post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan melakukan penerbangan pertamanya menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One yang baru pada pekan depan. Pesawat berjenis Boeing 747-8 tersebut merupakan hadiah dari Pemerintah Qatar yang telah dimodifikasi secara menyeluruh.

Perombakan total dari ujung hidung hingga ekor jet ini dilakukan demi memenuhi standar keamanan dan kriteria super ketat yang diwajibkan untuk armada kepresidenan AS.

Penerbangan perdana ini rencananya akan membawa Presiden Trump menuju negara bagian North Dakota pada hari Rabu mendatang. Kunjungan kerja ini menandai digunakannya pesawat komersial raksasa tersebut sebagai armada utama sementara presiden. Di North Dakota, Trump dijadwalkan menghadiri upacara peresmian di Perpustakaan Kepresidenan Theodore Roosevelt yang terletak di kota tersebut, yang menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian kunjungan resminya.

Kunjungan ke North Dakota ini juga merupakan bagian dari beberapa perayaan menjelang peringatan hari kemerdekaan Amerika Serikat yang ke-250 pada tanggal 4 Juli nanti. Selain menghadiri peresmian perpustakaan kepresidenan, agenda Trump di wilayah tersebut mencakup kehadiran dalam acara pertunjukan kembang api megah di monumen nasional Mount Rushmore. Rangkaian acara ini sekaligus menjadi momen unjuk gigi bagi armada udara terbaru milik Gedung Putih tersebut.

Pesawat Boeing 747-8 baru ini dihadirkan untuk menggantikan posisi armada lama, Boeing 747-200, yang sudah uzur. Dengan transisi ini, Trump tercatat sebagai presiden terakhir yang terbang menggunakan model lama tersebut. Tugas terakhir dari jet ikonik lawas itu adalah mengantarkan sang presiden kembali ke AS dari KTT G7 di Prancis yang berlangsung pada pertengahan Juni lalu. Setelah momen tersebut, peran operasional utama resmi dialihkan.

Selain membawa presiden dalam kunjungan dinas, pesawat Boeing 747-8 eks-Qatar ini juga akan dilibatkan dalam parade udara (flyover) di atas Gedung Capitol, Washington D.C., tepat pada hari kemerdekaan 4 Juli. Dalam pertunjukan udara tersebut, Air Force One baru akan memimpin formasi barisan yang juga diikuti oleh berbagai jenis pesawat militer canggih milik Amerika Serikat. Langkah ini diambil sebagai simbol modernisasi armada udara strategis negara.

Presiden Trump sendiri telah memperkenalkan penampakan perdana pesawat ini kepada publik di Pangkalan Angkatan Udara Joint Base Andrews di Maryland. Salah satu aspek yang paling mencolok dari pesawat baru ini adalah corak (livery) desainnya yang menggunakan kombinasi warna merah, putih, dan biru tua yang modern, menggantikan warna biru muda klasik khas pesawat kepresidenan lama. Sisi ekor pesawat pun kini dihiasi dengan bendera Amerika Serikat yang gagah.

Menanggapi tampilan dan fasilitas jet baru ini, Trump memberikan pujian yang sangat tinggi bagi armada barunya. Melalui pernyataan resmi yang dikutip oleh surat kabar The Washington Times, ia menegaskan kebanggaannya terhadap kualitas pesawat tersebut. "Tidak ada yang bisa menandingi pesawat ini, dan begitulah seharusnya standar yang kita miliki untuk negara kita. Tidak ada satu pun pihak yang bisa mendekati kualitasnya," ujar Trump.

Di balik kemewahannya, jet Boeing 747-8 ini diberi kode operasional khusus sebagai VC-25B Bridge. Sesuai dengan namanya, pesawat ini akan mengemban peran sebagai "jembatan" atau armada sementara bagi perjalanan dinas resmi presiden, sembari menunggu penyelesaian seluruh armada jet baru yang dipesan langsung dari pabrikan Boeing. Pemerintah memperkirakan armada utama yang dipesan mandiri tersebut baru akan siap dioperasikan dalam waktu dua tahun ke depan.

Meskipun disambut baik secara fasilitas, keputusan menerima jet mewah dari Qatar ini sempat menuai kritik tajam di dalam negeri karena memicu kekhawatiran terkait isu etika dan keamanan nasional. Namun, Trump berulang kali membela kebijakan tersebut dengan argumen logis. Ia menyatakan bahwa menolak hadiah pesawat bernilai tinggi di tengah situasi keterlambatan pengiriman pesawat baru oleh pihak Boeing justru akan menjadi langkah yang sangat konyol.

Sebagai informasi, pesawat Boeing 747-8 ini awalnya dioperasikan oleh Qatar Amiri Flight, sebuah operator transportasi udara VVIP milik pemerintah Qatar yang melayani penerbangan piagam khusus tamu VIP. Pesawat berumur 14 tahun dengan mesin empat GenX-2B67 ini dibeli Qatar pada tahun 2012 sebelum akhirnya berpindah tangan ke militer AS dengan registrasi baru. Pemerintah AS sendiri diperkirakan menggelontorkan dana sekitar 1 miliar dolar AS demi melakukan peningkatan keamanan dan perbaikan fasilitas agar jet senilai 400 juta dolar AS tersebut siap menjadi "istana terbang" bagi Presiden Amerika Serikat.


Pilot Kejang-kejang, Pesawat Ini Mendarat Darurat

Sebelumnya

CEO Airlines For America Ungkap Ada Ratusan Insiden Nyaris Tabrakan di Udara AS Setiap Hari

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews