post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kita boleh beda kata, tapi sama-sama butuh fajar.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

LAIN padang, lain belalang. Lain bahasa, lain bunyi.

Ayam jantan alias Jago di kampung Jakarta, di desa Provence, di ladang Bavaria, di daerah Sichuan, bunyinya identik. Frekuensi sama, durasi sama. Tapi manusia mendengarnya berbeda. Inilah "etnolinguistik": ilmu yang membedah bagaimana budaya menafsirkan suara alam lalu menuliskannya dengan huruf dan lafal saling beda sesuai kebudayaan masing-masing. 

Bahasa Indonesia: "Kukuruyuk". 4 suku kata, vokal u-u dominan. Cermin budaya musikal, nada naik-turun.

Inggris: "Cock-a-doodle-doo". 5 suku kata, konsonan d-l-d kompleks. Cermin budaya naratif, suka detail panjang.

China: "Wōwō". 2 suku kata, vokal o-o. Cermin budaya efisien, hemat energi.

Prancis: "Cocorico". Konsonan c-r-c, mulut monyong. Cermin budaya artikulasi estetis.

Ayam tidak ganti dialek. Lidah manusialah yang memaksa alam masuk ke cetakan fonem lokal. Semua bahasa sepakat: kokok = penanda fajar. Tapi intensitas beda.

Jerman "Kikeriki" dan Belanda "Kikiriki": 4 ketukan disiplin. Budaya punctuality.

Tagalog "Tiktilaok" dan Tahiti "O'o-aoa": vokal panjang, nada santai. Budaya jam karet + jam ombak.

Rusia "Kukareku": tekanan di "re" yang berat. Budaya wibawa + peringatan.

Satu fenomena, seribu penanda waktu sesuai watak bangsa.

Yunani "Korokro" → Latin "Cucurrio" → Prancis "Cocorico". Jejak migrasi kata 2.000 tahun. "Ku-ka-re-ku" versi Rusia dan "Kukuruyuk" versi Indonesia mirip karena rumpun bahasa Austronesia + Indo-Eropa pernah bertemu di jalur sutra.

Kokok ayam jadi fosil hidup perjalanan manusia. Yang paling "setia ke bunyi asli" justru bahasa sederhana: Urdu "Koo-koo", Hawaii "Ko-ko-ra-ko". Yang paling "kreatif" justru bahasa sastra: Inggris nafsir "cock-a-doodle", Italia nafsir "chicchirichì".

Analisis: Semakin kaya kosakata, semakin manusia merasa perlu merekayasa suara alam. Jago cuma berkokok, manusia bikin jadi "cock-a-doodle-doo" 5 suku kata. Ego linguistik. 

Etnolinguistika kokok jago mengajarkan 3 hal:

  1. Objektivitas itu ilusi: Sains bilang suara sama. Budaya bilang suara beda. Yang menang: cara kita bercerita.
  2. Identitas ada di telinga: Cara kita menulis "kukuruyuk" sama jujurnya dengan cara kita menulis sejarah.
  3. Alam itu guru bahasa terbaik: Ayam tidak kuliah linguistik. Tapi setiap pagi dia mengajar semua bangsa: "Bangun. Bekerja. Jangan debat aksen."

Di era global, "kukuruyuk" mengingatkan: kita boleh beda kata, tapi sama-sama butuh fajar.

 


Maju Tak Gentar Membela MBG

Sebelumnya

Karen Armstrong Ateis?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana