post image
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu`ti, menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Kepala SD Negeri Utue, Suwarni, Selasa, 23 Juni 2026.
KOMENTAR

Aceh tengah berbenah. Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda, layanan pendidikan di wilayah ini kini mendapat perhatian serius melalui kolaborasi strategis antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah daerah, dan TNI AD. Sinergi lintas sektor ini menjadi komitmen bersama untuk memastikan bahwa meskipun didera bencana, hak para siswa untuk mendapatkan akses pendidikan di lingkungan yang aman dan layak tetap terpenuhi.

Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu`ti, menargetkan agar sebagian besar sekolah yang terdampak sudah bisa dioperasikan kembali untuk tahun ajaran 2026/2027. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Provinsi Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta jajaran TNI AD yang telah menjadi mitra utama dalam mempercepat proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi bangunan sekolah.

Bagi sekolah yang masih dalam tahap pembangunan atau menanti relokasi, pihak kementerian memastikan kegiatan belajar mengajar tidak terhenti. Kemendikdasmen telah menyiapkan ruang kelas darurat yang lebih representatif agar anak-anak tetap bisa mengikuti pelajaran dengan nyaman. Menteri berharap seluruh rangkaian pekerjaan fisik ini segera rampung sehingga suasana belajar mengajar di Aceh dapat kembali normal dan optimal.

Salah satu fokus utama rehabilitasi saat ini adalah SD Negeri Utue, sekolah yang telah berdiri sejak 1984. Kerusakan pada plafon, drainase, hingga toilet yang sering tergenang banjir kini sedang diperbaiki melalui alokasi anggaran sebesar Rp1,83 miliar. Dana tersebut mencakup perbaikan tujuh ruang kelas, perpustakaan, ruang administrasi, serta sanitasi dan penataan lingkungan sekolah secara menyeluruh agar fasilitas pendukung pendidikan lebih memadai.

Komandan Pelaksana Rehabilitasi, Letkol Inf. Arino Vranta Sinurat, menjelaskan bahwa SD Negeri Utue merupakan bagian dari proyek besar perbaikan 190 sekolah di Aceh yang ditangani oleh TNI AD. Dalam pengerjaannya, TNI menerapkan pola swakelola tipe II yang memadukan keahlian tenaga sipil profesional dengan kedisiplinan personel TNI. Kolaborasi antara delapan tukang sipil dan tiga anggota TNI ini terbukti efektif dalam menjaga progres pembangunan tetap sesuai target.

Kepala SD Negeri Utue, Suwarni, mengaku bersyukur dengan pola pengerjaan yang dilakukan secara bertahap ini. Dengan metode tersebut, pihak sekolah tidak perlu melakukan relokasi siswa ke tempat jauh. Sinergi antara guru dan personel TNI di lapangan juga menjadi kunci keamanan bagi siswa selama proyek berjalan. Harapan besar ditumpukan agar pembangunan ini memberikan kenyamanan jangka panjang bagi seluruh warga sekolah.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyoroti skala kerusakan yang ada. Data verifikasi mencatat sebanyak 2.920 sekolah terdampak, di mana 188 di antaranya mengalami kerusakan berat dan 63 sekolah memerlukan relokasi. Ia menegaskan bahwa keberadaan kelas darurat saat ini bukanlah cerminan dari pengabaian, melainkan langkah transisi agar pembelajaran tetap berjalan beriringan dengan proses perbaikan bangunan.

Kunjungan Menteri Pendidikan ke SD Negeri Utue membawa secercah harapan baru bagi para siswa. Farhan, siswa kelas 4, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya melihat sekolahnya mulai berbenah. Meski sementara harus berbagi ruang kelas dengan teman dari kelas lain, ia mengaku sangat menanti suasana baru di sekolahnya kelak. "Senang sekali kalau sekolah kami bisa tambah bagus nanti," ujarnya dengan penuh semangat.

Begitu pula dengan Afkar, siswa yang memiliki cita-cita menjadi tentara, ia mengaku tak sabar untuk segera menempati ruang kelas baru. Semangat serupa juga ditunjukkan oleh Salman, yang terinspirasi oleh sosok pesepak bola Neymar. Ia berjanji akan belajar lebih giat lagi sebagai bentuk terima kasih atas perhatian pemerintah dalam memperbaiki tempatnya menuntut ilmu.

Secara keseluruhan, kolaborasi antara Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan TNI AD ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan. Lebih dari sekadar memulihkan bangunan yang hancur, upaya ini adalah investasi untuk mengembalikan ruang belajar yang aman dan nyaman, sekaligus memupuk optimisme bagi ribuan siswa di Aceh dalam meraih cita-cita mereka pascabencana.


Ketum JMSI Sesalkan Pembajakan Akun Instagram Hendri Satrio

Sebelumnya

Roy-Tifa: Rontoknya Skenario Solo dan Secercah Harapan Penegakan Hukum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional