post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Pertama, tepat di hari kenaikan Pertamax itu (10 Juni 2026) harga minyak dunia jenis Brent telah turun menjadi 93,10 dolar AS per barel.

Oleh: Moh Samsul Arifin, Pengamat Sosial

INKONSISTEN. Itulah yang terbaca jelas di balik kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter oleh Pertamina. Dengan banderol baru, BBM non-subsidi dengan RON 92 itu meloncat hampir Rp4.000 atau 32 persen.

Pertama, tepat di hari kenaikan Pertamax itu (10 Juni 2026) harga minyak dunia jenis Brent telah turun menjadi 93,10 dolar AS per barel.

Kedua, dalam tempo antara Maret hingga Mei 2026, harga minyak berada di atas 100 dolar AS per barel. Artinya sangat memberatkan, sebab asumsi minyak dalam APBN 2026 dipatok 70 dolar AS per barel.

Ketiga, dalam tiga bulan perang AS-Israel dengan Iran, Pertamina cuma sekali menaikkan harga, yaitu pada 1 Maret 2026. Ketika itu harga Pertamax di Jabodetabek dikerek dari Rp11.800 menjadi 12.300 per liter (antaranews.com, 1 Maret 2026). Perubahan harga Pertamax pada 1 Maret 2026 itu respons atas naiknya harga minyak yang ketika itu berada di kisaran 84 dolar AS per barel. Harga minyak dunia segitu adalah kenaikan tertinggi sejak Januari 2026.

Dalam masa tiga bulan itu, harga minyak dunia bergejolak karena pasokan energi dunia terganggu. Meski Selat Hormuz cuma menyuplai 20 persen pasokan, harga minyak dunia harga melenting jauh. Bikin khawatir negara-negara di dunia akan dampak perang sebelumnya, yakni Rusia-Ukraina yang bikin dunia mengalami krisis energi. 

Data berikut buktinya. Pada 1 April 2026, harga minyak Brent menyentuh 104,86 dolar AS per barel. 

Satu setengah bulan kemudian, 15 Mei 2026--buntut ketidakpastian penyelesaian krisis AS dengan Iran--harga minyak jenis Brent naik di kisaran 107 dolar AS per barel (Bloomberg).

Blokade Selat Hormuz oleh Iran saat ini menerbitkan gonjang-ganjing dalam dua hal: Harga yang terdongkrak serta kurangnya pasokan minyak. Padahal saat itu Amerika Serikat dan Rusia berada dalam masa emas dalam memproduksi minyak hitam itu. 

Pada 2025, AS sempat memproduksi minyak hingga 19 juta barel per hari. Dua tahun sebelumnya, produksi minyak AS menembus 21 juta barel per hari. Namun begitu, mengambil minyak dari AS dan Rusia itu butuh ongkos lebih besar. Sebab secara geografis letaknya jauh, terutama bagi negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara. Dan harganya juga tidak ramah di kantong. 

Jika mengikuti logika Pertamina, kenaikan harga minyak mentah menjadi 84 dolar AS per barel, Pertamax cuma dinaikkan sebesar Rp500 per liter pada 1 Maret 2026. 

Dengan harga minyak mentah 93,10 dolar AS per barel (posisi 10 Juni 2026), seandainya pun harga Pertamax harus dinaikkan, seyogianya tidak naik hingga Rp4.000 per liter. Selisih beban saat harga minyak berada di posisi 84 dolar AS per barel, tidak berbeda jauh dengan saat harga minyak dunia di kisaran 93 dolar AS per barel. 

Saat demonstrasi mahasiswa menggeliat di jalanan Jakarta, 12 Juni lalu, harga minyak jenis Brent turun lagi menjadi 89,17 dolar AS per barel. Adapun jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun menjadi 86,48 dolar AS per barel.

Kecenderungan itu berlanjut pekan ini, Rabu, 17 Juni 2026. Perdamaian AS dengan Iran serta segera dibukanya Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah Brent turun US$ 4,21 atau 5,1 persen menjadi 78,96 dolar AS per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot US$ 4,70 atau 5,8 persen menjadi 76,05 dolar AS per barel.

Pertamax adalah BBM jenis non-subsidi yang mengikuti hukum pasar. Ketika harganya melonjak, sulit untuk tidak menaikkan harganya. Suara anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, layak didengar. 

"Rakyat perlu merasakan manfaat dari turunnya harga minyak dunia. Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," ujar Mufti (Sindonews.com, 16/6/2026).

Menurut saya seyogianya Pertamina tidak kaku dalam menetapkan harga. Kenaikan harga hampir Rp4.000 per liter jelas memberatkan konsumen. 

Dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia serta kabar bahwa Selat Hormuz bakal kembali terbuka, Pertamina bisa menurunkan harga Pertamax dari posisi saat ini sebesar Rp16.250 per liter.

Cuma, urusan menurunkan harga BBM di negeri kita sudah lama terpelanting dalam sebuah paradoks. Di masa Joko Widodo, ada situasi di mana harga minyak mentah dunia lebih rendah dari asumsi APBN, tapi pemerintah emoh menurunkan harga BBM bersubsidi. 

Ekonom Faisal H Basri termasuk yang sering mengingatkan soal perlunya pemerintah fair menyangkut penetapan harga BBM, terutama yang bersubsidi. Menurut Faisal, pemerintah jangan rajin menaikkan harga saja dengan dalih harga minyak mentah dunia melejit. 

Tapi begitulah. Yang dominan justru kebiasaan buruk: Lupa turun ketika harganya sudah dinaikkan. Itu terjadi pada sembarang komoditas ekonomi. 

Untuk perkara BBM, semoga Pertamina tidak ikut-ikutan terkena "Paradoks Basri"---sebut saja begitu untuk merawat ingatan tentang hal yang diulang-ulang diingatkan oleh almarhum Faisal Basri ini.

Saat ini, publik menunggu Pertamina menurunkan harga Pertamax. Tentu saja tidak Rp16.250 per liter. Situasi pekan ini, terutama selepas perdamaian AS dan Iran, telah berubah. 


Pasar Keuangan Global dan Nasional Bergerak Positif

Sebelumnya

#SellIndonesia Lawan #SellSingapura: Pesan Arief Budiman tentang Pengusaha Mental Rente

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekbis