Tanggal 8 Juni 1967 menjadi salah satu hari paling kelam dan penuh misteri dalam sejarah modern hubungan internasional, khususnya bagi militer Amerika Serikat dan Israel. Di tengah kobaran api Perang Enam Hari yang sedang membara di Timur Tengah, sebuah kapal intelijen milik Angkatan Laut AS, USS Liberty (AGTR-5), berlayar tenang di perairan internasional Laut Tengah.
Posisi kapal tersebut berada sekitar 25,5 mil nautika di lepas pantai utara Semenanjung Sinai, jauh di luar wilayah teritorial Mesir maupun Israel. Hari itu, cuaca di kawasan tersebut sangat cerah, memungkinkan jarak pandang yang sempurna ke segala arah tanpa ada gangguan kabut atau awan tebal.
Sebagai kapal non-kombatan yang bertugas mengumpulkan sinyal intelijen, USS Liberty tidak dilengkapi dengan persenjataan berat untuk bertahan hidup di zona pertempuran aktif. Perlindungan utamanya hanyalah status netral dan bendera Amerika Serikat berukuran besar yang berkibar terang di tiang kapal.
Namun, lambang kehormatan dan kenegaraan itu ternyata gagal mencegah bencana besar yang sudah di ambang pintu. Sekitar pukul 14.00 waktu setempat, ketenangan siang hari itu mendadak dipecahkan oleh suara deru mesin jet tempur militer yang terbang rendah.
Tanpa peringatan atau kontak radio sebelumnya, gelombang pertama pesawat tempur Angkatan Udara Israel menukik tajam ke arah USS Liberty. Tanpa ragu, pesawat-pesawat tersebut langsung menghujani kapal dengan tembakan meriam, roket mematikan, dan bom napalm.
Serangan udara mendadak ini langsung melumpuhkan infrastruktur vital kapal, termasuk menghancurkan antena komunikasi utama dan memutus sambungan radio. Dalam hitungan detik, geladak kapal berubah menjadi lautan api dan kepulan asap hitam pekat yang menyesakkan napas.
Para awak kapal yang sebagian besar sedang beristirahat atau menjalankan tugas rutin mendadak mendapati diri mereka berada di tengah situasi neraka. Jeritan kesakitan, alarm darurat, dan ledakan susul-menyusul menciptakan kekacauan total di seluruh bagian kapal.
Belum sempat para penyintas memulihkan diri dari kehancuran serangan udara pertama, ancaman maut gelombang kedua datang dari arah permukaan air laut. Tiga buah kapal torpedo Angkatan Laut Israel mendekati lambung kanan USS Liberty dengan kecepatan penuh.
Salah satu kapal torpedo tersebut berhasil meluncurkan sebuah torpedo mematikan yang menghantam tepat di ruang penelitian intelijen kapal. Ledakan bawah air yang masif itu mengguncang seluruh struktur lambung, merobek baja kapal, dan menenggelamkan banyak pelaut di ruangan tersebut.
Di tengah situasi yang semakin putus asa, kapten kapal, William McGonagle, menunjukkan keberanian luar biasa. Meskipun menderita luka parah akibat pecahan logam di sekujur tubuhnya, ia terus memimpin komando anjungan dan berjuang menjaga kapal agar tidak tenggelam ke dasar laut.
Ketika serangan akhirnya mereda dan keheningan mencekam kembali menyelimuti perairan, data korban jiwa yang jatuh mulai terhitung dengan sangat menyedihkan. Sebanyak 34 awak kapal tewas seketika dan 171 pelaut lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
Tidak lama setelah insiden berdarah tersebut menyebar ke markas besar militer, pemerintah Israel langsung menyampaikan permohonan maaf resmi kepada Washington. Mereka berdalih bahwa serangan tersebut adalah sebuah kesalahan fatal murni akibat salah identifikasi (friendly fire), di mana mereka mengira USS Liberty adalah kapal logistik Mesir bernama El Quseir.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Lyndon B. Johnson menerima penjelasan tersebut setelah penyelidikan militer bersama dilakukan. Kendati demikian, penjelasan resmi ini langsung memicu gelombang skeptisisme mendalam dari para awak yang selamat dan sejumlah petinggi militer AS.
Banyak pihak meragukan argumen salah identifikasi karena bendera Amerika berkibar terang, cuaca sangat cerah, dan pesawat pengintai Israel telah terbang mengitari kapal tersebut berjam-jam sebelum serangan. Para kritikus menduga Israel sengaja menyerang untuk menutupi operasi militer rahasia mereka di daratan Sinai atau Dataran Tinggi Golan.
Hingga hari ini, setengah abad lebih setelah tragedi tersebut berlalu, misteri di balik serangan terhadap USS Liberty tetap menjadi perdebatan hangat. Bagi para veteran dan keluarga korban, insiden 8 Juni 1967 tidak pernah dianggap sebagai kecelakaan sederhana, melainkan luka sejarah yang menuntut kebenaran sepenuhnya.



KOMENTAR ANDA