post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Bagi sebagian besar pengamat awam, Amerika Serikat sering kali dianggap selalu ingin menjual jet tempur siluman F-35 Lightning II miliknya ke sebanyak mungkin negara demi meraup keuntungan finansial yang besar. Namun, anggapan ini sama sekali tidak benar.

Proses penjualan jet tempur generasi kelima ini nyatanya sangat rumit serta terikat kuat oleh dinamika geopolitik global dan kebijakan politik domestik Washington. Pemerintah AS secara ketat membatasi ekspor pesawat canggih ini, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada calon pelanggan internasional mereka.

Hampir setiap negara sekutu AS yang memiliki kebutuhan pertahanan udara dan anggaran memadai telah mengantre untuk memesan jet tempur ini. Meskipun di dunia maya kerap beredar klaim miring mengenai biaya operasional F-35 yang tinggi serta kemampuan pertempuran udara jarak dekat (dog-fighting) yang dianggap rendah, hampir setiap negara yang telah diberikan akses untuk melihat kemampuan rahasia jet ini langsung memutuskan untuk membelinya. Pengecualian utama hanya berlaku bagi Prancis dan Swedia, yang memilih untuk tetap fokus pada pengembangan program jet tempur domestik mereka sendiri.

Ada dua alasan mendasar mengapa Amerika Serikat sangat membatasi ekspor F-35 ke luar negeri. Pertama adalah untuk melindungi kerahasiaan teknologi militer sensitif yang tertanam pada pesawat tersebut agar tidak jatuh ke tangan musuh. Alasan kedua adalah untuk menjaga keunggulan militer kualitatif (Qualitative Military Edge) Israel di kawasan Timur Tengah. Aturan ini diperkuat oleh Undang-Undang Kemitraan Strategis AS-Israel tahun 2014, yang mewajibkan Washington mempertimbangkan setiap ekspor militer ke Timur Tengah agar tidak mengikis dominasi pertahanan Israel.

Kasus penolakan paling berprofil tinggi yang dilakukan oleh AS terjadi pada Turki, yang notabene merupakan salah satu sekutu dekatnya di NATO. Pada awalnya, Turki terlibat sebagai salah satu negara mitra dalam pengembangan proyek F-35, memberikan kontribusi finansial yang signifikan, dan bahkan memproduksi beberapa komponen penting. Namun, setelah berulang kali mengabaikan peringatan dari Gedung Putih, Ankara memilih untuk membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia. AS khawatir sistem radar S-400 tersebut dapat memata-matai kemampuan siluman F-35 dan mengirimkan data sensitifnya ke Moskow, sehingga pada tahun 2019, AS resmi mendepak Turki dari program F-35 sebelum pesawat pertama mereka sempat diserahkan.

Di wilayah Timur Tengah, sejumlah negara kaya seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, dan Mesir telah menyatakan minat besar untuk meminang F-35. Pada masa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump, kesepakatan sementara sempat tercapai untuk menjual 50 unit F-35A ke UEA dan 20 unit ke Mesir. 

Sayangnya, kesepakatan tersebut runtuh akibat kekhawatiran Washington atas meluasnya jaringan 5G Huawei milik Tiongkok di UEA serta potensi terancamnya keunggulan militer Israel. Akibat pembatalan ini, UEA dan Mesir mulai melirik jet tempur buatan Tiongkok, di mana Mesir bahkan dilaporkan telah memesan jet tempur J-10C dari Beijing.

Penolakan serupa juga harus diterima oleh Arab Saudi dan Qatar, yang pengajuannya terus ditolak oleh pihak Pentagon. Meskipun pada Maret 2025 Arab Saudi mengumumkan rencana pembelian komitmen militer dari AS senilai sekitar 142 miliar dolar, paket raksasa tersebut ternyata sama sekali tidak mencakup jet tempur F-35. 

Sebaliknya, laporan intelijen pasar justru menunjukkan bahwa Maroko berpotensi menjadi negara Arab berikutnya yang berhasil mengamankan kesepakatan F-35. Hal ini dimungkinkan karena posisi geografis Maroko yang jauh dari Israel serta hubungan sejarah yang sangat baik dengan AS sejak menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Amerika pada tahun 1777.

Beralih ke kawasan Asia-Pasifik, Amerika Serikat hanya bersedia menjual F-35 kepada sekutu terdekat dan paling mereka percayai, yaitu Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Sementara itu, Thailand, yang memegang status sebagai salah satu sekutu utama non-NATO, justru mendapati permintaannya ditolak mentah-mentah oleh AS. 

Walaupun kedua negara memiliki rekam jejak hubungan yang panjang, Washington mengkhawatirkan kedekatan politik dan militer yang belakangan ini ditunjukkan oleh pemerintah Thailand yang disokong militer terhadap kekuatan rival utama mereka, Tiongkok.

Ketakutan akan kebocoran informasi intelijen ke tangan Beijing juga membayangi nasib Taiwan. Meskipun Taiwan sangat membutuhkan armada jet tempur modern untuk menangkal potensi invasi, AS enggan menjual F-35 ke Taipei. Alasan utamanya adalah kekhawatiran mendalam mengenai keberadaan mata-mata atau simpatisan Tiongkok di dalam struktur internal Taiwan yang bisa mencuri teknologi jet tersebut. 

Selain itu, Washington juga berusaha menghindari langkah provokasi langsung yang terlalu agresif yang dapat menyulut konflik terbuka dengan Tiongkok di Selat Taiwan.

Indonesia juga menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang merasakan ketatnya barikade ekspor militer AS ini. Setelah mendapatkan tekanan kuat dari Washington hingga terpaksa membatalkan rencana pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia, Jakarta kemudian mencoba beralih mengajukan pembelian F-35. Namun, pada tahun 2020, permintaan Indonesia tersebut ditolak oleh pihak AS dengan alasan antrean pesanan yang sudah terlalu panjang dan biaya yang dinilai terlalu mahal bagi anggaran Indonesia. 

Kendati demikian, para analis menilai AS sebenarnya lebih mengkhawatirkan hubungan mesra Indonesia dengan Tiongkok, penggunaan infrastruktur 5G Huawei, serta fakta bahwa TNI masih mengoperasikan beberapa jet tempur aktif buatan Rusia.

Pada akhirnya, meskipun Amerika Serikat siap menjual F-35 ke puluhan mitranya, transaksi tersebut selalu datang dengan syarat yang sangat mengikat. Negara pembeli dilarang keras memodifikasi fisik pesawat atau mengotak-atik sistem perangkat lunak (software) di dalamnya, di mana hak istimewa untuk melakukan modifikasi lokal hanya diberikan kepada Israel. 

Lebih jauh lagi, AS bahkan berhak mendikte siapa saja yang boleh menerbangkannya, seperti aturan yang melarang pilot Israel berkewarganegaraan ganda untuk masuk ke kokpit F-35. Melalui kendali ketat ini, F-35 tidak sekadar berfungsi sebagai komoditas dagang, melainkan instrumen utama Washington untuk mengontrol proyeksi kekuatan global dan membendung pengaruh para rivalnya, seperti Rusia dan Tiongkok.


Iran Diduga Kuat Gunakan Misil China untuk Tembak Jatuh F-15E

Sebelumnya

Rahasia Keberlanjutan Stratofortress di Era Perang Modern

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer