Hasil pemilihan paruh waktu (midterm) di Amerika Serikat memicu gelombang kekhawatiran yang mendalam di Israel terkait masa depan hubungan aliansi transatlantik kedua negara yang telah terjalin selama beberapa dekade.
Surat kabar terbesar di Israel, Yedioth Ahronoth, menyebut kekalahan besar Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump ini sebagai sebuah perubahan besar lintas generasi bagi Israel, di mana pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai telah menuai badai dari apa yang mereka tabur.
Para pemimpin oposisi Israel langsung melontarkan kritik tajam kepada Netanyahu, dengan menyatakan bahwa hasil pemilu AS tersebut membuktikan betapa sang perdana menteri telah menjadi sosok yang toksik di kalangan politisi dari Partai Demokrat maupun Republik.
Isu hubungan dengan Israel memang menjadi salah satu topik kampanye yang hangat di berbagai wilayah di AS, di mana banyak kandidat dari Partai Demokrat melontarkan kritik tajam terhadap tindakan militer Israel di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Presiden AS sendiri secara terbuka menyalahkan perang di Iran—yang secara luas dipandang didorong oleh pemimpin Israel—sebagai penyebab utama kekalahan partai pendukungnya dalam pemilu paruh waktu tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance juga secara blak-blakan menyoroti hubungan dengan Israel sebagai salah satu alasan utama para pemilih meninggalkan partainya, menegaskan bahwa hubungan tersebut kini dipandang sebagai masalah politik di mata sekutu kunci mereka.
Situasi ini semakin diperparah dengan pernyataan mengejutkan dari Trump dalam sebuah wawancara televisi bahwa ia berencana menghentikan bantuan militer senilai 3,8 miliar dolar kepada Israel dua tahun lebih cepat dari jadwal, yang langsung mengejutkan para pejabat di Yerusalem.
Meskipun bantuan militer tersebut bernilai kurang dari 10 persen anggaran pertahanan tahunan Israel, para analis pertahanan memperingatkan bahwa langkah ini menandai era baru yang lebih rumit terkait pendanaan masa depan, penjualan senjata, dan ketergantungan suku cadang militer.
Krisis politik luar negeri ini datang pada waktu yang sangat sensitif bagi Israel, menyusul hasil pemilu parlemen baru-baru ini yang tidak menghasilkan mayoritas jelas bagi kubu petahana maupun oposisi, sehingga proses pembentukan koalisi pemerintahan masih berjalan alot.
Di tengah berbagai spekulasi dan perdebatan sengit mengenai arah baru hubungan kedua negara, sikap bungkam dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru menjadi sorotan utama dan dinilai paling mencerminkan situasi pelik yang sedang dihadapi Israel saat ini.



KOMENTAR ANDA