post image
Ilustrasi ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

SEBELUM ada kursi, sebenarnya Homo erectus sudah bisa berdiri. Ironisnya, setelah bisa berdiri, obsesi pertama manusia adalah bagaimana caranya duduk lagi, tapi terhormat.

Di Mesir Kuno, kursi cuma buat Firaun. Rakyat? Lesehan! Pesan moralnya: “Kalau bokongmu nggak napak tanah, berarti derajatmu tinggi”.

Tradisi ini berlanjut sampai sekarang. Coba lihat kantor: makin tinggi jabatan, makin empuk kursinya. Dirut pakai Herman Miller, staf pakai kursi plastik bunyi kriet-kriet. Ini bukan ergonomi, ini feodalisme berbusa. Kepresidenan Indonesia didominasi virus amnesia sehingga para presiden yang duduk di tahta kepresidenan lazimnya pelupa terutama terhadap janji-janji yang diobral pada masa kampanye pilpres.

Abad 18, Eropa bikin Chaise Longue. Artinya: “Kursi Panjang”. Fungsinya: rebahan sambil baca Voltaire biar keliatan intelek. Di Indonesia kita sebut “kursi malas”. Jujur. Ne superbias.

Secara fenomenologi Hussrel yang diwariskan ke Heiddeger, dapat dikatakan bahwa kursi malas adalah bentuk otentik manusia: ada, tapi menolak produktif. Anda rebahan, tapi karena di kursi mahal, jadi keliatan self-care, bukan pemalas. Kursi malas adalah sertifikat apologis resmi untuk tidak berbuat apa pun.

Sebelum ada meja makan, manusia makan di lantai, rebutan. Meja makan memaksa kita: 1) Duduk tegak, 2) Bagi ruang, 3) Nggak ngambil lauk pakai tangan kiri dari ujung. Meja makan adalah PBB versi dapur.

Fakta gemesin: Meja Bundar ala Raja Arthur atau Belanda lawan Indonesia di Den Haag itu biar tidak ada yang merasa di “ujung”. Tapi di hajatan Sunda, yang duduk di meja bundar tetap rebutan kepala ikan. Artinya: perabot boleh modern, mental tetap gragas.

Meja tulis ditemukan biara abad pertengahan. Fungsinya: menyalin Injil biar tidak pegel. Evolusinya: jadi tempat skripsian, tempat bikin surat PHK, tempat nulis status sedang diproses.

Filsafat Meja Tulis: semakin berantakan, semakin abstrak isi pikiran pemiliknya. Meja kosong berarti otak pemiliknya juga kosong, atau dia freak kebersihan.

Meja rapat bentuknya lonjong biar semua keliatan. Padahal yang ngomong cuma 2 orang, 10 orang lainnya main HP di bawah meja.

Antropologi meja rapat: Ini ritual. Tujuannya bukan keputusan, tapi “kita sudah rapat”. Kursinya sengaja dibikin nggak nyaman biar rapat cepat selesai. Kalau empuk, namanya rapat paripurna tidur.

Filsafat Meja Rapat: semakin besar mejanya, semakin kecil keputusannya.

Kalau kursi adalah soal “gengsi”, maka ranjang adalah soal “eksistensi”. Tempat kita lahir, bikin anak, dan pura-pura mati tiap malam.

Balebale dari bambu. Multitasking. Pagi buat jemur padi, siang buat goler, sore buat terima tamu, malam buat tidur 5 orang. Open source, bisa dibikin sendiri.

Filsafat balebale: Hidup itu berbagi. Bahkan ruang buat ngorok. Nggak ada “punya gue”. Beda sama springbed yang kalau diinjek pacar langsung bilang "ini area pribadi". Kelemahan: Kalau ada yang kentut, satu balebale kena semua. Ini demokrasi sejati.

Dipan = ranjang kayu + ukiran. Pesan: "Saya sudah tidak tidur sama ayam". Dipan adalah balebale yang kuliah di luar negeri. Mulai ada kasta: dipan jati = sultan, dipan triplek = kontrakan.

Fenomena unik: dipan harus bunyi ngik-nguk kalau tidak, nggak afdol. Bunyi itu alarm alami buat anak kos kalau bapak atau ibu kos lewat. Ranjang Besi Rumah Sakit  desainnya dingin, cat putih, bunyi kriyet. Kakek moyang ranjang ICU.

Akibatnya, generasi kita kalau lihat ranjang besi langsung trauma. Padahal kuat. Ini bukti: desain mempengaruhi psikologi.

Makanya ranjang sekarang ditutupin bed cover motif bunga biar kita tidak trauma disuntik. Springbed ditemukan 1871 sebagai pesan lembut kapitalisme. Janjinya: “Tidur seperti di awan”. Realitanya: 5 tahun kemudian per-nya nonjok punggung.

Filsafat springbed mengajarkan kita konsep “kredit”. Bayar nyicil 12x,  nikmatnya 3x, sisanya ngeluh sakit pinggang. Springbed adalah metafora utang negara kapitalis. 

Puncak Peradaban Rebahan adalah hammock. Ditemukan suku Maya. Dibawa Columbus ke Eropa. Fungsinya: tidur di kapal biar tidak gelundung. Filsafat hammock: hidup itu tentang keseimbangan. Goyang dikit, jatuh. Tidak bisa berdua kecuali mau pelukan terus. Nggak bisa taruh HP, nanti jatuh. Rusak!

Hammock memaksa kamu lepas dari realita keduniawian. Hammock anti-meja rapat. Di hammock, tidak ada KPI. Adanya: "Zzzzz...".

Fakta membuktikan orang beli hammock Rp 2 juta, dipasang di teras, dipakai 2 kali, selanjutnya jadi jemuran handuk. Ini namanya “healing kapitalis”.


Ekuasi Tak Terpecahkan

Sebelumnya

Kelirumologi Abu Nawas = Imam Hoja

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana