post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Perut memang bilang lapar, tapi laporan bilang terkendali. Jadi harus percaya yang mana? Ingat bahwa perut tidak punya gelar PhD

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

KATA pemerintah,  daya beli masyarakat tidak turun.

Syukur Alhamdullilah.

Bu Diyah ke pasar. Bawa uang Rp100 ribu, pulang bawa satu kantong plastik tipis yang isinya bisa habis dalam dua kali masak. Dulu uang segitu cukup untuk seminggu. Sekarang cukup untuk “sekedar merasa pernah belanja”.  Tapi tidak apa-apa.

Mungkin rakyat yang salah. Mungkin tidak baca laporan BPS dengan benar. Mungkin harusnya baca inflasi inti, bukan inflasi perut. Perut memang bilang lapar, tapi laporan bilang terkendali. Jadi harus percaya yang mana? Ingat bahwa perut tidak punya gelar PhD

Di warung, Bu Tini bilang harga telur naik lagi. Warga mengeluh. Dia jawab, “Sabar, kata pemerintah daya beli tidak turun.” 

Luar biasa. Sekarang nasihat finansial datang dari penjual telur. Ekonomi makro dijelaskan dengan telur. Kalau begini terus, mungkin skripsi S2 bisa diganti dengan catatan harga di pasar.

Pak Slamet  cek dompet. Isinya masih sama seperti bulan lalu: beberapa lembar uang dan harapan. Bedanya, bulan lalu harapan itu bisa ditukar dengan ayam potong. Bulan ini hanya cukup untuk foto ayam di katalog. Fotografi kuliner namanya.

Yang paling lucu adalah ketika pejabat bilang “daya beli masyarakat masih tinggi, lihat mal ramai”. Benar, mal memang ramai. Ramai orang lihat-lihat, foto-foto, beli es teh, pulang. Itu bukan konsumtif, itu wisata gratis ber-AC. Daya beli memang tidak turun, Cuma tekanan darah saja yang naik.

Rakyat tidak marah,  hanya bingung. Kalau daya beli tidak turun, kenapa rakyat harus turunkan standar hidup? Dulu beli daging sebulan sekali, sekarang sebulan sekali lihat daging. Dulu liburan ke luar kota, sekarang liburan ke serambi rumah sendiri sambil lihat langit. Hemat, hemat, dan hemat. Ini bukan hidup, ini pelatihan puasa ekonomi.

Mungkin maksud Menkeu benar. Daya beli masyarakat  secara agregat memang tidak turun. Tapi agregat itu seperti sup: kalau satu orang dapat daging, sembilan orang dapat kuah, lalu statistik bilang “semua dapat sup”. Secara rata-rata semua kenyang. Secara nyata, Sembilan orang masih lapar.

Rakyat paham, tugas pemerintah adalah menenangkan. Tapi menenangkan tidak sama dengan menyangkal. Kalau pasar bilang harga naik, kalau tukang ojek bilang order sepi, kalau ibu-ibu bilang uang cepat habis, maka mungkin yang perlu dikoreksi bukan persepsi rakyat. Tapi rumus yang dipakai.

Jadi rakyat harus ikhlas terima apapun kata pemerintah. Daya beli tidak turun. Tapi tidak apa-apa. Rakyat akan tetap tersenyum, karena menurut data, senyum itu gratis. Dan untungnya, konon yang satu itu belum kena inflasi.

Amanat Penderitaan Rakyat ? Itu slogan kuno anakronis hampa makna bikinan Orde Lama. Maka jangan didengar oleh Orde Reformasi!  

 


Sanak Keluarga 1089

Sebelumnya

Magnifica Humanitas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana