Mereka sadar bahwa kota tidak boleh tumbuh tanpa visi.
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang besar untuk membangun kota yang lebih manusiawi. Tetapi itu membutuhkan perubahan cara berpikir. Pembangunan kota tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beton, jalan layang, atau proyek mercusuar. Kota harus diukur dari seberapa nyaman manusia hidup di dalamnya.
Apakah warga bisa berjalan kaki dengan aman?
Apakah anak-anak punya ruang bermain?
Apakah pekerja bisa pulang tanpa menghabiskan separuh hidup di jalan?
Apakah ruang publik dapat dinikmati semua lapisan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar citra “kota modern”.
Shanghai membuktikan bahwa kota maju bukanlah kota yang penuh kendaraan, melainkan kota yang memberi ruang bagi manusia untuk hidup dengan lebih layak.
Dan mungkin, di situlah kita perlu mulai belajar.




KOMENTAR ANDA