Saya teringat pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR, 20 Mei 2026. Menurutnya, ekonomi yang cocok untuk Indonesia adalah ekonomi jalan tengah. "Ekonomi yang berani mengambil yang terbaik dari sosialisme dan yang terbaik dari kapitalisme. Kita butuh peran negara, kita butuh perlindungan negara, kita butuh pengawasan, dan kita butuh keberpihakan dari negara untuk menjamin keadilan dan pemerataan," jelas putra Begawan Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu.
Prabowo menyebut ekonomi jalan tengah itu sebagai Ekonomi Pancasila. Dalam soal mekanisme pasar (kapitalisme), harga BBM nonsubsidi disetir pasar. Sedangkan untuk uurusan BBM bersubsidi, negara masih melindungi konsumen dalam negeri dengan menyediakan subsidi.
Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menurunkan harga Pertamax ke harga yang lebih rasional. Jika tidak, justru bakal ada perpindahan konsumsi ke Pertalite (yang bersubsidi).
Bila harga Pertamax tidak berubah (tetap Rp16.250 per liter), siap-siaplah kuota Pertalite akan meledak. Ini berarti bakal kian membebani APB
Beban subsidi untuk BBM jenis tertentu dan gas elpiji tiga kilogram diprediksi menembus Rp105,414 triliun, alias naik 11,2 persen dibandingkan APBN 2025. Bisa dibayangkan berapa beban subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah jika konsumen (rakyat) berbondong-bondong beralih dari Pertamax ke Pertalite!




KOMENTAR ANDA