post image
KOMENTAR

Tiongkok dilaporkan telah memberlakukan larangan terbang tanpa batas waktu bagi sebagian besar aktivitas penerbangan umum (General Aviation atau GA) di seluruh negeri. Langkah drastis ini diambil menyusul kecelakaan fatal yang melibatkan sebuah pesawat ringan yang menabrak gedung pencakar langit tertinggi di Beijing pada minggu lalu.

Insiden tersebut terjadi ketika sebuah pesawat sport dua kursi menabrak CITIC Tower, yang juga dikenal sebagai China Zun, sebuah gedung dengan ketinggian 528 meter. Kecelakaan yang terjadi pada jam sibuk sore hari tersebut menewaskan pilot pesawat dan menyebabkan 13 orang di darat mengalami luka-luka akibat tertimpa puing-puing serta pecahan kaca gedung.

Meskipun otoritas penerbangan Tiongkok belum mengeluarkan pengumuman publik secara resmi, berbagai operator penerbangan di seluruh negeri mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima instruksi untuk menghentikan seluruh kegiatan penerbangan rekreasi. Larangan ini mencakup berbagai aktivitas, mulai dari wisata panorama, pelatihan penerbangan, paralayang, hingga skydiving.

Langkah ini menandai salah satu pembatasan paling menyeluruh yang pernah diberlakukan pada sektor penerbangan umum di Tiongkok yang selama ini memang berada di bawah pengawasan ketat. Keputusan ini dinilai mengejutkan mengingat Beijing baru saja gencar mempromosikan "ekonomi ketinggian rendah" untuk mendorong investasi pada drone, pesawat listrik, dan penerbangan pribadi.

Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan pada 26 Juni tersebut diketahui merupakan pesawat sport ringan Aurora SA60L buatan dalam negeri. Pesawat itu dilaporkan lepas landas dari Bandara Shifosi di timur laut Beijing sebelum akhirnya menghantam bagian atas CITIC Tower, yang memicu kepanikan di kawasan pusat bisnis ibu kota.

Keberadaan pesawat tersebut di pusat Beijing memicu kekhawatiran keamanan yang signifikan, mengingat ruang udara di atas ibu kota Tiongkok merupakan salah satu area dengan kontrol paling ketat di dunia. Sebagian besar ruang udara di Beijing diawasi ketat oleh militer, dengan zona larangan terbang permanen yang mencakup pusat politik penting di sekitar Lapangan Tiananmen.

Para ahli penerbangan menyatakan bahwa insiden ini telah mengungkap kerentanan dalam sistem pengawasan ruang udara Tiongkok. Munculnya pesawat yang tidak terduga di pusat kota memaksa otoritas untuk melakukan inspeksi keselamatan intensif, termasuk penangguhan nasional pada sekolah-sekolah penerbangan sementara prosedur operasional sedang ditinjau kembali.

Meskipun aktivitas penerbangan rekreasi dihentikan, pengecualian dilaporkan tetap diberikan untuk penerbangan darurat dan misi tertentu yang telah disetujui oleh pemerintah. Namun, sejauh ini belum ada jadwal pasti mengenai kapan pembatasan ini akan dicabut atau apakah akan ada pelonggaran dalam waktu dekat.

Data pelacakan penerbangan menunjukkan penurunan tajam dalam aktivitas pesawat non-komersial segera setelah kecelakaan tersebut terjadi, yang mengindikasikan bahwa para operator mematuhi instruksi pemerintah dengan cepat. Sementara itu, operasional penerbangan maskapai komersial di seluruh Tiongkok tetap berjalan seperti biasa.

Hingga saat ini, penyebab pasti dari kecelakaan tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak berwenang. Bagi industri penerbangan umum di Tiongkok, pembekuan operasional ini menjadi tantangan besar, terutama di tengah ambisi pemerintah untuk mengembangkan sektor mobilitas udara dan penerbangan ringan dalam beberapa tahun terakhir.


Tabrak Drone Saat Hendak Mendarat, Pesawat Ini Hampir Celaka

Sebelumnya

Masih Diselidiki, Airbus A380 British Airways BA284 Alami Gangguan di Atas Atlantik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews