Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah terjadinya pertukaran serangan militer paling intensif sejak kesepakatan sementara ditandatangani bulan lalu. Situasi ini mengancam akan menghancurkan stabilitas rapuh yang sempat terbangun, memicu kekhawatiran dunia akan kembalinya konflik skala penuh di kawasan Teluk yang strategis.
Di sela-sela KTT NATO di Ankara, Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan bahwa AS siap meluncurkan serangan lanjutan. Trump secara spesifik mengancam akan mengambil alih Pulau Kharg di Selat Hormuz, sebuah langkah provokatif yang diprediksi dapat memicu pembalasan Iran terhadap instalasi energi di seluruh negara-negara Teluk.
Serangan udara AS dilaporkan kembali menghantam target-target di Iran pada Rabu malam, 8 Juli 2026. Pejabat militer AS menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur krusial yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Sebagai tanggapan, Iran mengumumkan doktrin militer baru yang menyatakan tidak ada lagi perbedaan antara Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut. Hal ini menandai pergeseran taktis Iran yang kini memandang negara-negara tetangganya di Teluk sebagai sasaran yang setara dengan target-target Amerika.
Sebelumnya, Komando Pusat AS melaporkan telah menghancurkan 80 target Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz pada hari Selasa. Ketegangan semakin diperparah dengan keputusan Departemen Keuangan AS yang mencabut pengecualian sanksi ekspor minyak bagi Teheran, membatalkan salah satu manfaat utama dari kesepakatan damai sebelumnya.
Iran membalas serangan AS dengan menargetkan fasilitas militer Amerika di Bahrain dan Kuwait. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang 85 fasilitas, yang mengakibatkan sirine peringatan serangan udara meraung-raung di kedua negara tersebut. Eskalasi ini menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam dalam perdagangan Rabu kemarin.
Inti dari konflik ini terletak pada sengketa kendali atas Selat Hormuz. Iran bersikeras bahwa kapal-kapal harus melintasi jalur utara di bawah kendali mereka, sementara AS mendukung rute selatan yang dekat dengan pesisir Oman. Teheran menuduh AS melanggar nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati, sementara AS menuduh Iran melakukan tindakan pembajakan terhadap kapal-kapal komersial.
Dalam retorikanya, Trump sempat menyebut para negosiator Iran sebagai pembohong dan memperingatkan bahwa ia bisa menghancurkan infrastruktur Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik. Namun, menjelang Rabu malam, nada bicara Trump melunak. Ia menyatakan bahwa konflik ini akan berakhir dengan cepat dan menegaskan bahwa AS tidak berniat untuk terlibat dalam perang jangka panjang.
Di sisi lain, situasi internal Iran sedang diliputi duka mendalam seiring dengan rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang tewas akibat serangan udara AS-Israel. Massa yang memadati prosesi pemakaman menuntut pembalasan, menambah tekanan emosional dan politis bagi para pemimpin Iran untuk tidak mengalah dalam menghadapi tekanan militer AS.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan dukungannya terhadap tindakan AS, dengan menempatkan tanggung jawab pelanggaran gencatan senjata sepenuhnya kepada Iran. Meski diplomat dari berbagai negara mendesak untuk fokus pada kesepakatan damai, ketidakpastian di Selat Hormuz tetap menjadi ancaman nyata bagi keamanan energi dan stabilitas geopolitik global.




KOMENTAR ANDA