Dewan Keamanan PBB diminta menghentikan agresi militer dan blokade energi yang menurutnya melanggar hukum internasional. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla dalam debat terbuka Dewan Keamanan bertema “Menjaga Tujuan dan Prinsip Piagam PBB serta Memperkuat Sistem Internasional yang Berpusat pada PBB” di New York, 26 Mei 2026.
Rodríguez memuji kepemimpinan China dalam menjaga perdamaian dunia dan memperkuat multilateralisme berbasis kesetaraan kedaulatan. Ia menyebut inisiatif global Presiden Xi Jinping sebagai contoh kerja sama multilateral sejati untuk menghadapi tantangan saat ini. Debat terbuka ini, katanya, membuktikan komitmen tersebut.
Di hadapan para duta besar, Rodríguez mengutip pidato Fidel Castro di Majelis Umum PBB 26 September 1960: “Biarkan filosofi perampokan hilang, maka filosofi perang juga akan hilang.” Ia mengingatkan ucapan itu di tahun peringatan 100 tahun kelahiran tokoh revolusi Kuba tersebut.
Menlu Kuba mempertanyakan bagaimana seseorang bisa bicara soal peran sentral PBB dan pencegahan konflik tanpa menyebut genosida terhadap Palestina, agresi imperialis terhadap Iran, dan perang di Timur Tengah. Ia menilai AS justru melemahkan perdamaian dan melanggar hukum humaniter internasional, termasuk terhadap Kuba.
Rodríguez menyebut dakwaan terhadap Pemimpin Revolusi Kuba Jenderal Angkatan Darat Raúl Castro Ruz sebagai tindakan bermotif politik dan melanggar hukum. Menurutnya, langkah itu bertujuan menipu publik AS dan asing untuk mendukung petualangan militer demi “regime change” di Kuba.
Ia mengecam embargo minyak dan energi AS terhadap Kuba sebagai setara blokade laut, yang ia sebut sebagai aksi perang dan genosida. Dampaknya, kata Rodríguez, adalah hukuman kolektif yang menyebabkan kematian, termasuk meningkatnya angka kematian bayi dari 4,0 menjadi 9,2 per seribu kelahiran hidup dan turunnya harapan hidup anak penderita kanker dari 85% menjadi 65%.
Menlu Kuba memperingatkan bahwa agresi militer akan memicu pertumpahan darah. Ribuan warga Kuba akan mati membela tanah air, sementara prajurit muda AS akan gugur tanpa sebab yang jelas akibat kebijakan imperialis dan neo-fasis. Ia menyerukan warga AS, khususnya kaum muda, untuk mencari kebenaran dan menolak manipulasi kelompok elit di Miami.
Rodríguez menegaskan Kuba bukan ancaman bagi AS dan tetap menyambut wisatawan serta pengusaha Amerika. Namun ia menuding plutokrasi korup di Washington menggunakan mitos ketidakmampuan pemerintah Kuba dan krisis kemanusiaan sebagai dalih intervensi asing, padahal dampaknya justru diciptakan oleh blokade itu sendiri.
Kuba tetap membuka dialog bilateral tanpa campur tangan urusan dalam negeri, mencakup terorisme, narkotika, migrasi, dan kompensasi ekonomi. Ia menyerukan komunitas internasional, terutama Global South, untuk bersolidaritas mencegah bencana kemanusiaan akibat konflik bersenjata maupun blokade energi.
Menutup pernyataannya, Rodríguez mendesak Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB menjalankan mandat untuk menghentikan ancaman militer dan blokade terhadap Kuba. “Biarkan Kuba hidup damai. Jika saatnya tiba, rakyat Kuba akan berjuang sampai akhir. Tanah air atau mati, kami akan menang!” tegasnya.




KOMENTAR ANDA