Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
KEADILAN tidak pernah lahir dari amarah. Tapi di banyak sudut negeri ini, kita masih sering melihat sebaliknya: massa yang memutuskan, menghakimi, lalu menghukum. Berita tragis beberapa waktu lalu kembali mengingatkan kita. Seorang warga dituduh mencuri ayam. Belum sempat ada pemeriksaan, belum ada bukti kuat, belum ada proses hukum. Yang ada hanya teriakan, tuduhan, lalu pengeroyokan massal. Dalam hitungan menit, nyawa melayang. Yang semula hanya soal seekor ayam, berakhir dengan hilangnya nyawa seorang manusia.
Sakitnya bukan cuma di keluarga korban. Sakitnya ada di kita semua.
Kenapa tragedi ini bisa terjadi?
1. Kecewa pada hukum
Banyak orang merasa proses hukum terlalu lama, berbelit, dan tidak berpihak. Saat ada "pelaku" di depan mata, muncul dorongan: "sekalian saja kita yang hukum".
2. Efek massa
Satu orang berteriak, yang lain ikut. Rasa takut dicap "membela maling" membuat orang memilih ikut memukul daripada menghentikan.
3. Menganggap hal kecil = boleh main hakim
"Cuma maling ayam". Tapi nyawa manusia tidak bisa diukur dengan harga barang yang hilang.
Apa yang kita korbankan?
Saat kita main hakim sendiri, kita membunuh 2 hal sekaligus: nyawa sesame manusia, dan negara hukum yang kita bangun bersama.
Pencurian memang salah. Tapi hukum sudah punya tempatnya: ada polisi, ada pengadilan, ada saksi, ada pembelaan. Main hakim menghapus semua itu. Hari ini korbannya dituduh maling ayam. Besok bisa jadi tetangga kita yang difitnah.
Dan yang paling tragis: tidak ada yang benar-benar menang. Barang mungkin kembali, tapi luka, trauma, dan dosa kolektif tertinggal.
Untuk setiap nyawa yang direnggut bukan oleh hukum, tapi oleh amarah massa: kami turut berduka. Untuk keluarga yang kehilangan ayah, anak, atau saudara karena tuduhan yang belum tentu benar: kami merasakan sakitnya. Untuk para saksi dan pelaku yang kini hidup dengan rasa bersalah dan trauma: semoga ada jalan untuk pulih dan sadar untuk bertanggung jawab.
Kematian seperti ini tidak boleh dianggap "biasa". Setiap korban adalah pengingat bahwa ketika hukum kita diam, kekerasan yang bicara. Mari kita jadikan duka ini pelajaran. Jangan biarkan ada lagi nama baru yang ditambahkan ke daftar korban main hakim sendiri.
Lalu harus bagaimana?
- Tahan 3 detik. Sebelum ikut berteriak atau memukul, tanya: "Sudah lapor RT/RW? Sudah panggil polisi?"
- Jadi penengah, bukan pelaku. Kadang cuma butuh satu orang yang berani bilang "stop, serahkan ke pihak berwajib" untuk menyelamatkan nyawa.
- Percaya proses. Laporkan. Kawal. Desak agar hukum berjalan. Itu lebih melelahkan, tapi itu satu-satunya jalan yang tidak menciptakan korban baru. Seekor ayam bisa diganti. Nyawa tidak.
Jangan sampai karena marah sesaat, kita ikut menodai kemanusiaan kita sendiri. Berhenti main hakim. Mulai jadi warga yang berani menegakkan hukum, bukan melanggarnya.



KOMENTAR ANDA