post image
KOMENTAR

Perang Iran sejatinya sebagai sebuah ujian berat bagi solidaritas BRICS. Hasilnya menunjukkan bahwa di bawah permukaan narasi tentang perwujudan tatanan dunia multipolar dan suara Global South, terdapat realitas yang jauh lebih kompleks dan terfragmentasi. Blok ini terbukti sangat rentan terhadap tekanan geopolitik eksternal disebabkan adanya perbedaan kepentingan nasional mendasar di antara para negara anggotanya.

Ketidakmampuan untuk berbicara dengan satu suara ketika salah satu anggotanya diserang telah mengungkapkan kelemahan struktural dan batasan kekuatan politik BRICS. Meskipun BRICS tetap menjadi forum yang relevan untuk pengembangan kerja sama ekonomi dan koordinasi kebijakan pembangunan, krisis Iran menunjukkan bahwa jalan menuju kohesi politik yang sejati masih panjang dan penuh rintangan.

Jika BRICS ingin menjadi pilar utama dalam arsitektur global yang baru, blok tersebut harus menemukan cara untuk mengelola perbedaan internal dan membangun mekanisme yang memungkinkan untuk bertindak, bukan sekadar berbicara, di saat krisis. Tanpa itu, kedepannya BRICS berisiko tetap menjadi koalisi longgar yang secara simbolis menarik tetapi secara strategis justru tidak efektif.

Penulis:
1. Hendra Manurung, Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)
2. Harri Dolli Hutabarat, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)


Untuk Akhiri Perang dengan Iran, Trump Hubungi Putin

Sebelumnya

Mesir Ajak Negara-negara Arab Perkuat Kerja Sama Keamanan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global