post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

BERDASAR penelitian Pusat Studi Humorologi, sifat humor bukan konsepsual namun kontekstual tergantung pada persepsi pihak penerima pesan humor. Maka sifat humor bukan niscaya lucu karena bisa juga tidak lucu bahkan tragis

Film “Florence Foster Jenkins” dibintangi Meryl Steep dan Hugh Grant menceritakan kisah nyata Florence Foster Jenkins, seorang sosialita kaya raya di New York pada tahun 1940-an yang memiliki impian besar menjadi penyanyi opera, meskipun suaranya tidak bagus.

Florence didukung oleh suaminya, St. Clair Bayfield, yang berusaha melindungi perasaan istrinya dari hujan-badai kritik melukai sanubari. Florence menyewa seorang pianis, Cosmé McMoon, untuk mengiringi nyanyiannya.

Meskipun semula McMoon terkejut dengan suara Florence yang tidak bagus, ia tetap mendukungnya. Florence kemudian memutuskan untuk menyelenggarakan resital di Carnegie Hall, yang membuat St. Clair dan McMoon kelabakan.  Konser tersebut menjadi tersohor, dengan sebagian penonton tertawa dan yang lain terharu oleh penampilan Florence.

Meskipun mendapat kritik, Florence tetap percaya diri dan merasa telah mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Film ini berakhir pada adegan Florence menyanyikan "Ave Maria" dengan suara merdu sama sekali tidak buruk menjelang ajal di tempat tidurnya, ditemani St.Clair dan McMoon. 

emang sebenarnya Meryl Streep mampu merdu menyanyi seperti terbukti pada film Mama Mia.

Film tersebut telah menerima kehormatan dinominasikan menerima anugerah penghargaan sebagai film terbaik Academy Awards maupun Golden Globe. Sayang mungkin akibat Meryl Streep sudah terlalu sering menerima anugerah Oscar dan Golden Globe maka dewan juri membatalkan nominasi film keren tersebut. 

Menurut selera subyektif saya, Meryl Streep seperti biasa tampil luar biasa ditambah indera humor sakti mandraguna beserta kemampuan acting sedemikian dahsyat sehingga mampu bersandiwara alias berpura-pura demi berjaya berperan sebagai seorang penyanyi yang nekad akibat tidak sadar bahwa suaranya buruk.

Last but least, di sisi lain menurut hasil kajian Pusat Studi Humorologi dapat disimpulkan bahwa film Florence Foster Jenkins layak dinobatkan sebagai film humor-tragis terlucu sekaligus tersedih yang pernah tampil di layar lebar.

Terkesan skenario kisah  ditulis oleh mereka yang benar-benar paham tentang kemelut penuh deru campur debu sarat persikan keringat,air mata dan darah industri seni musik abadi Amerika Serikat yang tidak suci hama hipokrita serta kekejaman para kritikus musik membinasakan karakter dan karier para pemusik.

Wajar apabila George Gershwin tidak pernah peduli terhadap hujan-badai kritik terhadap dirinya sehingga kini diabadikan dengan goresan tinta emas dalam sejarah seni musik sebagai seorang komponis lintas genre musik abadi setara dengan Bach, Beethoven, Brahms, Berlioz, Bruckner, Bartok, Britten, Blacher.

Film Florence Foster Jenkins dikemas secara prima dengan sentuhan humor tragis yang halus maka terasa indah permai lembut membelai lubuk sanubari mereka yang masih punya sanubari.

 


Pesona Clochan An Aifir

Sebelumnya

Etimologi, Toponimi, dan Geografi Amazon

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana