post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Pusat Komando Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim bahwa militer Iran telah meluncurkan serangan pesawat tanpa awak (drone) bunuh diri terhadap sebuah kapal kontainer komersial berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, di wilayah Selat Hormuz pada Kamis, 25 Juni 2026. Insiden ini langsung memicu ketegangan baru di koridor perdagangan maritim internasional yang sangat vital tersebut, sekaligus mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru saja ditandatangani kedua belah pihak beberapa minggu sebelumnya.

Berdasarkan laporan resmi dari Badan Operasional Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) dan sejumlah sumber keamanan maritim, proyektil drone tersebut menghantam bagian dek atas dan sisi kanan (starboard) kapal. Serangan terjadi saat kapal kargo yang dioperasikan oleh perusahaan Evergreen asal Taiwan ini sedang transit keluar dari Selat Hormuz, tepatnya di posisi 7,5 mil laut di sebelah tenggara Pelabuhan Dahit, Oman.

Meskipun mengalami kerusakan minor pada bagian anjungan (bridge) akibat benturan material peledak, pihak berwenang memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Seluruh 21 awak kapal dinyatakan selamat tanpa cedera, dan kapal Ever Lovely dilaporkan tetap mampu melanjutkan pelayaran menuju rute tujuan mereka setelah situasi dinyatakan terkendali.

Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) merespons keras peristiwa tersebut dengan mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam tindakan ofensif maritim ini. MPA menegaskan bahwa serangan terhadap Ever Lovely sepenuhnya tidak berdasar (unprovoked), tidak dapat dibenarkan (unjustifiable), serta merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Menanggapi tindakan Iran, militer Amerika Serikat tidak tinggal diam dan langsung melancarkan serangan balasan berskala besar pada Jumat, 26 Juni 2026. Pasukan udara dan laut CENTCOM membombardir sejumlah fasilitas militer strategis milik Iran di sepanjang kawasan pesisir Sirik, termasuk lokasi penyimpanan rudal, gudang penyimpanan drone operasional, serta titik-titik radar pantai.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kemarahannya secara langsung dari Gedung Putih terkait insiden pemesongan komitmen ini. Trump menyebut serangan Iran sebagai sebuah "pelanggaran bodoh" terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang disepakati pada 17 Juni, di mana Iran seharusnya menjamin keselamatan navigasi bebas tanpa pungutan bagi kapal komersial selama masa transisi 60 hari.

Di pihak lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi adanya bentrokan bersenjata di wilayah udara dan laut mereka akibat respons militer AS. Melalui kantor berita semi-resmi ISNA, IRGC mengklaim bahwa satuan pertahanan udara dan angkatan laut mereka berhasil menghadapi serta menggagalkan sebagian besar serangan rudal dan pesawat tempur yang diluncurkan oleh Pentagon.

Sebelum terjadinya serangan balasan dari AS, Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) sempat merilis peringatan keras melalui media sosial terkait lalu lintas kapal di kawasan tersebut. PGSA menyatakan bahwa kapal apa pun yang melintasi rute di luar koridor yang telah ditetapkan secara sepihak oleh Iran tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan ataupun pertanggungan asuransi jika terjadi insiden.

Dampak buruk dari eskalasi ini juga langsung memukul misi kemanusiaan internasional yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi Maritim Internasional (IMO) terpaksa membekukan sementara operasi evakuasi massal terhadap sekitar 11.000 pelaut yang telah terjebak di dalam Teluk Persia sejak pecahnya konflik regional pada akhir Februari lalu.

Situasi di Selat Hormuz kini kembali berada dalam status siaga tinggi bagi seluruh pelaku industri logistik global. Penyerangan terhadap Ever Lovely membuktikan bahwa jalur pasokan komoditas dunia, mulai dari bahan bakar hingga pupuk, masih sangat rentan terhadap dinamika geopolitik bersenjata, meskipun jalur koridor perairan internasional secara hukum dilindungi oleh hukum laut dunia.


Kuba Menang Telak di Roma, Patahkan Upaya AS Hambat Bantuan Pangan PBB

Sebelumnya

Kuba Ajukan Syarat Dialog dengan AS

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia