post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

SEBAGAI warga Indonesia yang kerap disebut sebagai keturunan Cina, saya sangat berterima kasih kepada Gus Dur. Beliau adalah pelopor gerakan merayakan Imlek – yang sempat ditabukan di masa Orba – sebagai Hari Raya Nasional. Hari Natal sudah menjadi Hari Raya Nasional bagi umat Nasrani.

Demikian pula Paskah terutama bagi umat Katolik. Umat Islam punya Idul Fitri alias Lebaran yang didahului bulan suci Ramadhan. Umat Buddha merayakan Waisak. Umat Hindu-Bali punya Hari Raya Nyepi. Tersisa Diwali masih belum, padahal Singapura, Malaysia, apalagi India sudah resmi merayakan Diwali sebagai Hari Raya Nasional. 

Saya bukan umat Hindu namun justru sesuai ajaran pluralisme Gus Dur, saya merasa teman-teman sesama warga Indonesia keturunan India diperlakukan tidak adil. Hari Raya Diwali alias Depawali belum resmi hadir di persada Indonesia masa kini . Jangan bilang peradaban India tidak berpengaruh bagi Indonesia.

Kerajaan pertama Nusantara adalah Kutai Martadipura yang resmi Hindu sesuai 7 Prasasti Yupa dalam bahasa Sansekerta tentang sedekah Raja Mulawarman ke kaum Brahmana.  Candi Prambanan merupakan fakta tak terbantahkan tentang warisan peradaban Hinduisme di persada Nusantara. Tidak ada alasan untuk keberatan Diwali dirayakan di Indonesia sebagai Hari Raya Nasional seperti Idul-Fitri, Natal, Paskah, Waisak, Nyepi, Imlek.

Diwali dirayakan umat Hindu sebagai “festival cahaya” yang melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, terang atas gelap, dan pengetahuan atas kebodohan. Alasannya tidak tunggal karena setiap daerah punya cerita utama yang dirayakan pada hari Diwali.

Semisal India Utara: Rama pulang ke Ayodhya setelah 14 tahun diasingkan dan mengalahkan Rahwana di Ramayana versi Walmiki. Warga pasang diya/pelita di jalan biar Rama tidak tersesat ketika pulang ke rumah = dharma. Cahaya adalah penunjuk jalan.

Lain halnya dengan India Selatan di mana Krishna mengalahkan Narakasura , raksasa penculik 16.000 perempuan. Hari kematiannya = Naraka Chaturdashi = keadilan menang. Keesokan harinya mandi minyak sebelum fajar sebagai simbol penyucian.

Diwali versi Bengal dan India Timur memuja Dewi Kali/Durga yang menaklukkan Mahishasura. Makna Kali Puja adalah kekuatan spiritual feminim melindungi dunia. Masyarakat pedagang Gujarat merayakan Diwali sebagai Lakshmi Puja. Dewi Lakshmi, dewi kemakmuran,turun ke bumi pada malam Hari Diwali. Toko-toko buka buku baru, lampu dinyalakan agar Lakshmi berkenan mampir. Masyarakat bersih-bersih rumah dan menyalakan lampu demi mengundang rezeki & keberkahan.

Meski banyak versi, perayaan Diwali memiliki makna yang sama:

1. Cahaya vs Gelap
Diya/lampu minyak dinyalakan di rumah, jalan, sungai. Filosofinya: atma/jiva itu percikan cahaya dewa-dewi . Nyalakan lampu demi mengingatkan diri sendiri masing-masing tentang makna spiritual Diwali

2. Awal baru
Diwali = Tahun Baru Hindu di banyak kalender, terutama Kalender Vikram. Makanya ada  tradisi bersih-bersih rumah, beli baju baru, bayar utang, maaf-maafan. Kelam kemarin dibuang, mulai terang.

3. Kemenangan pengetahuan
Gelap = avidya/kebodohan. Terang = vidya/ pengetahuan. Petasan, lampu, rangoli warna-warni adalah cara mengusir “kegelapan batin” sambil bersuka-ria.

Diwali tetap relevan sampai masa kini atas beberapa alasan:

1. Universal
Semua suka cerita “yang baik menang”! Maka Diwali dirayakan Hindu, Sikh, Jain, Buddha Newar, bahkan non-agama di diaspora India.

2. Komunitas
Kumpul keluarga, bagi-bagi mithai/permen, kirim angpao. Di Jakarta ada di Little India Pasar Baru bahkan kuil Hindu terbesar di Asia Tenggara.

3. Simbol harapan
Dirayakan pada bulan baru Kartika = malam tergelap. Justru di titik paling gelap, manusia membuat terang sendiri.

Umat Hindu merayakan Diwali sebagai malam tahun demi menyadarkan diri bahwa seterang-terangnya dunia dimulai dari satu pelita kecil yang kita nyalakan di rumah, dan di hati. Maka demi menjunjung tinggi marwah falsafah Bhinneka Tunggal Ika, dari lubuk sanubari terdalam saya tulus mendambakan bahwa setelah Pemerintah Indonesia meresmikan Imlek sebagai Hari Raya Nasional, pada suatu hari Pemerintah Indonesia juga berkenan meresmikan Diwali sebagai Hari Raya Nasional . MERDEKA!

 


Jalan Emas Richard Gere

Sebelumnya

Tentang Musik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana