post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam sementara pasar saham global melonjak setelah munculnya laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri konflik bersenjata. Sentimen positif ini muncul di tengah ketegangan panjang yang telah mengganggu stabilitas energi dan ekonomi dunia selama beberapa bulan terakhir.

BBC melaporkan, harga minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur harga minyak global, sempat jatuh ke level 97 dolar AS (£73) per barel menyusul laporan tersebut, sebelum akhirnya kembali stabil di atas 101 dolar AS. Penurunan ini sangat signifikan mengingat pada awal perdagangan di hari yang sama, harga minyak masih bertengger di atas angka 108 dolar AS per barel.

Di sektor ekuitas, indeks FTSE 100 di London dan indeks Dax Jerman ditutup menguat lebih dari 2%, sementara indeks Cac 40 Prancis naik 3%. Tren penguatan ini juga merambah ke bursa AS dengan indeks S&P 500 yang terkerek naik lebih dari 1%, serta indeks-indeks utama di Asia yang turut mengakhiri hari di zona hijau.

Pergerakan pasar ini dipicu oleh laporan dari Axios yang menyebutkan bahwa pemerintah AS meyakini mereka hampir mencapai kesepakatan satu halaman. Dokumen tersebut diharapkan menjadi landasan untuk mengakhiri perang dan membuka jalan bagi pembicaraan nuklir yang lebih mendetail di masa depan.

Pihak Iran memberikan respons hati-hati melalui juru bicara kementerian luar negerinya. Dalam keterangan kepada Iranian Students' News Agency, Teheran mengonfirmasi bahwa proposal AS untuk mengakhiri perang sedang dalam tahap pertimbangan, meskipun belum ada keputusan final yang diambil.

Namun, optimisme pasar sedikit tertahan oleh pernyataan Presiden Donald Trump melalui media sosial Truth Social. Trump memperingatkan bahwa asumsi Iran akan menyetujui kesepakatan adalah sebuah "asumsi besar", seraya mengancam akan melakukan pemboman dengan intensitas jauh lebih tinggi dari Operasi Epic Fury jika kesepakatan gagal tercapai.

Meski sempat turun, harga minyak saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan level 70 dolar AS per barel sebelum pecahnya perang AS-Israel dengan Iran. Konflik ini telah melumpuhkan produksi dan transportasi minyak di kawasan Timur Tengah secara signifikan sejak serangan pertama pada 28 Februari lalu.

Titik sentral dari konflik ini adalah ancaman Iran untuk menyerang kapal-kapal minyak yang melintasi Selat Hormuz. Selat sempit ini merupakan jalur vital yang biasanya dilalui oleh seperlima dari total pengiriman minyak dan gas global, namun telah efektif tertutup selama berminggu-minggu akibat perang.

Di pasar Asia, bursa saham mencatat kenaikan pada hari Rabu dengan Kospi Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 6,45%. Sementara itu, Hang Seng Hong Kong naik 1,22% dan Nikkei Jepang berakhir 0,38% lebih tinggi, meskipun secara kumulatif Hang Seng masih berada di bawah level awal perang.

Ketidakpastian sempat memuncak akhir pekan lalu ketika Presiden Trump mengumumkan "Project Freedom", sebuah operasi militer untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz. Langkah ini justru memicu peningkatan eskalasi serangan di selat tersebut, baik dari pihak Iran maupun militer Amerika Serikat.

Pada hari Selasa, Trump memberikan sinyal pelunakan dengan menyatakan akan menghentikan sementara operasi tersebut guna memberi ruang bagi finalisasi perjanjian. Ia mengklaim bahwa "kemajuan besar telah dicapai" menuju kesepakatan akhir, meski AS tetap memblokir kapal-kapal menuju pelabuhan Iran untuk menekan ekonomi Teheran.

Laporan Axios merinci bahwa memorandum kesepahaman tersebut tidak hanya mendeklarasikan penghentian perang, tetapi juga memulai periode negosiasi 30 hari. Agenda utamanya meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, dan pencabutan sanksi ekonomi AS.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menambahkan bahwa tujuan awal ofensif AS-Israel di Iran telah tercapai. "Kami lebih memilih jalan damai. Apa yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan," ujar Rubio, menegaskan posisi Washington yang mulai bergeser ke arah diplomasi.

Dari pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Ghalibaf menunjukkan sikap yang lebih keras dengan menyatakan bahwa status quo saat ini lebih tidak tertahankan bagi Amerika dibandingkan bagi Iran. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Iran "baru saja dimulai," yang menunjukkan adanya friksi internal di dalam pemerintahan Teheran.

Kini, dunia tengah menantikan jawaban resmi Iran dalam waktu 48 jam ke depan. Jika kesepakatan ini terwujud, hal tersebut akan menjadi titik balik terbesar bagi stabilitas energi dunia dan mengakhiri kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.


Superhornet AS Serang Tanker Minyak Iran di Teluk Oman

Sebelumnya

Babak Baru: Iran Resmi Tinjau Proposal 14 Poin Amerika Serikat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia