post image
KOMENTAR

Tanpa pidato resmi, tanpa pernyataan pemerintah, dan tanpa konferensi internasional, para pemain Iran menyampaikan pesan yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia.

Oleh: Lukman Nurhakim, Pengamat Kebijakan Publik

“DARI Persia kuno ribuan tahun yang lalu hingga Iran yang beradab saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh.

Terima kasih, Los Angeles, atas keramahan Anda.

Kami datang ke Los Angeles dengan kebanggaan, bertanding dengan kehormatan, dan pergi dengan martabat.

Dan terima kasih kepada setiap orang Iran yang telah memberikan hati, suara, dan jiwanya untuk Iran selama 180 menit ini.

Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan berlaku di antara semua bangsa.

Surat tulisan tangan yang ditinggalkan Timnas Iran dalam perhelatan 2026 FIFA World Cup di ruang ganti Stadion SoFi, Los Angeles dipublikasikan pada tanggal 22 Juni dibebagai media mainstream internasional ini, menjadi sorotan publik karena memuat pesan sederhana namun sarat makna: “Ucapan terima kasih kepada warga Amerika Serikat, kebanggaan sebagai bangsa Persia, serta harapan akan perdamaian”.

Tim Iran mengucapkan perpisahan kepada warga Amerika Serikat dengan cara yang lembut, Iran tidak pernah menganggap musuh warga negara Amerika Serikat, Iran hanya bermasalah dengan pemerintahan Amerika Serikat, ini poinnya.

Di tengah hubungan Iran dan Amerika Serikat yang selama 47 tahun diwarnai ketegangan politik, sanksi ekonomi, dan rivalitas geopolitik hingga terlibat Perang selama 40 hari baru-baru ini yang menyakitkan ditandai dengan gugurnya Pemimpin Teringgi Iran, Komandan militer, Ilmuwan Nuklir, dan yang paling mengenaskan adalah jatuhnya korban 168 jiwa siswi sekolah dasar yang dibom pesawat tempur AS di Minab, Iran.

Pesan tersebut memiliki arti yang melampaui dunia sepak bola. Surat itu bukan sekadar bentuk etika tim yang meninggalkan ruang ganti dalam keadaan rapi, melainkan sebuah simbol diplomasi yang lahir dari lapangan hijau.

Dalam perspektif hubungan internasional, tindakan para pemain Iran dapat dibaca sebagai bentuk soft diplomacy atau diplomasi lembut—yakni upaya membangun citra, simpati, dan pengaruh melalui budaya, olahraga, serta interaksi antarmanusia, bukan melalui tekanan militer ataupun negosiasi politik formal. Tanpa pidato resmi, tanpa pernyataan pemerintah, dan tanpa konferensi internasional, para pemain Iran menyampaikan pesan yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia.

Menurut Joseph Nye, dalam buku berjudul “Soft Power: The Means to Success in World Politics” (diterbitkan pada tahun 2004) mengenai Teory Soft Diplomacy, kekuatan suatu negara tidak hanya berasal dari kemampuan militer (hard power) atau tekanan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menarik simpati, membangun citra positif, dan memengaruhi pihak lain melalui budaya, nilai-nilai, serta kebijakan yang dianggap sah dan menarik. Konsep ini dikenal sebagai soft power.

Disinilah Iran menunjukkan kekuatannya dan martabat bangsanya di tengah perhelatan dan pergaulan antar bangsa, bahkan dihadapan musuh sekalipun. Penyebutan Persia kuno mengingatkan Tim ini kepada dunia, bahwa mereka berasal dari sebuah bangsa dan negara berperadaban tinggi dan pernah menjadi pusat kekuatan dunia pada jamannya yang pernah memperlakukan bangsa-bangsa taklukannya dengan baik, membebaskan mereka menganut kepercayaaanya, menyelamatkan bangsa Yahudi dari pembantaian dan membebaskan mereka untuk kembali ke tanah air-nya. Ucapan terimakasih Tim sepakbola Iran tetap menunjukkan kebanggaan diri  dihadapan musuh, bukan berarti merendahkan dirinya.

Bagi Tim Sepak Bola Piala Dunia Iran turunnya mereka di turnamen FIFA World Cup 2026 ini berada pada level yang berbeda. Pertandingan Tim Iran melawan Tim Belgia  berlangsung di tengah ketidakpastian diplomatik, hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah Iran, yang menandakan potensi berakhirnya konflik selama tiga setengah bulan.

Tim Cheetah berlaga dalam pertandingan pertama mereka di Los Angeles, kota California yang dijuluki "Tehrangeles" dimana kota ini merupakan rumah bagi diaspora yang sebagian besar anti-pemerintah Iran.

Yang menarik, surat tersebut tidak berisi keluhan ditengah rintangan dan perlakuan yang tidak berjalan mudah, penuh rintangan dan tidak adil oleh negara tuan rumah, dimana Tim mereka harus bermarkas dan berangkat dari Mexico dan setelah bertanding harus kembali ke Mexico, ataupun nada konfrontatif yang biasanya ditunjukkan melalui poster atau spanduk yang dikategorkan sebagai propaganda politik. Sebaliknya, yang muncul adalah penghormatan kepada tuan rumah, khususnya warga Los Angeles, Amerika Serikat, kebanggaan terhadap identitas nasional, dan harapan akan masa depan yang lebih damai. Dalam bahasa diplomasi, inilah cara menunjukkan martabat bangsa tanpa harus mempertontonkan kekuatan.

Di tengah berbagai perbedaan dan ketegangan yang masih membayangi hubungan Teheran dan Washington dan proses diplomasi penghentian perang dan permusuhan yang alot dan krusial yang bisa suatu saat pecah kembali, surat singkat itu memperlihatkan bahwa hubungan antarmanusia sering kali mampu menembus batas-batas politik. Sepak bola menjadi medium yang memungkinkan sebuah bangsa berbicara kepada dunia dengan bahasa yang lebih universal: rasa hormat, persahabatan, dan kemanusiaan. 

Karena itu, surat yang ditinggalkan Timnas Iran di Los Angeles dapat dipahami sebagai lebih dari sekadar catatan perpisahan. Ia merupakan simbol diplomasi lembut (Soft Diplomacy) Iran—sebuah pesan bahwa bahkan di tengah rivalitas geopolitik yang panjang, selalu ada ruang untuk penghormatan, dialog, dan harapan sebagai manusia akan perdamaian.


Dewan Keamanan PBB Adopsi Resolusi Tanggung Jawab atas Kejahatan terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian

Sebelumnya

AS Cabut Sanksi Minyak Iran: Izinkan Perdagangan Dolar untuk Pertama Kali dalam 4 Dekade

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia