Kedutaan Besar Republik Islam Iran menggelar doa bersama khusus untuk mengenang 175 siswi Sekolah Dasar “Shajareh Tayyebeh” di kota Minab, Provinsi Hormozgan, yang tewas dalam serangan AS di akhir Februari lalu. Kegiatan yang diselenggarakan di Kediaman Duta Besar Iran di Jakarta, di hadiri tidak kurang dari 100 siswa yang hadir dengan mengenakan baju putih-putih dan menggenggam bendera Iran.
Sejumlah banner yang memperlihatkan wajah dari sebagian korban dipasang di dalam ruangan utama Kediaman Dubes Iran dengan tulisan-tulisan antara lain “Atas Dosa Apa Mereka Dibunuh” dan “No War on Children”. Beberapa dari siswa yang hadir membacakan syair duka yang mereka tulis sendiri.
“Anak-anak tak berdaya ini, yang hanya hadir di kelas untuk belajar dan membangun masa depan yang cerah, menjadi korban kekerasan akibat serangan rudal yang tidak sejalan baik dengan hati nurani kemanusiaan maupun dengan prinsip-prinsip yang diakui dalam hukum internasional,” ujar Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, dalam sambutannya.
Dubes Boroujerdi menambahkan, menyerang sekolah dan membunuh anak-anak tak berdaya merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional serta kewajiban yang berasal dari berbagai instrumen internasional yang sah, termasuk Konvensi-konvensi Jenewa dan aturan perlindungan terhadap warga sipil dalam masa konflik bersenjata.
“Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, warga sipil-terutama anak-anak-serta pusat-pusat pendidikan harus sepenuhnya terlindungi dari serangan militer. Serangan terhadap sebuah sekolah dasar dan pembunuhan 175 siswi merupakan
pelanggaran terhadap prinsip pembedaan antara sasaran militer dan non-militer serta merupakan contoh nyata dari kejahatan perang,” tegasnya.
Siswa yang hadir dalam doa bersama ini berasal dari 12 sekolah dan organisasi di Jakarta dan sekitarnya, yakni Pelajar Gerakan Dana Siswa, Umul Ushul Children Islamic Studies, Islamic Sunday School, Darul Mukim, As Salam, Lentera Ilmu, Bunga-Bunga Qurani, Baitur Rahman, Ittihadul Islam, Al Muntazar, Umul Banin, dan Laskar Pelangi.
Dalam bagian lain sambutannya, Dubes Boroujerdi menggarisbawahi pengakuan pejabat AS atas serangan itu.
“Pengakuan ini semakin menegaskan pentingnya pertanggungjawaban serta penindakan hukum terhadap kejahatan ini dalam kerangka mekanisme internasional,” ujarnya lagi.
Dia juga mengatakan, bukan baru kali ini AS terlibat dalam pembunuhan anak-anak. Dia mencontohkan kasus penembakan pesawat penumpang Iran pada tahun 1988 oleh kapal perang Amerika Serikat yang menyebabkan tewasnya 290 orang tak bersalah, termasuk puluhan anak-anak.
Contoh lain yang masih terlihat sampai sekarang adalah serangan berulang rezim Zionis terhadap kawasan permukiman d i Gaza yang berkali-kali merenggut nyawa banyak warga sipil dan anak-anak.
Kedutaan Besar Republik Islam Iran, katanya lagi, menyerukan kepada hati nurani yang terjaga di dunia, organisasi-organisasi Islam yang aktif, lembaga-lembaga hak asasi manusia internasional, serta organisasi-organisasi pembela hak anak agar tidak berdiam diri terhadap kejahatan seperti ini. Dengan mengecam secara tegas tindakan tersebut, diharapkan mereka mengambil langkah untuk mengungkap kebenaran, menuntut pertanggungjawaban para pelaku, serta mencegah terulangnya tragedi serupa.
Sementara mengenai kegiatan doa bersama yang menghadirkan siswa Indonesia, Dubes Boroujerdi mengatakan, kegiatan ini adalah simbol solidaritas kemanusiaan dan pesan yang jelas tentang empati bangsa-bangsa terhadap para korban yang tidak bersalah.
“Pada hakikatnya mereka adalah suara hati nurani dunia yang menyatakan bahwa penderitaan anak-anak di mana pun di dunia adalah penderitaan seluruh umat manusia,” ujarnya.
Dia berharap, kenangan dan nama anak-anak Iran yang menjadi korban serangan AS akan semakin membangunkan hati nurani dunia dan menjadi inspirasi bagi upaya bersama untuk perdamaian, keadilan, dan perlindungan kehidupan anak-anak d i seluruh dunia; hingga tiba hari di mana tidak ada lagi sekolah yang menjadi sasaran perang dan tidak ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan dan agresi.


KOMENTAR ANDA