkapnya: Imam Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli Al Simlali (meninggal 1465M). Nama lengkap kitab itu: Dalail Al Khairat.

Anda sudah tahu beda Dalail dan Barzanji. Dalail adalah murni berisi salawat (doa) untuk Nabi. Sedang Barzanji adalah bacaan riwayat hidup Nabi.

Dalail sangat populer di Indonesia. Isi seluruh kitab harus dibaca (umumnya dihafal) sampai selesai dalam waktu satu minggu. Itu sama dengan Anda membaca salawat terbanyak dalam hidup Anda.

Buku itu memang menomorsatukan salawat. Penulisnya sendiri menceritakan khasiat salawat yang menakjubkan. Di literatur pesantren selalu dikenang. Suatu saat Imam Jazuli mencari air untuk wudu --bersuci sebelum salat. Sumur yang ia temukan di dekat masjid  lagi mengering.

Ada anak kecil, wanita, melihat ulama besar itu seperti sangat membutuhkan air untuk wudu. Maka Si anak berkomat-kamit di dekat sumur. Tiba-tiba saja sumur itu penuh dengan air.

"Apa yang Anda komat-kamitkan sehingga sumur ini berisi air?".

"Salawat pada Nabi," jawab si anak.


Reflek Radjimin

Sebelumnya

Carter 747

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway