post image
Sarasehan Kebangsaan bertema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia, di Jakarta International Convention Center (JICC), 26- 29 Juni 2026.
KOMENTAR

Jika negara mau bangkit, mau maju harus digerakkan dari universitas.

Oleh: Budi Agustono, Penulis Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara


“SAYA selalu berpendapat bahwa para guru besar adalah orang-orang yang terpintar dari sebuah negara. Jadi, kalau negara mau bangkit, negara mau maju, memang harus dimanfaatkan atau digerakan potensi dan kemampuan dari kampus-kampus, dari universitas.”

Inilah sambutan pembukaan Presiden Prabowo Subianto yang dihadiri bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Mendiktisaintek Brian Yuliarto di Sarasehan Kebangsaan bertema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia, di Jakarta International Convention Center (JICC), 26- 29 Juni 2026. Sambutan Prabowo Subianto sontak mendapat gemuruh tepuk tangan dari peserta Sarasehan Kebangsaan.

Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bekerjasama dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia (MRPTNI) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang  2600  dosen universitas dari Sabang sampai Merauke. 

Sarasehan Kebangsaan ini merupakan lanjutan dari  Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) yang diadakan di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2025.  KSTI merupakan forum kolaborasi strategis berskala nasional yang mempertemukan ilmuwan, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri strategis. Setelah pertemuan Bandung, pembahasan KSTI yang bertujuan memercepat transformasi ekonomi menuju kemandirian teknologi ini dilanjutkan di Sarasehan Kebangsaan.

Percepatan kemandirian teknologi ini diperdalam pembahasannya di Sarasehan Kebangsaan dengan peserta kalangan Rektor dan dosen dari berbagai disiplin ilmu. Di depan ribuan dosen Prabowo Subianto  menekankan pentingnya relasi teknologi dengan universitas yang menjadi garda terdepan dalam perkembangan teknologi. Invensi teknologi selalu diinisiasi universitas.  Inventor teknologi adalah orang pintar di kampusnya. Itulah sebabnya sewaktu  Prabowo Subianto mengatakan guru besar orang terpintar di kampus. Jika negara mau bangkit, mau maju harus digerakkan dari universitas.

Universitas merupakan agen inovasi. Universitas mempunyai infrastruktur inovasi seperti dosen, waktu dan laboratorium. Selain mengajar dan pengabdian, dosen mempunyai tugas meneliti. Penelitian menjadi jantung universitas. Makin besar dana penelitian jika dikelola peneliti  handal universitas akan memproduksi  temuan baru. Temuan baru  tidak berputar di universitas tetapi harus disebarkan ke dunia industri. Pemerintah juga harus dekat dan mendanai  universitas.  

Kolaborasi universitas, pemerintah dan industri adalah keharusan. Tanpa segitiga kerjasama ini gerak dan jejaring tidak bertumbuh dalam penyebaran pengetahuan ke luar lorong universitas. Sewaktu Prabowo Subianto mengatakan jika negara mau maju harus menggerakkan universitas , ini merupakan tone, yang tepat saat universitas telah dan sedang mencari jejaring ke industri.

Di sela memberi sambutan dan pandangan membangun relasi kerjasama pemerintah, universitas, dan industri, Prabowo Subianto menyampaikan pemikirannya tentang membangun Indonesia, geopolitik global, perang Rusia – Ukraina, eskalasi politik Timur Tengah, perang Iran – Amerika, Board of Peace, relasi politik Amerika – Indonesia, perekonomian nasional dan capaian pembangunan nasional. 

Sambutan Prabowo Subianto cukup panjang bukan dalam hitungan puluhan menit melainkan  tiga ratus menit lamanya bersama di hadapan ribuan dosen. Selama itu pula ada guyonan,  analisis tajam, bacaan luas dan tentu saja pelajaran dan pengalaman dalam mengharungi perjalanan hidup Prabowo Subianto.  Pandangan dan pemikioran yang panjang tidak membuat suasana monoton dan datar tetapi memberi bobot pengayaan, gizi inspiratif dan tentu saja mengidupkan Sarasehan Kebangsaan.

Selepas sambutan Presiden Subianto, sesi para Menteri menyajikan materi. Ada Menteri Ketahanan Pangan, Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM dan Menteri Pertanian mempresentasikan program kerja dan capaian kinerja masing-masing. 

Prioritas kerja selama masa bakti dipaparkan mulai dari dinamika global mengancam perekonomian, program biodiesel, pasokan bensin, tantangan energi,  tren harga energi, pasokan minyak impor, industri batubara, hilirisasi dan transformasi ekonomi,  pengalaman hilirisasi negeri maju, peta jalan hilirisasi, Danantara, PMA dan PMDN, capaian investasi, target petumbuhan ekonomi dan investasi, lokasi realisasi investasi, investasi di proyek strategis nasional dan nasional.  

Usai presentasi program kerja, dibuka pertanyaan dan komentar dari peserta. Ada mengirim pertanyaan tertulis  melalui aplikasi kementerian, ada juga bertanya langsung ke Menteri. Bergantung Menteri merespons pertanyaan. Namun dari semua pertanyaan yang ditujukan ke Menteri, paling mendapat perhatian dari peserta adalah pertanyaan tentang relasi perguruan tinggi dengan pemerintah (Kementerian).
Produktif

Ada peserta universitas daerah mengusulkan  agar dalam pelaksanaan program kementerian di daerah (provinsi) mengajak universitas lokal sebagai patner pelaksanaan program kerja kementerian. Misalnya  dosen dari Lhokseumawe Aceh menyarankan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral saat membahas Blok Andaman  agar mensosialisasi Blok Andaman ke universitas lokal agar masyarakat mengerti  Blok Andaman. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral merespons  cepat saran ini mengajak dan meminta Universitas Malikul Saleh sebagai koordinator sosialisasi Blok Andaman di Provinsi Aceh.

Peserta lain meminta agar  universitas negeri di wilayahnya   menjadi mitra dalam program Menteri Pertanian. Permintaan itu langsung direspons Menteri Pertanian setelah selesai kegiatan Sarasehan Kebangsaan menghubungi staf kementeriannya untuk mendiskusikan permintaan pelibatan kerjasama dengan universitas lokal. 

Ada saran pertanyaan serupa dalam setiap program beberapa kementerian mengajak universitas sebagai mitra lokal. Pertanyaan dan saran dari peserta dosen memerlihatkan kerjasama antara universitas dengan pemerintah dan Kementerian belum berjalan maksimal, meskipun ada universitas yang telah membangun  kolaborasi   dan berkelanjutan dengan berbagai Kementerian  di daerah (provinsi).

Terekam kuat Sarasehan Kebangsaan berkontribusi signifikan  dalam mendekatkan, dan membuka peluang potensi kerjasama antara universitas dengan pemerintah.

Hari terakhir Sarasehan Kebangsaan menampilkan Menteri Keuangan dan Menteri Kebudayaan memaparkan capaian kinerja. Selesai dua Menteri ini  turun dari mimbar, Parbowo Subianto kembali  memberi pandangan dan pemikiran tentang  isu strategis bangsa. 

Namun yang menantang adalah Prabowo Subianto berbagi pengalaman hidup tentang tokoh yang memengaruhi perjalanan hidupnya. 

Ada empat tokoh besar yang menginspirasi yaitu Raden Mohammad Noer, mantan Gubernur Jawa Timur, Brigadir Jenderal (Purn) Aloysius Benedictus Ben Mboi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Soemitro Djojohadikusumo, ayah kandung dan ekonom kesohor dan Jenderal Besar (Purn) Soeharto, mantan Presiden dan ayah mertua Prabowo Subianto. 

Selain sang ayah, Soemitro Djojohadikusumo, ketiga tokoh lainnya sangat dekat dengan Prabowo Subianto sampai falsafah hidup ketiga tokoh ini  ditambah sosok ayahnya diadopsi  sebagai falsafah hidup. Falsafah keempat hidup tokoh besar itu mengajarkan dekat dengan rakyat,  memikirkan rakyat, jangan sombong dan jangan memaksa diri.

Pandangan dan pemikiran Prabowo Subianto di hari terakhir menghabiskan waktu   seratus dua puluh menit memberi pelajaran kepada peserta ribuan dosen bahwa hidup itu tidak hanya sekadar hidup. 

Hidup itu harus mempunyai falsafah  agar menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi  berbagai persoalan. Presiden Prabowo Subianto menutup Sarasehan Kebangsaan berlangsung selama tiga hari, 26-28 Juni 2026 di Jakarta International Convension Center (JICC). 


KOMENTAR ANDA