post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Saat orang Indonesia bilang "makasih ya" sambil senyum, itu bukan transaksi kata.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran

“TERIMA kasih” terdengar sederhana. Tapi secara forensik linguistik, dua kata ini menyimpan peta kebudayaan bangsa yang mengucapkannya. "Terima" berarti menerima.

"Kasih" dari akar Melayu-Sanskerta kāśa yang berarti cinta kasih sayang. Jadi arti harfiahnya: "Saya menerima kasih sayang Anda". Strukturnya unik. Kita tidak memuji pemberi. Kita mengakui hutang budi. Ini cermin budaya timur: relasi lebih penting dari ego.

Mengucap "terima kasih" sama dengan bilang: "Saya berhutang budi, saya ingat".

Semua bahasa di dunia punya 2 jalur semantik untuk berterima kasih:

Jalur "Pemberian/Penerimaan"
1. Indonesia: Terima Kasih = menerima kasih sayang
2. China: 谢谢 xièxie = "menolak" berulang. Asalnya dari adat menolak imbalan supaya tidak dianggap pamrih
3. Korea: 감사합니다 gamsahamnida < gamsa = mengakui + merasakan kebaikan
4. Jepang: ありがとう arigatō < arigatai = "sulit terjadi/berharga". Maknanya: terima kasih karena Anda sudah repot

Jalur "Kebaikan/Pikiran"
1. Inggris: Thank you < Old English þanc = pikiran, ingatan, rasa syukur
2. Jerman: Danke < dank = pikiran. Satu rumpun dengan Inggris
3. Latin: Gratias ago = "saya mengucapkan rahmat"
4. Spanyol: Gracias < Latin gratia = rahmat, kebaikan hati, anugerah
5. India Hindi: धन्यवाद dhanyavād = "ucapan kebaikan dan pujian"

Para perbedaan ini bukan kebetulan. Dia cermin sistem operasi budaya:

Inggris-Jerman OS-nya memori. "Thanks" = saya ingat kebaikanmu.
Latin-Spanyol OS-nya teologi. "Gracias" = kebaikanmu adalah anugerah.
Jepang OS-nya beban. "Arigatō" = Anda sudah susah payah untuk saya.
Indonesia-China OS-nya relasi. Kita dan China sama-sama rendah hati. Kita terima kasihnya, China tolak balasannya.

Jadi saat orang Indonesia bilang "makasih ya" sambil senyum, itu bukan transaksi kata. Itu transfer kasih. Bahasa kita memilih jalur paling manusiawi: mengakui bahwa hidup ini jalan karena ada orang lain yang mau berbagi kasihnya.

Dan mungkin, di dunia yang makin transaksional, menghidupkan makna "terima kasih" yang sesungguhnya adalah perlawanan paling sopan dan beradab.


Keindahan Keburuk-Rupaan

Sebelumnya

Filsafat Kausalitas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana