Maskapai penerbangan Amerika Serikat, United Airlines, kini resmi mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) bernama 'ConnectionSaver' untuk membantu mengatasi masalah penumpang yang kerap tertinggal penerbangan lanjutan (connecting flight).
Program inovatif ini dirancang khusus untuk membantu staf bandara, terutama di hub padat seperti Bandara Internasional Denver (DEN), dalam mengambil keputusan krusial secara real-time apakah mereka harus menunda keberangkatan pesawat demi menunggu penumpang yang terlambat atau tidak.
Sistem berbasis AI ini bekerja dengan cara menganalisis dampak potensial penundaan terhadap jadwal penerbangan secara keseluruhan, serta mengukur risiko gangguan operasional yang lebih luas. Melalui algoritma cerdas, ConnectionSaver mempertimbangkan berbagai variabel rumit seperti koneksi kru, jam kerja kru, rute pesawat, hingga batas waktu maksimum pesawat di darat agar tetap bisa tiba tepat waktu di tujuan.
Pihak United Airlines mengklaim bahwa teknologi ini telah berhasil menyelamatkan sekitar 54,000 koneksi penerbangan penumpang sepanjang tahun ini.
Vincent Passafiume, selaku Direktur Layanan Pelanggan Operasional Bandara United Airlines, menjelaskan bahwa sistem ini memberikan kepastian yang objektif bagi para petugas di lapangan.
Jika ada penumpang yang berisiko melewatkan penerbangan lanjutannya, AI akan langsung menghitung apakah pesawat bisa ditahan selama beberapa menit tanpa mengorbankan waktu penumpang lain yang sudah berada di dalam kabin. Di masa lalu, kendala komunikasi dan rumitnya variabel penerbangan sering kali memaksa maskapai untuk meninggalkan penumpang tersebut.
Integrasi Aplikasi dan Fitur Otomatis bagi Penumpang
Teknologi ini terhubung langsung ke Pusat Operasional United di Denver dan dapat diakses oleh supervisor layanan pelanggan, namun manfaatnya juga bisa dirasakan langsung oleh penumpang melalui aplikasi seluler resmi United Airlines.
Ketika program ConnectionSaver diaktifkan untuk seorang penumpang, aplikasi akan menampilkan penghitung waktu mundur (countdown) menuju keberangkatan serta panduan arah langkah-demi-langkah (turn-by-turn) di dalam terminal untuk membantu mereka menavigasi jalan dari gerbang kedatangan menuju gerbang keberangkatan berikutnya.
Hebatnya, sistem ini hanya akan merekomendasikan penundaan pesawat selama beberapa menit jika pilot dinilai mampu mengejar keterlambatan tersebut dengan aman saat berada di udara. Selama proses simulasi, algoritma juga ikut memperhitungkan pola cuaca, rute penerbangan, dan kecepatan taksi pesawat di landasan.
Jika pada akhirnya penumpang tetap tidak dapat mengejar pesawat, ConnectionSaver secara otomatis akan menjalankan fitur rebooking mandiri, lengkap dengan daftar opsi penerbangan alternatif serta kompensasi penginapan dan makanan jika memenuhi syarat.
Transformasi Digital Menyeluruh di Industri Penerbangan
Langkah United Airlines dalam memperluas skala kecerdasan buatan ini mencerminkan pergeseran fundamental menuju otomatisasi pengambilan keputusan di industri penerbangan komersial global. Penerapan AI di maskapai ini bahkan telah merambah ke berbagai lini bisnis lainnya.
Pada akhir tahun 2025, CFO United Airlines, Mike Leskinen, mengonfirmasi bahwa efisiensi yang didorong oleh AI telah mengotomatisasi dan menggantikan 8% peran manajemen perusahaan, dengan proyeksi pengurangan 4% lagi pada tahun 2026.
Selain membantu penumpang transit, United Airlines juga memanfaatkan AI untuk membuat pesan otomatis terkait keterlambatan akibat cuaca ekstrem, yang diklaim berhasil meningkatkan kepuasan pelanggan sebesar 6%. Teknologi machine learning ini pun diterapkan pada sektor pemeliharaan armada (maintenance) dan optimalisasi rute penerbangan berdasarkan analisis data massal seputar kondisi ruang udara serta beban pesawat.
Meskipun sempat menghadapi beberapa kendala teknis dalam proses integrasinya, hampir seluruh maskapai global kini terus memacu pemanfaatan AI di setiap level model bisnis mereka.




KOMENTAR ANDA