Penumpang Super Air Jet yang berangkat dari Makassar menuju Manokwari pada Jumat dinihari, 31 Juli 2026, mengeluhkan suhu kabin yang dinilai tidak bersahabat. Air conditioner pesawat Airbu 320 dengan nomor penerbangan IU221 itu seakan tidak bekerja. Kabin gerah.
Tidak lama, terdengar pengumuman dari sistem interkom pesawat yang mengatakan bahwa suhu di dalam pesawat akan berangsur lebih bersahabat setelah pesawat tinggal landas.
Benar saja, setelah pesawat take off, suhu di dalam kabin berubah lebih dingin. Bahkan menjadi terlalu dingin bagi beberapa penumpang
Pernahkah Anda mengalami kejadian ini? Rasanya, fenomena ini tentu sudah tidak asing bagi para pelancong udara.
Banyak penumpang mengira bahwa sistem pendingin udara (AC) di pesawat sengaja dimatikan sebelum terbang. Padahal, ada alasan teknis, operasional, dan keselamatan yang mendasar di balik pengaturan suhu tersebut. Berikut adalah penjelasannya:
1. Keterbatasan Sumber Daya saat Mesin Belum Optimal (APG/APU)
Ketika pesawat masih berada di area parkir (gate) atau saat proses boarding, mesin utama pesawat (jet engine) umumnya belum dinyalakan untuk menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi suara serta emisi di bandara.
- Sebagai gantinya, pesawat menggunakan sistem pendukung kelistrikan bernama APU (Auxiliary Power Unit) atau pasokan daya eksternal dari darat (Ground Power Unit).
- Daya yang Terbatas: APU harus membagi tenaga untuk menyalakan lampu kabin, sistem avionik, kelistrikan dapur (galley), dan tentu saja sistem pendingin udara.
Kapasitas Pendinginan Menurun: Karena bebannya terbagi dan kapasitas APU lebih kecil dibanding mesin utama, kinerja AC saat di darat tidak bisa maksimal, terutama jika cuaca luar sangat terik.
2. Beban Panas Ekstrem di Landasan Pacu (Tarmac)
Saat parkir di landasan, badan pesawat terpapar langsung oleh terik matahari. Selain itu, aspal bandara memantulkan panas yang sangat tinggi ke badan pesawat (fuselage).
- Akumulasi Panas: Interior kabin, kursi, dan dinding pesawat menyerap panas dalam jumlah besar sebelum penerbangan dimulai.
- Proses Sirkulasi: Dengan ratusan penumpang yang baru masuk, suhu tubuh manusia dan panas yang terjebak di dalam kabin membuat udara terasa pengap. Dibutuhkan waktu beberapa saat setelah pesawat mengudara bagi sistem AC untuk menetralisir akumulasi panas tersebut.
3. Pemanfaatan Daya Penuh dari Mesin Utama Setelah Lepas Landas
Begitu pesawat mengudara dan mencapai ketinggian jelajah (cruising altitude), situasinya berubah drastis:
- Tenaga Maksimal: Mesin utama pesawat beroperasi pada tingkat optimal, yang memasok daya pneumatik jauh lebih besar ke sistem tata udara (Environmental Control System/ECS).
- Efisiensi Sistem: Sistem pendingin kini mendapatkan pasokan energi penuh, sehingga mampu memompa udara dingin secara konsisten ke seluruh sudut kabin untuk mencapai suhu yang telah ditetapkan oleh pilot.
4. Faktor Fisika Ketinggian dan Udara Luar
Udara di luar pesawat pada ketinggian jelajah (sekitar 30.000 hingga 35.000 kaki) memiliki suhu yang sangat dingin, bisa mencapai minus puluhan derajat Celsius.
Meskipun udara luar tersebut diproses, disaring melalui filter HEPA, dan dicampur dengan udara kabin sebelum dialirkan kembali, suhu dasar udara di luar angkasa yang ekstrem membuat proses pendinginan dan pengaturan suhu di dalam kabin menjadi jauh lebih efektif dibandingkan saat berada di permukaan tanah.
5. Mencegah Kelelahan dan Dehidrasi Penumpang
Udara di dalam kabin pesawat dirancang agar tetap nyaman bagi tubuh manusia, namun kecenderungan suhu yang agak dingin disengaja oleh pihak maskapai.
Suhu yang terlalu hangat di ruang tertutup dengan ratusan orang dapat memicu rasa pusing, mual, dan dehidrasi lebih cepat. Suhu yang sejuk membantu penumpang tetap segar dan mencegah risiko hypoxia (kekurangan oksigen ringan).
Jadi kesimpulannnya, perubahan suhu dari gerah saat di darat menjadi dingin setelah mengudara adalah hasil dari perpindahan sumber daya—dari penggunaan APU yang terbatas di darat beralih ke tenaga penuh dari mesin utama di udara, dikombinasikan dengan kebutuhan untuk mendinginkan kabin yang sebelumnya terpapar panas ekstrem.
Tips untuk Anda, selalu sediakan jaket, selimut, atau pakaian hangat di dalam kabin agar perjalanan udara Anda tetap nyaman meskipun suhu pesawat diatur cukup rendah.



KOMENTAR ANDA