post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

KITA sering dengar kata "keliru". Tapi jarang ada yang serius menelaahnya padahal kekeliruan punya spesies, habitat, dan cara berkembang biak sendiri. Di sinilah `Kelirumologi` masuk. Catatan terpenting : Kelirumologi BUKAN ilmu membuat kekeliruan. Ini ilmu `membedah kekeliruan`. Menelaah mengapa sesuatu yang keliru bisa dianggap benar oleh mayoritas.

Berikut taksonominya, versi observasi lapangan:

1. KELIRU KAPRAH - "Keliru yang Disepakati"
Ini jenis paling jinak tapi paling luas. Ciri: Mayoritas sudah terlanjur menganggap benar, padahal salah. Tidak ada niat jahat. Contoh: `Ulang tahun`. Yang diulang apanya? Tahunnya tetap 2026. Yang bertambah umur kita. Mestinya tambah umur`. Lainnya: `Logaritma` disamakan dengan `Algoritma`. `Grha` disamakan dengan `Graha`. Lama-lama KBBI bingung mengoreksi. Semua dimuat terbukti pada kata canggih.

2.  KELIRU MENS REA - "Keliru yang Disengaja"
Ciri: Pelakunya tahu itu keliru, tapi sengaja menjerumuskan. Ada niat.
Contoh: Iklan "Diskon 90%" tapi syaratnya 10 halaman. Politik "demi rakyat" tapi isinya proyek keluarga. Ini bukan bodoh. Ini licik. Niatnya: membenarkan yang keliru.

3. KELIRU DEMAGOGIS - "Salah yang Diteriakkan"
Ciri: Keliru, tapi diulang terus sampai jadi kebenaran. Modalnya: panggung dan pengeras suara. Contoh Sejarah: Menganggap kemanusiaan bisa ditimbang. Seperti yang dilakukan Hitler, Mao, atau retorika dehumanisasi ala Trump dan Netanyahu. "Mereka bukan manusia seutuhnya". Sekali diulang 1000x, orang waras jadi ikut ragu.

4. KELIRU NGEYEL - "Salah yang Kebal Koreksi"
Ciri: Keyakinan diri 100%. Data dibantah, ahli disalahkan. Prinsipnya: "Mustahil saya keliru". Contoh: Debat di kolom komentar atau jalur WAG. Dikasih jurnal tetap jawab "itu konspirasi".
Penyakit ini menular lewat ego.

5.KELIRU ALGORITMIS - "Keliru Sistemik"
Ciri: Bukan manusia yang salah. Mesinnya. Tapi kita yang percaya buta.
Contoh: Kamu cari "resep rendang", yang muncul "rendang kucing". Kamu ketik "konsumtifisme", autocorrect jadi "konsumerisme". Kita jadi menyamakan `konsumerisme` = gaya hidup boros, dengan `konsumtif` = sifat boros. Beda tipis, akibatnya panjang.

6.KELIRU ETIS - "Keliru yang Merasa Mulia"
Ciri: Mengatasnamakan kebaikan untuk membenarkan kekeliruan.
Contoh: "Demi keadilan kita langgar hukum". "Demi efisiensi kita kurangi sisi kemanusiaan". Ini paling berbahaya karena pelakunya somnanbolik.

Kesimpulan sementara : Kelirumologi bukan baku maka beku sehingga tidak boleh dikritik apalagi dikembangkan. Kelirumologi terbuka bagi siapa saja, termasuk Anda mencari dan menemukan jenis keliru yang lain-lainnya.

Tujuan Taksonomi Kelirumologi bukan menghakimi. Tapi memberi nama. Karena sesuatu yang bisa diberi nama, bisa dikenali. Sesuatu yang bisa dikenali, bisa dicegah. Dunia sekarang banjir informasi.

Algoritma mempercepat, demagog memperkeras, ngeyel mempertebal. Kalau kita tidak punya kacamata taksonomi, kita akan menelan semua sebagai "benar”.

Jangan lupa Kelirumologi dilahirkan lewat kekeliruan kalimat DI DALAM KALIMAT INI TERDAPAT TIGA KEKELILIRUAN yang sempat bikin heboh tsunami kacau balau kekeliruan yang sengaja saya buat tanpa niat jahat dibenarkan oleh redaksi KOMPAS sehingga makna kalimat yang saya sengaja saya buat itu total kehilangan makna kelirunya yang sebenarnya saya sengaja kelirukan.

Ingat: Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang mayoritas itu benar.

Kadang yang paling menyesatkan adalah kekeliruan yang halus, sopan, sistematis, dan tanpa disadari terlanjur dianggap benar oleh banyak orang`.

Tugas kita sederhana yaitu menjadi Kelirumolog di kepala sendiri. Sebelum share, sebelum percaya, sebelum ngeyel. Tanya dulu: "Ini termasuk spesies keliru yang mana ya?"  


Ikhlas Bukan Pasrah

Sebelumnya

Makna Ganda Kata Paus

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana