post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

PARA ilmuwan matematika sepakat bahwa secara taksonomis, angka terdiri dari beberapa jenis antara lain angka genap, angka ganjil, angka prima, angka nyata, angka khayalan, angka minus bahkan ada pula angka yang disebut transendental.

Nama “transendental” berasal dari bahasa Latin trānscendere, artinya “melewati atau melampaui, mengatasi”, dan pertama kali secara tanpa sadar istilah, digunakan untuk konsep matematika pada tahun 1682 oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada tahun 1682 yang membuktikan bahwa sin bukanlah fungsi aljabar dari “x”.

Jauh sebelum Leibniz yaitu pada zaman Mesir dan Yunani kuno, sebenarnya manusia sudah menemukan kehadiran angka yang terkesan janggal. Contohnya adalah angka yang digunakan untuk menghitung lingkaran. Juga angka buat menghitung diagonal persegi.

Orang zaman dulu cuma bisa menduga-duga tentang angka yang tidak ada habis-habisnya sambil tidak ketahuan polanya. Tetapi mereka belum memiliki istilah sebutan bagi angka janggal tersebut. Ada suasana supranatural hadir pada angka-angka misterus tersebut.

Kemudian hadirlah seorang mahamatematikawan bernama Euler yang berperan sebagai seorang detektif angka. Euler menduga ada angka-angka yang tampaknya bukan hasil dari hitungan biasa seperti akar dua, akar tiga atau persamaan yang menggunakan pangkat. Euler belum mampu membuktikan namun dia sudah curiga bahwa ada angka janggal liar berkeliaran di kerajaan angka.

Akhirnya muncul di Prancis seorang professor bernama Joseph Liouville yang pertama berhasil menangkap sebuah angka transendental dan membuktikannya ke semua orang. Caranya?

Dia bikin sendiri angkanya! Angkanya sengaja disusun super aneh, desimalnya ada nol banyak banget, terus diseling satu. Dia menegaskan bahwa angka aneh ini mustahil merupakan hasil dari persamaan biasa.

Berarti Liouville itu merupakan polisi pertama yang berhasil menangkap buronan bernama angka transendental yang kemudian diabadikan sebagai angka Liouville. Adalah Liouville yang pertama menggunakan istilah angka transendetal.

Proses transendentalisasi angka transendental makin berlanjut seru . Dua angka paling terkenal akhirnya terbukti transendental. Pertama, angka “e” pada tahun tahun 1873 oleh Hermite. Angka “e” ini dipake buat menghitung bunga berbunga bank, pertumbuhan penduduk, peluruhan radioaktif.

Kedua, angka “pi” tahun 1882 oleh Lindemann. Gara-gara “pi” terbukti transendental, teka-teki 2000 tahun langsung bubar. Teka-teki “bisakah kita meggambar persegi yang luasnya sama persis dengan lingkaran, cuma dengan menggunakan jangka dan penggaris?”

Jawabannya: Mustahil. Titik. Karena “pi” itu liar maka mustahil dikurung.

Pakar matematika David Hilbert bikin daftar “pekerjaan rumah” buat para matematikawan sedunia. Satu di antaranya adalah pembuktian angka-angka lain itu transendental atau bukan.

Tahun 1934, secara abstrak Gelfond dan Schneider berhasil membuktikan sebagian. Namun sejak itu malah makin banyak angka yang ketahuan transendental. Tidak ketahuan yang belum ketahuan.

Berdasar segenap fakta transendentalisasi angka transcendental dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya angka transendental itu angka yang tak sudi tunduk pada aturan apapun. Dia bukan hasil bagi semisal sepertiga. Dia juga bukan hasil akar semisal akar dua. Angka transendental lahir dari proses yang tak terhingga, semisal “pi” dari lingkaran, atau “e” dari bunga-berbunga. Seperti ilusi visual tak terhingga yang ditampilkan oleh dua cermin saling berhadapan.

Sampai sekarang, masih banyak angka misterius dan gaib yang dicurigai transendental tetapi belum bisa dibuktikan. Berarti angka transendental sebagai buronan masih banyak berkeliaran di alam semesta ini!


Kontemplasi Topi Saya Bundar

Sebelumnya

Sekilas Sejarah Catur

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana