post image
Ilustrasi Cicada
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

CICADA dalam bahasa Indonesia disebut “jengkerik tanah” atau “belalang kayu”, namun istilah yang lebih spesifik dan banyak digunakan adalah “cicada” itu sendiri. 

Di beberapa daerah khususnya di Jawa, orang juga mengenalnya sebagai “tonggeret”, meskipun “tonggeret” bisa merujuk pada jenis serangga lain tetapi sejenis yang masih dalam keluarga Cicadidae. Agar lebih aman dari kekeliruan, di dalam naskah ini saya menggunakan istilah Cicada saja.

Siklus Cicada 17 tahun (Magicicada spp.) merupakan satu di antara sekian banyak fenomena alam yang unik dan masih menyimpan beberapa misteri, meskipun banyak yang sudah dipahami oleh para ilmuwan. Tak kurang dari Bob Dylan menggubah dan berdendang lagu “Day of The Locusts”.

Selama 17 tahun, Cicada hidup sebagai nimfa di bawah tanah, menghisap cairan xylem dari akar pohon. Penelitian menunjukkan bahwa mereka menghitung tahun dengan cara melacak perubahan suhu tanah dan musim. Saat suhu tanah mencapai sekitar 64°F (18°C) pada kedalaman 7–8 inci di musim semi menjadi pertanda alam untuk para Cicada muncul ke permukaan. Ini menjelaskan mengapa kemunculan mereka sangat serentak dalam satu malam.

Angka 17 adalah bilangan prima, yang memberi keuntungan evolutif. Dengan siklus hidup yang panjang dan berbilangan prima, cicada menghindari sinkronisasi dengan predator yang memiliki siklus hidup lebih pendek (misalnya 2, 3, 4, atau 6 tahun). Ini mengurangi kemungkinan predator memakan mereka secara massal. Teori ini didukung model matematika dan pengamatan lapangan.

Meskipun suhu tanah adalah pemicu utama, faktor lain seperti kelembaban tanah, curah hujan, dan bahkan “isyarat kimia” dari nimfa lain mungkin berperan. Namun, detail tentang bagaimana mereka saling berkomunikasi masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian terbaru menggunakan model fisika (random-fielding model) mencoba menjelaskan sinkronisasi ini dengan analogi spin elektron, tapi hipotesis ini masih dalam tahap pengembangan.

Pemanasan global potensial mengganggu siklus ini. Musim semi yang lebih hangat bisa menyebabkan kemunculan lebih awal, sementara perubahan pola curah hujan mempengaruhi sediaan nutrisi dari akar pohon. Beberapa “straggler” (cicada yang muncul di luar siklus) telah diamati, kemungkinan karena perubahan iklim.

Misteri yang Belum Terjawab

1. Bagaimana Mereka Menghitung Tahun?
Apakah mereka menggunakan sinyal internal yang terkait dengan perubahan suhu xylem pohon setiap tahun?

2. Komunikasi Antar Nimfa
Apakah ada isyarat kimia atau akustik yang membantu sinkronisasi kemunculan mereka ke permukaan bumi?

3. Pengaruh Ekologis Jangka Panjang
Bagaimana perubahan iklim mempengaruhi distribusi brood (kelompok) Cicada di masa depan? Apakah siklus 17 tahun bertambah atau berkurang atau bertahan?

Meski banyak yang sudah diketahui, sebenarnya tabir misteri siklus cicada 17 tahun masih belum sepenuhnya terbuka. Para saintis terus berupaya mengungkap misteri-misteri tersebut melalui penelitian lapangan dan simulasi permodelan matematikal.

Rasa ingin tahu di lubuk sanubari manusia tetap menjadi kunci untuk membuka gerbang pemahaman terhadap keajaiban kehidupan di planet bumi ini.
 

 


Polemik Asal Muasal Tango

Sebelumnya

Multi Manfaat Drone

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana