post image
Romo Franz Magnis Suseno
KOMENTAR

Kearifan lokal yang sering dianggap kuno menjadi relevan untuk menjawab persoalan etika modern.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

BANYAK tokoh dunia di Eropa bernama depan Franz, mulai dari Franz Schubert, Franz Liszt, Franz Lehar, Franz Kafka sampai Franz Beckenbauer. Seorang tokoh dunia di Indonesia juga bernama depan Franz, yaitu Franz Magnis Suseno.

Prof. Franz Magnis Suseno, SJ, genap berusia 90 tahun pada 26 Mei 2026. Bagi banyak orang, beliau bukan sekadar filsuf dan imam Katolik. Beliau adalah guru publik yang mengajarkan bahwa berpikir jernih dan berpihak pada manusia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Bagi saya pribadi, beliau adalah mahaguru filsafat saya yang sedang babak-belur akibat jatuh-bangun berikhtiar memelajari apa yang disebut sebagai filsafat.

Saya mengenal Romo Franz dalam kapasitas sangat personal. Beliaulah yang mendukung saya ketika berbagai pihak menertawakan kehendak muluk-muluk saya menyelenggarakan Simposium Internasional Filsafat Indonesia.

“Bangsa Indonesia memiliki kekayaan pikiran yang layak dipercakapkan di panggung dunia,” ujarnya waktu itu. Tanpa dorongan itu, simposium lintas bangsa yang mempertemukan pemikir Indonesia dengan dunia mungkin tidak pernah terjadi.

Dari Romo Franz saya belajar Etika Jawa bukan sebagai adat kosong, tetapi sebagai sistem etika yang hidup. Tepo seliro, andap asor, ewuh pekewuh, empan papan, ojo dumeh, beliau tempatkan dalam kerangka filsafat universal. Hasilnya, kearifan lokal yang sering dianggap kuno menjadi relevan untuk menjawab persoalan etika modern.

Beliau juga yang membimbing saya membaca Karl Marx secara dialektik. Bukan untuk menjadi pengikut, tetapi untuk memahami makna pemikiran Marx. Romo Franz menunjukkan cara membedah pemikir besar : lihat kekuatannya, akui kelemahannya, lalu tanyakan apa yang bisa dipakai untuk menjawab persoalan Indonesia. Cara berpikir itu membentuk cara saya melihat ideologi dan kebijakan publik sampai hari ini.

Di sela diskusi berat, Romo Franz sering bercerita, kisah-kisah kelucuan kehidupan para Jesuit membuat suasana cair, tetapi pesannya dalam. Menjadi beriman tidak berarti meninggalkan kemanusiaan yang utuh, yang bisa tertawa dan merendahkan diri tatkala menertawakan diri sendiri.

Satu hal yang tidak akan saya lupa adalah ketegasan beliau tentang Sandyawan Sumardi. “Sandyawan adalah anugerah Tuhan bagi gerakan kemanusiaan di Indonesia,” kata beliau. Bagi Romo Franz, keberpihakan pada korban dan yang lemah adalah ukuran iman yang bekerja nyata.

Beliau juga pernah bercerita tentang perjumpaan kebetulan dengan Jürgen Habermas yang berlanjut dengan undangan ke rumah filsuf Jerman itu. Cerita kecil itu menyimpan pesan besar: pemikiran Indonesia layak didengar dunia, dan kerendahan hati membuka pintu perjumpaan intelektual lintas batas.

Yang paling fundamental bagi saya adalah ketika Romo Franz pertama kali menyadarkan saya bahwa Sri Paus Fransiskus adalah kelirumolog Gereja Katolik. Artinya, Sri Paus meletakkan kemanusiaan di depan agama. Bagi Romo Franz, langkah Sri Paus Fransiskus mengembalikan Gereja pada fitrah, tugas aslinya: melayani manusia, bukan menjadikan agama sebagai tembok.

Di usia 90 tahun, Romo Franz tetap menjadi teladan langka seorang cendekiawan yang tidak pernah menjauh dari lapangan kemanusiaan. Beliau membuktikan bahwa filsafat yang sejati tidak hidup di menara gading, tetapi turun ke jalan, ke ruang publik, dan ke lubuk sanubari orang-orang biasa. Wong cilik.

Dirgahayu 90 tahun, Romo Franz! Indonesia masih membutuhkan kejernihan pikiran dan keberanian etika Anda.  


KOMENTAR ANDA

Baca Juga