Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
FENOMENA akumulatif berbelit ternyata hadir pada proses evolusi kelirumologis terhadap terminologi Indian. Gegara Columbus keliru menduga dirinya telah mendarat di India padahal di kawasan kepulauan Karibea maka masyarakat pribumi benua Amerika kaprah keliru disebut sebagai Indian. Pada kenyataaan mereka yang disebut Indian oleh Columbus sama sekali bukan orang India sebagai negara di Asia Selatan.
Sebenarnya kaum pribumi Amerika Serikat sudah punya sebutan masing-masing seperti Apache, Commanche, Navayo, Cheyyene, Pueblo , Sioux, Irokis, Huron, Miccosuke, Chirokee yang masing-masing memiliki karakteristika peradaban beda satu dengan lain-lainnya apalagi terhadap peradaban India.
Setelah lambat laun menyadari kekeliruan sebutan tersebut maka muncul sebutan alternatif yaitu American Indian demi membedakannya dari Asian Indian yang pada hakikatnya juga masih tetap keliru. Tidak semua orang India tinggal atau dilahirkan di Asia namun bisa juga di Afrika, Eropa, Australia, Amerika.
Masalah kekeliruan sebutan menjadi makin rumit setelah warga India bukan versi Columbus yang berasal dari India mulai berbondong-bondong berimigrasi menjadi warga negara Amerika Serikat. Banyak di antaranya menjadi tokoh seperti misalnya Kamala Harris, Zubin Mehta, Subramayan Chandrasekhar, Deepak Chopra, Nina Davuluri, Night Shyamalan , Ashok Amritraj dll.
Warga India yang kini menjadi warga Amerika Serikat sudah barang tentu kurang layak disebut sebagai Indian seperti yang diversikan oleh Columbus. Menarik adalah di Indonesia kaum Indian versi Columbus yang tampil di film-film Cowboy produksi Hollywood, di Indonesia kerap keliru disebut oleh para penonton awam sebagai orang Dayak.
Kekeliruan sebutan itu setara keliru dengan jika kita menyebut masyarakat Dayak sebagai Indian Kalimantan. Demi tidak memperparah beban bingungologis sebaiknya kita abaikan kekeliruan kaum kolonialis Belanda menyebut Nusantara sebagai India Timur apalagi Hindia (dengan awal H!) Belanda.
Apabila berkunjung ke kawasan kutub utara dan berjumpa kaum pribumi setempat sebaiknya jangan keliru sebut mereka sebagai Eskimo. Sebutan Eskimo berasal dari bahasa Norwegia yang bermakna justru pejoratif yaitu “orang bodoh pemakan daging”. Sebutan untuk masyarakat pribumi kawasan kutub utara yang benar adalah bukan Eskimo tetapi Inuit.
Saya juga keliru jika menyebut diri saya sendiri sebagai seorang warga Cina Indonesia akibat secara etnis-biologis saya konon keturunan Cina. Atau tersedia pula sebutan Tionghoa sebagai pengganti sebutan Cina yang juga sempat dianggap istilah penghinaan oleh pihak tertentu di Indonesia.
Saya pribadi menganggap sebutan yang paling membanggakan bagi diri saya sendiri adalah warga Indonesia. Titik. Tidak lebih tidak kurang. MERDEKA!




KOMENTAR ANDA