Namun masalah utama Jakarta bukan semata kekurangan dana, melainkan fragmentasi tata kelola.
Pengelolaan sungai terpecah di banyak institusi: pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian teknis, dinas lingkungan, dinas SDA, hingga berbagai proyek lintas sektor yang sering tidak sinkron. Di lapangan, masyarakat melihat program yang datang silih berganti, tetapi persoalan dasarnya tetap sama.
Banjir masih datang. Limbah domestik terus mengalir. Permukiman di bantaran sungai tumbuh tanpa pengendalian.
Kita terlalu lama memandang sungai hanya sebagai saluran air.
Padahal sungai seharusnya dipandang sebagai Pusat Ekologi Kota.
Belajar dari Cara China Berpikir Jangka Panjang
Ada satu pelajaran penting yang saya rasakan selama berada di Shanghai China: negara ini membangun kotanya dengan perspektif jangka panjang.
Pemerintah tidak sekadar berpikir bagaimana menyelesaikan masalah tahun ini, tetapi bagaimana membentuk wajah kota untuk puluhan tahun ke depan.
Karena itu, penataan sungai di Shanghai tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan transportasi publik, tata ruang, kawasan bisnis, pedestrian, ruang hijau, hingga kualitas hidup warga.
Sungai Diposisikan Sebagai Aset Strategis Kota.
Di Jakarta, kita masih sering terjebak pada pola pikir reaktif. Ketika banjir datang, fokus utama adalah pompa air dan pengerukan. Ketika pencemaran meningkat, solusi yang muncul sering bersifat sementara.
Padahal yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma.
Kota modern bukan kota yang hanya dipenuhi jalan layang dan gedung tinggi. Kota modern adalah kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup.
Sungai sebagai Simbol Peradaban
Pengalaman di Shanghai membuat saya percaya bahwa Jakarta sebenarnya masih punya harapan.
Ciliwung belum terlambat diselamatkan. Sungai-sungai Jakarta belum kehilangan masa depannya. Tetapi syaratnya satu: harus ada keberanian politik untuk berpikir melampaui siklus elektoral.
Revitalisasi sungai membutuhkan konsistensi lintas pemerintahan, penguatan tata kelola, penegakan hukum lingkungan, serta perubahan budaya masyarakat.
Dan yang tidak kalah penting: sungai harus dikembalikan menjadi ruang publik yang dicintai warga.
Karena ketika masyarakat merasa memiliki sungainya, mereka akan ikut menjaganya.
Pada akhirnya, kualitas sungai sebuah kota sesungguhnya mencerminkan kualitas peradabannya.
Kota yang membiarkan sungainya mati perlahan sedang memperlihatkan kegagalannya menghormati kehidupan.
Sebaliknya, kota yang mampu menghidupkan kembali sungainya sedang membangun masa depan.
Shanghai telah membuktikan itu.
Pertanyaannya sekarang: apakah Jakarta memiliki keberanian yang sama?




KOMENTAR ANDA