Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DARI sekian banyak mahasastrawan yang tidak pernah menerima Nobel, termasuk di antaranya adalah Jorge Luis Borges. Memang Borges adalah penulis Argentina yang tidak pernah menerima anugerah Nobel untuk Sastra, meskipun banyak yang menganggapnya layak.
Secara alasanologis dapat dijelaskan kenapa Borges tidak pernah menerima Nobel, antara lain adalah:
Politik
Borges memiliki pandangan politik konservatif dan kritis terhadap pemerintahan Peron di Argentina. Hal ini membuatnya tidak disukai oleh beberapa anggota Komite Nobel. Selain itu, Borges juga pernah menerima penghargaan dari Jenderal Augusto Pinochet di Chili, yang membuatnya dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai liberal dan demokratis.
Selera
Beberapa anggota Komite Nobel menganggap karya Borges terlalu eksklusif dan artifisial, tidak cukup "populer" untuk menerima penghargaan tersebut. Mereka juga mungkin merasa bahwa karya Borges terlalu kompleks dan sulit dipahami oleh pembaca umum.
Nominasi dan Kontroversi
Borges pernah dinominasikan untuk Nobel Prize beberapa kali, termasuk pada tahun 1967, 1968, 1969, dan 1970. Namun, sama halnya dengan Leo Tolstoi, Jorge Luis Borges tidak pernah berhasil meraih penghargaan tersebut sebab sudah wafar pada tahun 1986.
Pada tahun 2017, arsip Komite Nobel mengungkap bahwa sebenarnya Borges adalah satu dari tiga finalis untuk meraih Nobel pada tahun 1967, namun akhirnya diberikan kepada Miguel Ángel Asturias.
Borges sendiri pernah menyatakan bahwa Nobel sekadar "tradisi Skandinavia", maka ia tidak terlalu peduli dengan penghargaan tersebut. Namun, banyak pengkritik dan penulis yang merasa bahwa Borges layak menerima Anugerah Nobel karena kontribusinya besar terhadap sastra dunia.
Gaya tulisan Jorge Luis Borges unik dan inovatif. Dia dikenal karena kemampuannya menciptakan dunia fiksi yang kompleks dan menarik, dengan menggunakan bahasa yang tepat dan menggugah sukma.
Borges sering mencampurkan unsur-unsur dari berbagai genre sastra, termasuk cerpen, puisi, esai, dan fiksi ilmiah, menciptakan karya-karya yang sulit diklasifikasikan. Jati diri gaya tulisan Borges adalah kompleksitas, metafora, labirintal, manipulasi waktu dan ruang, filsafat identitas, realitas dan takdir.
Beberapa karya-karya terkemuka Borges antara lain adalah:
The Garden of Forking Paths (1941) sebagai sebuah cerita pendek yang kemudian termasuk ke dalam Ficciones. Cerita ini tentang seorang mata-mata Cina yang bekerja untuk Jerman selama Perang Dunia I. Cerita ini mengeksplorasi tema-tema filosofis seperti waktu, ruang, dan identitas.
Ficciones (1944) adalah kumpulan cerita pendek yang paling terkenal dariBorges. Cerita-cerita dalam buku ini mengeksplorasi tema-tema seperti waktu, ruang, identitas, dan realitas. Beberapa cerita yang paling terkenal termasuk "The Garden of Forking Paths", "Tlön, Uqbar, Orbis Tertius", dan "The Circular Ruins". Ficciones dianggap sebagai salah satu karya sastra paling berpengaruh di abad ke-20. Ada kesan topologi hadir pada karya Borges.
El Aleph (1949) adalah kumpulan cerita pendek yang juga sangat terkenal dari Borges. Cerita-cerita dalam buku ini mengeksplorasi tema-tema seperti waktu, ruang, dan identitas. Cerita "The Aleph" sendiri adalah tentang seorang pria yang menemukan sebuah titik di ruang yang mengandung semua titik lain di alam semesta.
The Book of Sand (1975)merupakan antologi cerita pendek yang lebih pendek dari Ficciones dan El Aleph. Cerita-cerita dalam buku ini mengeksplorasi tema-tema seperti waktu, ruang, dan identitas. Cerita "The Book of Sand" an sich merupakan sebuah buku yang tidak memiliki awal atau akhir. Mahakarya ini ditulis setelah Borges tuna-netra.
Secara keseluruhan, karya-karya Borges abadi dikenang karena kompleksitas dan kedalamannya, serta kemampuan mengeksplorasi tema-tema filosofis dan metafisik dengan cara yang khas dan atraktif ke luar dari kotak kelaziman.




KOMENTAR ANDA