Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DULU di Pisa, Italia, ada anak orang kaya bernama Leonardo. Orang memanggilnya Fibonacci, artinya anaknya si Bonacci. Tahun seribu dua ratusan, ia pulang dari keliling Afrika Utara dan ia bingung kenapa orang Italia masih menghitung pakai angka Romawi yang ribet.
Lalu ia menulis buku Liber Abaci. Di dalam buku itu ada soal iseng tentang kelinci.
Ceritanya begini.
Kamu punya sepasang kelinci jantan dan betina. Tiap bulan, sepasang kelinci itu melahirkan sepasang anak baru, satu jantan satu betina. Anak itu butuh sebulan untuk jadi dewasa, dan setelah dewasa ia juga akan melahirkan sepasang tiap bulan. Kelincinya tidak mati-mati. Pertanyaannya, setelah setahun, jadi berapa pasang kelincimu?
Fibonacci menghitung. Bulan pertama satu pasang. Bulan kedua tetap satu pasang karena anaknya belum dewasa. Bulan ketiga jadi dua pasang. Bulan keempat jadi tiga pasang. Bulan kelima jadi lima pasang. Terus begitu.
Kalau ditulis, hasilnya jadi begini: mulai dari kosong lalu satu, lalu satu lagi, lalu dua, tiga, lima, delapan, tiga belas, dua puluh satu, dan seterusnya. Aturannya cuma satu dan sangat malas: angka berikutnya selalu hasil dari menjumlahkan dua angka tepat di belakangnya. Itu saja. Tidak ada rumus sulap lain.
Kenapa deret malas ini jadi terkenal di seluruh dunia?
Karena alam ternyata malas juga dan memakai aturan yang sama.
Coba lihat bunga matahari. Biji di tengahnya tidak berbaris rapi. Ia berputar. Jumlah putaran spiral ke kiri dan ke kanan hampir selalu angka dari deret kelinci tadi. Coba lihat cangkang keong, tanduk domba, atau cara daun tumbuh di batang. Semua menghindari tumpuk-tumpukan. Cara paling adil agar tiap daun dapat matahari tanpa menutupi daun di bawahnya ternyata adalah dengan jarak putar yang mengikuti deret itu. Alam tidak menghitung, tapi alam memilih cara yang paling hemat tempat.
Lalu apa hubungannya dengan jajak pendapat dan statistik :
Pertama, soal judi dan kemungkinan. Ada orang yang kalau kalah taruhan, ia menaikkan taruhannya mengikuti deret kelinci itu. Kalah sekali naik sedikit, kalah lagi naik sedikit lagi. Katanya lebih aman daripada langsung menggandakan taruhan. Memang tidak membuat kamu pasti menang, peluang kalah tetap ada, tapi jatuhnya tidak secepat kalau kamu nekat menggandakan terus.
Kedua, soal data bohong. Kalau kamu punya data asli dari alam, seperti jumlah penduduk desa, harga di pasar, atau jumlah suara pemilu yang jujur, angka-angka itu punya pola digit yang mirip dengan pola Fibonacci. Kalau ada orang yang mengarang data, misalnya mengarang hasil survei agar jagoannya terlihat menang, pola itu biasanya rusak. Jadi pemeriksa bisa curiga hanya dengan melihat polanya, tanpa harus cek satu per satu.
Ketiga, soal survei politik. Suara pemilih itu tidak naik lurus seperti tangga. Ia naik turun seperti ombak. Pengamat pasar saham sudah lama tahu, kalau ombak itu naik tinggi lalu turun, ia biasanya akan tertahan sebentar di titik-titik tertentu yang jaraknya mengikuti perbandingan emas dari deret kelinci tadi.
Pengamat politik sekarang memakai trik yang sama. Jika elektabilitas naik banyak, lalu turun, turunnya biasanya berhenti di sekitar sepertiga atau dua pertiga dari kenaikan tadi. Bukan karena mistik, tapi karena psikologi massa itu sama di mana-mana. Orang cenderung ragu dan ambil keputusan di titik yang sama.
Sebenarnya inti deret Fibonacci itu cuma ini: apa yang tumbuh hari ini adalah penjumlahan dari apa yang tumbuh kemarin dan kemarin lusa. Seperti gosip, seperti utang, seperti suara di pemilu. Tidak ajaib, tapi apabolehbuat memang begitu cara dunia tumbuh.
Naskah sederhana ini terkesan bingung? Anda benar!
Terus terang saya memang masih gagal paham makna sebenarnya apa yang disebut sebagai matematika. Termasuk topologi, akar minus satu, hipotesis Riemann, konjektur Hodge, eksistensi Navier-Stokes, teori probabilitas dan rumus deret Fibonacci.



KOMENTAR ANDA