Maskapai penerbangan raksasa asal Amerika Serikat, American Airlines, resmi memperbarui kebijakan internalnya dengan melarang seluruh penumpang maupun staf membawa robot humanoid (berbentuk menyerupai manusia) dan robot hewan ke dalam penerbangan. Langkah tegas ini menyusul keputusan serupa yang telah diterapkan lebih awal oleh Southwest Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines, sehingga kini seluruh tiga maskapai terbesar di AS secara kompak menutup pintu bagi kehadiran robot-robot tersebut.
Kebijakan baru American Airlines berlaku secara mendadak dan mencakup larangan total, baik untuk dibawa ke dalam kabin pesawat sebagai barang bawaan maupun disimpan di dalam bagasi terdaftar (checked baggage). Maskapai yang berbasis di Fort Worth, Texas ini menegaskan bahwa larangan tetap berlaku tanpa pengecualian, bahkan jika pemilik robot telah membeli tiket kursi terpisah khusus untuk menempatkan perangkat mesin tersebut di samping mereka.
Dalam aturan resminya, American Airlines memperjelas bahwa jenis robot yang dilarang mencakup seluruh perangkat mekanis yang dirancang menyerupai atau meniru penampilan, gerakan, serta perilaku manusia maupun hewan. Maskapai juga secara tegas menutup celah hukum dengan menyatakan bahwa robot-robot pintar ini tidak dapat dikategorikan atau diklaim sebagai perangkat pendukung emosional (emotional support devices) untuk memicu pengecualian izin terbang.
Alasan utama di balik pemberlakuan aturan ketat ini bermula dari ancaman keselamatan penerbangan, khususnya risiko bahaya kebakaran dari baterai lithium-ion berkapasitas tinggi yang melengkapi robot-robot tersebut. Robot humanoid komersial pada umumnya ditenagai oleh paket baterai berkapasitas antara 800 Watt-hour (Wh) hingga 2.500 Wh. Angka ini jauh melebihi batas aman yang diperbolehkan di dalam transportasi udara sipil.
Potensi bahaya dari baterai raksasa tersebut sangat fatal jika mengalami kegagalan termal (thermal runaway) yang memicu ledakan spontan, asap tebal, api, atau panas ekstrem di dalam ruang kabin. Batas aman yang ditetapkan oleh Badan Penerbangan Federal AS (FAA) untuk baterai lithium-ion pada perangkat pribadi di kabin hanyalah di bawah 100 Wh, sedangkan baterai berkapasitas di atas 160 Wh dilarang keras masuk ke dalam penerbangan komersial.
Secara teknis, para awak kabin telah dilatih untuk menangani insiden baterai kecil—seperti telepon seluler, laptop, atau rokok elektronik yang mengeluarkan asap—menggunakan kantong isolasi termal khusus (thermal containment bags). Namun, jika baterai berukuran masif milik robot humanoid terbakar, dimensi fisiknya yang terlalu besar tidak akan muat ke dalam kantong darurat tersebut, sehingga menciptakan risiko logistik yang sangat berbahaya saat pesawat berada di udara.
Selain potensi kebakaran, FAA baru-baru ini melaporkan lonjakan insiden bahaya baterai lithium di dunia penerbangan. Antara 3 Maret hingga 16 Juli saja, terdapat lebih dari 756 insiden terverifikasi yang melibatkan asap, api, atau panas ekstrem dari perangkat elektronik konsumen di penerbangan AS. Membiarkan robot dengan kapasitas baterai ribuan Watt-hour masuk ke pesawat dinilai akan memperburuk risiko keselamatan secara signifikan.
Faktor kenyamanan dan psikologis penumpang lain juga menjadi pertimbangan penting bagi otoritas penerbangan dan maskapai. Pergerakan robot yang tidak terduga, potensi tersangkut di kompartemen bagasi kabin (overhead bin), hingga gangguan visual dari bentuk humanoid dapat memicu kecemasan hebat, ketegangan, atau kepanikan bagi penumpang yang memiliki rasa takut terbang (nervous flyers).
Tren pelarangan ini dipicu oleh insiden yang viral beberapa waktu lalu, ketika Aaron Mehdizadeh, pemilik The Robot Studio di Dallas, membawa robot humanoid miliknya bernama "Stewie" dalam penerbangan Southwest Airlines dari Las Vegas ke Dallas. Mehdizadeh sengaja membelikan kursi khusus untuk Stewie, yang kemudian memicu sorotan luas di media sosial dan memaksa Southwest Airlines langsung merevisi aturan keselamatan mereka secara mendadak.
Meskipun saat ini industri penerbangan bertindak cepat melarang robot humanoid pribadi demi alasan keselamatan baterai, para pengamat mencatat dinamika menarik di masa depan. Di satu sisi maskapai melarang penggunaan robot oleh penumpang umum, namun di sisi lain industri penerbangan juga mulai menjajaki teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotika resmi untuk membantu mobilitas penumpang disabilitas serta layanan medis di bandara.



KOMENTAR ANDA