post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

PERNAH membayangkan tanaman yang bisa menyala di malam hari tanpa listrik? Bukan lampu taman, bukan lampu tenaga surya, melainkan tanaman hidup yang memancarkan cahaya dari dirinya sendiri.

Kedengarannya seperti cerita fiksi ilmiah, tapi nyatanya fenomena ini benar-benar ada dan sedang dikembangkan oleh para ilmuwan.

Fenomena ini disebut sebagai daya bioluminesensi.

Biasanya kita mengenal cahaya dari matahari atau api. Namun di alam, beberapa makhluk hidup mampu membuat cahayanya sendiri. Contoh paling terkenal adalah kunang-kunang. Ada juga ubur-ubur dan ikan laut dalam yang hidup di tempat gelap gulita, jauh dari sinar matahari.

Mereka bisa bercahaya karena di dalam tubuhnya terjadi reaksi kimia alami yang menghasilkan cahaya, tanpa panas dan tanpa listrik. Film Avatar jilid pertama menampilkan tetumbuhan yang bisa kerlap-kerlip dan warna-warni bercahaya secara swasembada mandiri.

Di alam liar, tanaman sebenarnya tidak bisa bercahaya dari dirinya sendiri.

Namun kadang kita melihat batang pohon atau daun tampak berkilau di malam hari. Itu biasanya bukan karena tanamannya sendiri, melainkan karena jamur bercahaya yang tumbuh di batang kayu atau bakteri bercahaya yang menempel di permukaan tanaman.

Namun berkat kemajuan ilmu pengetahuan, para ilmuwan berhasil membuat tanaman yang benar-benar bisa bercahaya. Caranya adalah dengan memasukkan “resep cahaya” dari jamur bercahaya ke dalam sel tanaman. Hasilnya, tanaman memancarkan cahaya hijau lembut saat gelap. Cahayanya memang tidak terang, tapi cukup demi terinderakan indera lihat manusia atau satwa.

Walaupun sama-sama bercahaya, tanaman, kunang-kunang, dan ikan laut dalam bukanlah keluarga dekat. Mereka hanya memiliki cara yang mirip, bukan asal-usul yang sama. Ibarat banyak orang bisa menyalakan api, tapi bukan berarti mereka satu keluarga.

Misalnya kunang-kunang menggunakan cahaya untuk menarik pasangan dan berkomunikasi. Hewan laut dalam memakai cahaya untuk menarik mangsa, menipu musuh bersembunyi di kegelapan.

Sementara tanaman bercahaya buatan manusia lebih bertujuan untuk keindahan, penelitian dalam bentuk eksperimen energi ramah lingkungan sambil berkelanjutan terbarukan.

Tanaman dan hewan memang berasal dari kehidupan purba yang sangat tua, tetapi mereka sudah berpisah jalur sejak miliaran tahun lalu. Setelah itu, masing-masing berkembang dengan caranya sendiri. Kemampuan bercahaya bukan warisan bersama, melainkan muncul secara terpisah pada berbagai makhluk, seperti serangga, jamur, hewan laut dalam, mikro-organisme.

Artinya, alam “menemukan” cara membuat cahaya berkali-kali, bukan hanya sekali.  Untuk saat ini, tanaman bercahaya belum bisa menggantikan lampu rumah.

Tapi para ilmuwan berharap suatu hari nanti cahaya alami ini bisa direkayasa manusia sedemikian rupa sehingga mampu membantu mengurangi penggunaan energi listrik. Angka-angka arloji bersinar hijau lembut di dalam kegelapan adalah satu di antara banyak contoh.

Tanaman bercahaya mungkin belum bisa menerangi rumah kita, tetapi mereka membuka cara pandang baru tentang bagaimana alam mengelola energi. Dari kunang-kunang hingga tanaman hasil rekayasa, alam membuktikan bahwa cahaya tidak selalu harus berasal dari kabel dan sekakelar.

Siapa tahu, di masa depan, taman kota bisa bersinar lembut di malam hari, tanpa listrik, tanpa polusi, hanya dengan cahaya hidup alami dari diri mereka sendiri masing-masing. Insya Allah!


Berkhayal Angka Khayalan

Sebelumnya

Kontemplasi Topi Saya Bundar

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana