post image
Foto: MURI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)

BERKAT gagasan cemerlang Direktur Utama MURI, Aylawati Sarwono, Museum Rekor Dunia Indonsia menggoreskan tinta emas pada lembaran sejarah kebudayaan Indonesia dengan meluncurkan anugerah “MURI KARTINI”.

Tanggal 19 April 2026 di auditorium Perpusnas disaksikan para tokoh nasional seperti Prof. E Aminuddin Azis, Prof Meutia Hatta, Prof. Amir Syamduddin, Dr. Gemala Hatta, MURI menganugerahkan penghargaan khusus bagi para perempuan Indonesia yang melanjutkan warisan perjuangan RA Kartini.

Peluncuran perdana anugerah MURI Kartini diselenggarakan bersamaan dengan pergelaran kebudayaaan bertajuk “Tembang Alit Kartini” sekaligus mendirhayu 100 tahun Rahmi Hatta, isteri proklamator kemederkaan Indonesia, Bung Hatta.

“MURI Kartini merupakan bentuk penghormatan kami kepada para perempuan Indonesia yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga konsisten memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Direktur Utama MURI, Aylawati Sarwono.

Melalui penghargaan istimewa ini, MURI berkomitmen tidak hanya mencatat angka rekor, tetapi juga mengangkat kisah inspiratif perempuan yang berperan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Ia berharap momentum ini dapat memicu motivasi bagi kaum perempuan lainnya untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Pergelaran kesenian yang menyertai peluncuran anugerah MURI KARTINI juga dimaksudkan untuk merefleksikan nilai-nilai luhur perjuangan Kartini.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh perempuan nasional lintas bidang, mulai dari sosial, pendidikan, hingga kebudayaan. Para tokoh tersebut turut berpartisipasi dalam pembacaan surat-surat Kartini sebagai bentuk refleksi atas peran perempuan dalam menjaga akar kebudayaan bangsa Indonesia.

Sejumlah tokoh nasional perempuan yang menerima penghargaan itu, di antaranya adalah Asha Smara Darra – Ketua Yayasan Umaratu, Ayu Heni Rosan – Ketua Yayasan Citra Kartini Indonesia, Diah Kusumawardani Wijayanti, S.Sos., M.Hum. — Ketua Yayasan Belantara Budaya, Dra. Dewi Sulastri – Founder Yayasan Swargaloka, dan Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A – Ketua Yayasan Hatta.

Juga Dr. Emi Wiranto – Pembina Yayasan Sekar Ayu Jiwanta, Evy Amir Syamsudin, B.A., S.H. – Ketua Yayasan Second Chance, Gendis Soeharto, B.Sc. – Ketua Yayasan Ketua Yayasan Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (YL - GNOTA), Happy Farida Djarot – Ketua Yayasan Krida Kebaya Jakarta, Hetty Andika Perkasa, S.H., M.H. – Ketua Perempuan Laju Perkasa, dan Ike Nirwan Bakrie – Ketua Perkumpulan Rumah Pesona Kain

Inaya Wulandari Wahid - Jaringan Gusdurian, Inti Nusantari Subagio – Founder, President Director For All Nations Campus, Nanik Hadi Tjahjanto, S.H. – Ketua Umum KOWANI 2024–2029, Sendy Dede Yusuf, S.T. – Ketua Yayasan Batik Jawa Barat juga hadir.

Pembawa Acara adalah Ayu Dyah Pasha, serta para penari Bedayan Tembang Alit terdiri dari Dejarina Larasati, Reny Ajeng, Ria Wulandari, Rini Indriaswati, Santi Peeter, Sendang Wangi dilatih oleh Mastra Dewi Sulastri. Direktur Tata Media: Shari Semesta Susilo.

Insya Allah, setiap setiap tahun pada bulan April dalam rangka merayakan Hari Kartini, acara anugerah MURI KARTINI dapat didekasasikan bagi para tokoh perempuan Indonesia di dalam bidang pengabdian masing-masing. MERDEKA!

 


KOMENTAR ANDA

Baca Juga