Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DUNIA masa kini sedang mengalami krisis yang sunyi namun dahsyat makna yaitu Kepatirasaan. Di tengah kemilau sains dan teknologi yang kian sakti mandraguna, manusia justru perlahan namun pasti berevolusi menjadi mati rasa, egosentrik, dan robotik sehingga kehilangan orientasi kemanusiaan.
Kita terjebak dalam budaya GUMABELUMA (Gue Mau Begini Lu Mau Apa), sebagai perilaku primordial masa prasejarah yang dibungkus teknologi modern.
Sebuah kearifan tak lekang dimakan zaman, mengingatkan kita bahwa jihad terakbar bukanlah perjuangan menaklukkan musuh di luar sana, melainkan Jihad Al-Nafs: menaklukkan hawa nafsu dan ego pribadi di dalam sini. Tanpa kemenangan atas diri sendiri, kita hanya akan menjadi budak hormon dopamin yang terus menerus memburu konsumtifisme sambil giat pamer kekayaan (flexing).
Jangan lupa bahwa hakikat flexing harta adalah jeritan kesepian dari jiwa yang telah kehilangan pedoman batin.
Kita patut merenungkan pengakuan pribadi BJ Habibie kepada saya pada saat menghadiri upacara pemakaman almarhumah istri tercinta beliau. Presiden ke tiga RI yang di masa muda "memberhalakan" sains dan teknologi, di masa tua kembali berjuang demi Manunggaling Kawula Gusti serta Sangkan Paraning Dumadi.
Beliau menyadari bahwa sehebat apa pun pesawat yang dibangun, ia tidak akan punya arah tanpa "ruh" iman (IMTAK) dan budi pekerti yang menuntunnya pulang ke hakikat penciptaan.
Pemimpin sejati tidak boleh lahir dari rahim kekuasaan yang buta. Ia harus sadar akan prinsip Ojo Dumeh (jangan mentang-mentang). Kepemimpinan yang luhur wajib selaras dengan Hasta Brata mengambil teladan dari delapan unsur alam (Bumi, Matahari, Bulan, Bintang, Angin, Api, Samudra, dan Langit). Pemimpin adalah pengayom, bukan penguasa yang memisahkan diri dari rakyatnya.
Pemimpin tidak boleh terkebut sehingga lupa bahwa seorang pemimpin mustahil memimpin jika tidak ada yang bersedia dipimpin. Pemimpin muskil eksis tanpa rakyat namun rakyat tetap bisa eksis tanpa pemimpin.
Keadilan sosial adalah sila terakhir sebagai puncak makna Pancasila dan amanat Pasal 31 UUD 1945. Pendidikan tidak boleh menjadi komoditas industri berbayar yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Selama pendidikan dikomersialkan, "nyala api" kearifan lokal niscaya meredup kemudian padam ditelan pragmatisme. Kita butuh pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan sekadar pabrik pencetak robot pencari kerja.
Mari kita mulai dari diri sendiri masing-masing. Mari kita gantikan budaya pamer kekayaan harta-benda dengan menghayati kekayaan kearifan. Mari kita ejawantahkan kasih sayang dari seluruh ajaran agama dan ideologi Pancasila sebagai benteng terkokoh yang melindungi mahkota peradaban yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.
Mari kita sadari bahwa Sains memberikan kita "cara" untuk hidup, tetapi Budi Pekerti memberikan kita "alasan" mengapa kita harus hidup dengan bermartabat. Mari kita jadikan kemanusiaan sebagai mahkota, agar peradaban ini tidak hampa makna namun benar-benar memiliki sukma makna.


KOMENTAR ANDA