post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Ketika sebuah kota mampu menghidupkan kembali sungainya, persoalannya bukan lagi kemampuan, melainkan keberanian politik untuk konsisten.

Oleh: Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

SHANGHAI, awal Mei. Pagi itu udara masih menyisakan dingin tipis ketika bus yang kami tumpangi, membawa kami menyusuri tepian Sungai Huangpu. 
Di hadapan kami, gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti simbol kemenangan modernitas: Shanghai Tower, Jin Mao Tower, Oriental Pearl. Namun, yang paling menghentak kesadaran saya justru bukan gedung-gedung itu.

Yang paling menggetarkan adalah sungainya.

Airnya tidak cokelat. Tidak dipenuhi sampah plastik. Tidak mengeluarkan bau menyengat yang memaksa orang menutup hidung. Sungai itu hidup, dan dirawat seperti nadi utama kota.

Di situlah saya tersadar: kota maju tidak dibangun hanya dengan beton dan gedung tinggi, melainkan dengan kemampuan menghormati ruang hidupnya sendiri.

Sebagai mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan yang sedang menjalani studi strategis di Shanghai, saya merasa kota ini sedang mengajari sesuatu yang sering hilang dalam perencanaan kota di Indonesia, yaitu: peradaban sungai.

Kota yang Berdamai dengan Sungainya

Sepanjang kawasan The Bund, trotoar bersih membentang rapi. Jalur pedestrian dipenuhi bunga. Lansia berjalan santai di tepian sungai. Anak-anak bersepeda tanpa rasa khawatir. Wisatawan menikmati kota tanpa harus melihat tumpukan sampah atau saluran air berwarna hitam.

Pemandangan itu terasa kontras bagi siapa pun yang datang dari Jakarta.

Kita hidup di kota yang sungainya justru diperlakukan seperti halaman belakang. Ciliwung, Pesanggrahan, Sunter, hingga Kali Angke selama bertahun-tahun lebih identik dengan banjir, limbah, dan bau tak sedap dibanding ruang publik yang sehat.

Padahal sejarah banyak kota besar dunia lahir dari sungai. Sungai adalah sumber kehidupan, jalur perdagangan, pusat kebudayaan, sekaligus simbol kemajuan sebuah peradaban. Tetapi di banyak kota Indonesia, hubungan itu perlahan terputus.

Sungai berubah menjadi tempat pembuangan.

Dan yang lebih berbahaya: masyarakat mulai menganggap kondisi itu sebagai sesuatu yang normal.

Shanghai Tidak Berubah dalam Semalam

Banyak orang melihat Shanghai hari ini lalu menganggapnya sebagai keajaiban. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah hasil dari konsistensi kebijakan selama puluhan tahun.

Suzhou Creek — salah satu sungai yang kini menjadi ikon urban Shanghai — pernah tercatat sebagai salah satu sungai paling tercemar di China. Pada 1990-an, kualitas airnya bahkan gagal memenuhi standar terendah nasional. 
Bau busuk menyelimuti kawasan sekitar. Limbah industri mengalir tanpa kontrol. Warga menjauh dari sungai.

Lalu pemerintah Shanghai mengambil keputusan besar.

Mereka membentuk badan koordinasi tunggal untuk rehabilitasi sungai. Pendanaannya diperkuat melalui dukungan Asian Development Bank dan World Bank. Pabrik-pabrik di sepanjang bantaran sungai dipindahkan atau ditutup. Sistem pengolahan limbah diperbaiki secara agresif. Jalur hijau dibangun. Ekosistem air dipulihkan.

Yang paling penting: kebijakan itu tidak berhenti karena pergantian pejabat.

Inilah titik yang sering menjadi masalah di Indonesia. Banyak program lingkungan berhenti pada seremoni, pergantian slogan, atau proyek jangka pendek. Setiap pemimpin datang dengan program baru, tetapi tidak semua memiliki keberanian untuk menjaga kesinambungan.

Padahal rehabilitasi sungai bukan proyek lima tahun. Ia adalah proyek generasi.

Jakarta dan Krisis Tata Kelola Sungai

Jakarta sesungguhnya tidak kekurangan rencana. Pemerintah memiliki banyak program normalisasi, naturalisasi, sanitasi, hingga revitalisasi bantaran sungai. Anggaran juga tidak sedikit.


Kisah Tianrui Liang yang Mengabadikan “Pesawat Kiamat” Tanpa Izin

Sebelumnya

Dongeng Sebagai Tangga Menuju Sains: Kisah ODM Menyalip Teori Oralitas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Gaya Hidup